Amerika tekan Palestina tunda tingkatkan status di PBB
Negara Adidaya itu meminta mereka menunda niat itu setelah pemilihan presiden Amerika digelar November mendatang.
Pemerintah Amerika Serikat menekan pemimpin Palestina menunda niat meningkatkan status keanggotaan di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) setelah pemilihan presiden Negeri Paman Sam berlangsung November mendatang.
Pernyataan itu disampaikan oleh anggota Komite Eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) Saleh Raafat Rabu (8/8) dalam wawancara dengan stasiun radio Voice of Palestine. Menurut dia beberapa negara Arab juga mendesak hal serupa. "Rakyat Palestina tidak memiliki pilihan lain selain melancarkan perlawanan bersenjata seiring dengan langkah diplomasi di organisasi internasional, terutama di Perserikatan Bangsa-Bangsa," kata Raafat seperti dilansir dari stasiun televisi Al Arabiya, Kamis (9/8).
Raafat berkeras Presiden Palestina Mahmud Abbas tetap mengajukan permohonan peningkatan status keanggotaan PBB akhir September mendatang, meski mendapat tekanan dari Amerika Serikat dan beberapa negara Arab.
Sabtu pekan lalu, Menteri Luar Negeri Palestina Riyad al-Malki mengatakan Presiden Mahmud Abbas berencana mengajukan peningkatan status keanggotaan negara itu di depan forum Majelis Sidang Umum PBB pada 27 September.
Tahun lalu, Palestina diterima di PBB dengan status entitas pengamat. Kini mereka mengincar status negara pengamat bukan angota. Jika hal itu tercapai, maka mereka bisa menjegal ambisi Israel mengakui Yerusalem sebagai ibu kota negara.
Selain itu, jika usul peningkatan status itu diterima, maka menjadi bentuk pengakuan tidak langsung atas kedaulatan Palestina atas Tepi Barat, Yerusalem Timur, dan Jalur Gaza. Selain itu, mereka juga berhak bergabung dalam beberapa badan PBB, salah satunya Mahkamah Internasional. Ini adalah keuntungan karena mereka bisa mengajukan permohonan pengusutan terhadap pelanggaran hak asasi manusia berat dilakukan Negeri Zionis selama bertahun-tahun.
Sejak 2010, pembicaraan damai antara Israel dan Palestina dan negosiasi bentuk dua negara terhenti lantaran sikap Negeri Zionis itu cuek terus membangun pemukiman Yahudi dan tembok pemisah di Tepi Barat.
Israel berkeras mempertahankan Yerusalem Timur sebagai ibu kota bersandar pada kitab suci mereka dan tinjauan sejarah.
(mdk/fas)