Strategi AP II siapkan Bandara Cengkareng jadi smart airport
Merdeka.com - PT Angkasa Pura II (Persero) memasuki usia 33 tahun di Agustus 2017. Angka tersebut merupakan perjalanan yang cukup panjang dan sudah banyak yang dilakukan oleh AP II dalam membangun dan menyediakan pelayanan bandara-bandara di Indonesia.
"Tapi masih banyak yang belum dilakukan dan usia 33 tahun ini juga buat kita adalah untuk merefleksi kembali apa saja yang sedang perlu dilakukan dalam konteks pembangunan infrastrukrur dan pengembangan kegiatan usaha AP II," kata Direktur Utama AP II, Muhammad Awaluddin, di kantornya, Jumat (11/8).
Tahun ini, lanjutnya, merupakan waktu yang tepat untuk melakukan inovasi-inovasi baru terutama dalam kebijakan pembangunan infrastruktur, salah satunya adalah dengan membangun Smart Airport.
Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang merupakan bandara tersibuk di Indonesia akan dijadikan pijakan pertama sebagai Smart Airport. Saat ini, status bandara tersebut adalah bintang tiga. Untuk meraih bintang lima, sebuah bandara harus memiliki kereta dan hotel yang terintegrasi.
Bandara dengan jumlah penumpang per tahun berkisar antara 50–60 juta penumpang tersebut kini tengah melakukan berbagai pengembangan seperti Skytrain, kereta bandara, integrated building, hotel, Terminal 3, cargo village, serta revitalisasi Terminal 1 dan Terminal 2.
"60 persen kontribusi kita di situ (Bandara Soekarno Hatta) sehingga asumsi kita sederhana saja, Bandara Soekarno Hatta selesai, 12 bandara yang lain pasti selesai," tegasnya.
Selain meningkatkan infrastruktur fisik, AP II juga akan memanjakan dan meningkatkan pengalaman pelanggan atau customer experience saat berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta dengan menjadikannya sebagai bandara yang bebas ribet dan bebas stres. Artinya, penumpang kini bisa memanfaatkan teknologi terkini untuk mengetahui informasi terkini terkait bandara misalnya melalui aplikasi bernama Indonesia Airports yang dapat diunduh dalam ponsel pintarnya. Selain lebih simpel, hal tersebut juga bisa membuat waktu menjadi lebih efisien.
"Karena sekarang masih banyak orang datang ke bandara merasa tidak nyaman, kemudian pelayanannya lambat, kemudian banyak birokrasi dan juga ada hal-hal yang dianggap kurang cepat. Nah, kita mencoba membenahi itu," imbuhnya.
Selain itu, dalam konteks Smart Airport ini bandara akan dimaksimalkan peluang bisnisnya dengan membangun sebuah e-commerce dengan sistem pembayaran non tunai.
"Kita bisa mencari banyak peluang untuk mendapatkan pengembangan usaha kita di bandara. Salah satu yang sedang kami kembangkan adalah e-commerce dan airport electronic payment system. Kita akan masuk ke portofolio-portofolio yang memberikan nilai tambah dalam konteks penyediaan layanan di bandara. Disamping meningkatkan layanan juga menambah peluang usaha baru," pungkasnya.
(mdk/sau)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya