Rupiah dekati 10.000 per USD, Gita pede neraca perdagangan aman

Reporter : Ardyan Mohamad | Selasa, 11 Juni 2013 11:27




Rupiah dekati 10.000 per USD, Gita pede neraca perdagangan aman
dollar. ©2012 Merdeka.com/arie basuki

Merdeka.com - Menteri Perdagangan Gita Wirjawan melihat, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap USD memang cukup mengkhawatirkan. Psikologi investor dan pengusaha bisa terganggu. Namun, dia yakin dampaknya terhadap neraca perdagangan akan minim.

Dari analisis Kemendag, penyebab utama melemahnya rupiah adalah penguatan mata uang mitra dagang utama. Semisal Yen, Jepang yang menguat cukup hebat sehingga menekan rupiah. Meski demikian, ada beberapa komoditas ekspor yang malah akan untung dengan penguatan Yen.

"Saya kira (pelemahan) ini ada imbasan dari negara-negara tetangga, seperti Jepang kita liat depresiasi Yen dalam 2 bulan belakangan tentunya akan bisa memperkuat ekspor kita, untuk beberapa barang dan jasa yang bisa menikmati dan menunggangi depresiasi ini," kata Gita usai meresmikan instalasi pemanasan baja PT Krakatau Steel Posco, Cilegon, Banten, Selasa (11/6).

Agar neraca tidak tergerus ke arah yang semakin negatif, Gita mengaku bergantung pada kebijakan Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar. Jika BI mati-matian menjaga agar rupiah tidak melemah melampaui batas psikologis Rp 10.000, Mendag berjanji akan menjaga harga bahan pangan supaya tidak fluktuatif yang bisa membuat keadaan makin runyam.

"Saya rasa ke depannya yang harus dipentingkan stabilitas nilai tukar, untuk sementara kalau bisa dijaga stabilitasnya di samping menjaga stabilitas produk pangan lainnya itu akan bagus," ungkapnya.

Kemarin, nilai tukar rupiah kembali melemah dan sudah di ambang Rp 10.000 per USD akibat beberapa berita negatif. Antara lain turunnya nilai cadangan devisa dalam 5 bulan terakhir sebanyak USD 7,78 miliar karena dipergunakan untuk keperluan operasi moneter. Tarik ulur kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi juga jadi salah satu penyebab pelemahan rupiah.

Bahkan nilai tukar rupiah di pasar non deliverable forward (NDF) atau pasar off shore telah menyentuh angka Rp 10.300 per USD. Namun, BI menjamin informasi itu sesat.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Difi Ahmad Johansyah mengatakan nilai tukar di pasar NDF rawan spekulasi. BI melarang penggunaan NDF di pasar valuta asing domestik.

"Itu yang diacu kan NDF, itu tidak riil. Kalau lihat rupiah itu kan Jisdor (Jakarta Interbank Spot Dollar Rate), nilai spot. Yang dari BI kan Jisdor," kata Difi kemarin.

Nilai tukar rupiah yang tercantum di Jisdor sendiri per kemarin berada di level Rp 9.806 per USD.

[noe]


JANGAN LEWATKAN BERITA
Follow tag merdeka.com akan membantu untuk mendapatkan berita yang sesuai preferensi Anda. Misal Anda suka berita Anas Urbaningrum, masukkan email dan Anda hanya akan menerima berita seputar Anas Urbaningrum.

Let's be smart, read the news in a new way.
Tutup
Kirim ke teman Kirim copy ke email saya
Kirim ke

Free Content

  • URL Blog

  • Contoh : merdeka.wordpress.com

  • Email

  • Password


saya setuju menggunakan konten merdeka.com dan mengetahui bahwa merdeka.com tidak menyimpan informasi login saya







Komentar Anda


Be Smart, Read More
Back to the top

Today #mTAG SPOTLIGHT iREPORTER TOP 10 NEWS
LATEST UPDATE
  • 4 Tawaran skema kenaikan harga BBM buat Jokowi
  • Tanaman di dalam kantor dapat tingkatkan produktivitas kerja
  • Pamen narkoba tulis kisah Islami dan sindir polisi di blog
  • Fakta mahasiswa terpengaruh video porno cabuli 8 bocah
  • 10 Hukuman berat yang pernah diterima pesepakbola top dunia
  • Kontroversial, 5 Artis yang 'diusir' dari negara lain
  • Kekeringan sampai suhu panas ekstrem ancam manusia di tahun 2050
  • Geger ospek 'Tuhan Membusuk' di UIN Sunan Ampel
  • Koalisi Merah Putih rayu SBY agar Demokrat tak gabung Jokowi
  • Berawal dari bullying, berat badan Aurel turun 5 kg
  • SHOW MORE