Pemerintah tugaskan Pertamina ekspansi ke Papua Nugini
Merdeka.com - Dalam rangka implementasi serta penguatan kerja antara Indonesia dengan Papua Nugini (PNG), Kamar Dagang (Kadin) Indonesia menerima 100 orang delegasi bisnis PNG guna mengembangkan hubungan dagang antara kedua negara.
Perdana Menteri PNG, Peter Charles Paire mengatakan delegasi bisnis dari PNG ini menindaklanjuti kunjungan pada Mei lalu. Tujuannya tak lain mempromosikan dan meningkatkan kemitraan kolaboratif dalam perdagangan dan industri antara kedua negara.
"Salah satunya dalam kerja sama ini untuk pembukaan jalur penerbangan kerjasama Air Nugini dengan Garuda Indonesia dari Jakarta, Port Moresby dan Denpasar," ujarnya saat acara Kadin 'Breakfast meeting Menteri Perindustrian, Ketua Kadin dengan delegasi yang dipimpin PM Papua Nugini' di Grand Hyatt, Jakarta, Selasa (18/6).
Kerja sama ini juga meningkatkan supply listrik dan pembangkit listrik di Jayapura ke Vanimo dan Aitape, kemitraan pengembangan eksplorasi pertambangan dan industri pertanian di daerah sekitar perbatasan RI-PNG.
Selain itu juga pembangunan jalan darat dari utara ke selatan di daerah perbatasan PNG serta menjadikan peluang kerja sama investasi lintas batas di bidang telekomunikasi, energi dan pariwisata serta sektor lain yang menjadi kepentingan kedua negara.
"Dengan adanya kebutuhan untuk mengembangkan interaksi bisnis diantara kedua negara sehingga dapat meningkatkan kemitraan kolaboratif dalam perdagangan dan industri kedua negara," jelas dia.
Diharapkan dengan ditandatanganinya Nota Kesepahaman (MoU) kedua negara dapat bertukar data dan informasi bisnis secara berkala sehingga meningkatkan perdagangan dan investasi. MoU ini juga memungkinkan fasilitasi dan memberikan bantuan untuk pelaksanaan misi perdagangan, pameran dan kegiatan bisnis lainnya.
"MoU ini berlaku selama tiga tahun," ucapnya.
Senada dengan Peter, Menteri Perindustrian, MS Hidayat menambahkan PNG memang tengah berkembang. Hal ini terlihat dari kerjasama dengan salah satu perusahaan minyak Exxon dalam bidang minyak dan gas. Adapun nilai investasinya mencapai USD 15 miliar.
"Itu sudah eksplorasi sejak 10 tahun yang lalu. Mulai tahun depan dia berproduksi. Jadi meskipun penduduknya baru 6 juta, Papua Nugini ini punya income per kapita 3 ribu dolar. Jadi 5 tahu lagi jangan-jangan catch up Indonesia," jelas dia.
Hidayat mengatakan, Indonesia memang sudah lama ingin bekerja sama dengan PNG lantaran negara tersebut mempunyai program hilirisasi.
"Kita mau investasi. Pertamina investasi untuk eksplorasi oil and gas. Energi lah. Namun, pihak sana menanyakan kepada saya soal program hilirisasi. Mereka juga mau melakukan untuk kakao, karet, dan CPO di negaranya. Jadi kita mempunyai peluang. Investasinya untuk oil and gas, petrokimia dan perikanan," ungkapnya.
Sementara, terkait kerja sama komprehensif, Hidayat mengatakan kerja sama bilateral akan berbentuk penanaman CPO. "Saya lagi mikirin border line dia yang 1000 kilo itu. Kita tanaman CPO bareng-bareng saja," tutup dia. (mdk/bmo)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya