Pemerintah jadikan 33 kabupaten sebagai sentra rumput laut

Reporter : Ardyan Mohamad | Senin, 15 April 2013 12:45




Pemerintah jadikan 33 kabupaten sebagai sentra rumput laut
rumput laut. shutterstock

Merdeka.com - Kementerian Pengembangan Daerah Tertinggal (PDT) mengaku siap menggandeng investor swasta dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) buat menciptakan sentra baru budidaya rumput laut. Dari pemetaan awal, ada 33 kabupaten tertinggal di kawasan timur Indonesia yang berpotensi menjadi wilayah pengembangan bahan pembuat makanan agar-agar dan juga kosmetik ini.

Kabid Produksi dan Pemasaran Deputi Bidang Pembinaan Ekonomi Daerah Kementerian PDT, Teuku Chairul, menyatakan daerah-daerah ini kesemuanya berada di sekitar wilayah pesisir. Regulasi untuk menawarkan investasi budidaya hasil laut tersebut akan segera dikeluarkan tahun ini.

"Salah satu strategi melakukan percepatan daerah tertinggal kita pilih industri rumput laut. Kami pilih daerah pesisir karena banyak kabupaten di sana daerah miskin. Kami membuat regulasi dengan swasta atau BUMN, ada 33 kabupaten, misalnya di NTB, NTT, Maluku, Sulawesi Tenggara, itu kita regulasikan untuk dikembangkan rumput lautnya," kata Chairul saat ditemui di Menara Kadin, Jakarta, Senin (15/4).

Pemerintah memilih komoditas rumput laut lantaran waktu produksinya cepat dan mendatangkan imbal hasil yang menguntungkan. Rumput laut dengan teknik budidaya paling tradisional bisa dipanen dalam waktu satu setengah bulan.

"Rumput laut ini 45 hari sudah panen, alangkah baiknya jika masyarakat kawasan tertinggal kita beri dukungan. Dari 33 provinsi yang kita buatkan MoU-nya dengan pelaku usaha itu, produksi rumput lautnya setara 7 provinsi sentra," paparnya.

Ketua Asosiasi Pengusaha Rumput Laut Indonesia (ALRI), Safari Aziz, mendukung rencana pemerintah itu. Dia membenarkan bahwa investasi ke sektor budidaya rumput laut sebetulnya tidak terlalu mahal. Sehingga warga miskin di pesisir bisa mendapat keuntungan relatif cepat dibanding mengembangkan komoditas lain.

"Investasi awal rumput laut tidak macam-macam, teknologi sederhana, hanya butuh lahan dan tali. Dan tidak perlu modal besar. Lalu pemeliharaan tidak perlu pupuk, yang penting petani memilih lokasi tepat. Kira-kira 5-6 bulan bisa balik modal lah," jelasnya.

Berdasarkan pantauan ALRI, masa produksi rumput laut paling ideal ialah Juni hingga Oktober. Saat itu, matahari di Indonesia tak terlalu terik sehingga proses penjemuran rumput laut bisa maksimal. Pasalnya, harga rumput laut basah dan kering berbeda jauh. Jika sudah dijemur, harga mencapai Rp 10.000 hingga Rp 15.000 per kilogram.

Produksi rumput laut nasional pada 2012 159.000 ton, ALRI berharap jumlah itu bisa meningkat jadi 169.000 ton akhir tahun nanti. Produksi bahan rumput laut ini 80 persen melayani permintaan ekspor, paling banyak ke China, disusul Eropa dan Amerika.

[bmo]

KUMPULAN BERITA
# BUMN

JANGAN LEWATKAN BERITA
Follow tag merdeka.com akan membantu untuk mendapatkan berita yang sesuai preferensi Anda. Misal Anda suka berita Anas Urbaningrum, masukkan email dan Anda hanya akan menerima berita seputar Anas Urbaningrum.

Let's be smart, read the news in a new way.
Tutup
Kirim ke teman Kirim copy ke email saya
Kirim ke

Free Content

  • URL Blog

  • Contoh : merdeka.wordpress.com

  • Email

  • Password


saya setuju menggunakan konten merdeka.com dan mengetahui bahwa merdeka.com tidak menyimpan informasi login saya







Komentar Anda


Be Smart, Read More
Back to the top

Today #mTAG iREPORTER
LATEST UPDATE
  • Deteksi penyakit kulit eksim hanya dengan selfie
  • Vettel: Red Bull tahan kepergian saya ke Ferrari
  • Para calon ketum Golkar desak Munas paling lambat Januari 2015
  • Terancam dipecat Ahok, Kadis PU DKI berjanji kerja keras
  • PDIP minta menteri tak ke DPR, pimpinan enggan tanggapi serius
  • Isuzu andalkan MU-X di POS 2014
  • Pidato di depan dewan PBB, ini perasaan Emma Watson
  • Di kafe ini, harga kopi tergantung tingkat kesopanan pelanggan
  • BlackBerry Passport akhirnya tersedia di Indonesia!
  • Prabowo anggap Muktamar PPP kubu SDA yang sah
  • SHOW MORE