Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Mobil murah tapi bikin gerah

Mobil murah tapi bikin gerah Astra Agya dan Ayla. ©2012 Merdeka.com/arie basuki

Merdeka.com - Pasar otomotif dalam negeri semakin ramai dengan kehadiran mobil murah yang membidik masyarakat kelas menengah. Pesatnya pertumbuhan masyarakat kelompok kelas menengah, merupakan peluang bagi produsen otomotif.

Salah satunya yang dilakukan oleh Astra International Ltd yang meluncurkan dua mobil murah dan ramah lingkungan (Low Cost and Green Car/LCGC) yang diproduksi oleh Daihatsu dan Toyota. Astra secara resmi memperkenalkan Varian Agya yang memakai bendera Toyota, dan Ayla yang menjadi produk Daihatsu.

Mobil ini memiliki tingkat konsumsi bahan bakar 30 kilometer per liter. Sumber merdeka.com menyebutkan bahwa Daihatsu Ayla, city car murah kolaborasi Toyota-Daihatsu memiliki tiga pilihan tipe. Mobil yang dirakit PT Astra Daihatsu Motor ini akan ada versi termurah, menengah, dan yang termahal dengan harga mulai Rp 75 juta - Rp 100 juta.

Adapun varian terbagi tiga dengan kode D, M dan X. Varian D sebagai yang termurah dilepas dengan harga Rp 75 juta tanpa AC dan sistem hiburan audio. Varian M tersedia dalam pilihan transmisi manual dan otomatis dengan perbedaan harga Rp 10 juta (M/T Rp 80 juta, sedangkan A/T Rp 90 juta).

Varian X sebagai yang termahal juga dipasarkan dengan pilihan dua transmisi. Untuk versi manual dilepas dengan harga Rp 88 juta sedangkan untuk versi otomatis dibanderol harga Rp 100 juta.

Sayangnya, mobil murah ini tidak dilengkapi pendingin atau air conditioner (AC). Pengendara mobil terpaksa menahan rasa panas jika berada di dalamnya.

Wakil Ketua Gaikindo Yongkie Sugiarto mengatakan, meskipun gerah karena tidak dilengkapi AC, pihaknya mengapresiasi strategi yang diterapkan pada mobil murah. Bahkan, Yongkie tidak menyebut bahwa itu sebuah kekurangan.

"Tidak pakai AC itu trik marketing saja, supaya bisa menekan harga dan bisa menarik orang membeli. Nantinya kan bisa digunakan AC tambahan. Yang penting harga ditekan semurah mungkin," jelas Yongkie kepada merdeka.com, Rabu (19/9).

Dia melihat, kehadiran mobil murah semakin menambah sengit persaingan bisnis otomotif. Terutama jika melihat bidikan dari mobil murah yakni kelompok kelas menengah yang selama ini mendominasi kepemilikan kendaraan roda dua.

Yongkie menyebutkan, terbuka kemungkinan pengendara roda dua beralih menggunakan mobil murah. Alasannya jelas, harga murah.

"Ada 30 juta pengendara motor yang bisa beralih ke mobil murah karena harganya di bawah Rp 100 juta. Ini semacam menjawab kebutuhan," jelasnya.

Peluang berkembangnya mobil murah di Indonesia masih terbuka lebar. Terutama jika ada dukungan nyata dari pemerintah, berupa aturan hukum dan pemberian insentif pajak yang bisa mendorong produksi mobil murah.

Mobil murah bisa menjadi primadona baru di Indonesia. Kehadirannya tidak akan kalah dari mobil-mobil mewah. "Masih ada peluang bersaing di pasar dalam negeri," tegasnya. (mdk/noe)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP