Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Lonjakan defisit dalam RAPBN-P dipicu anggaran subsidi BBM

Lonjakan defisit dalam RAPBN-P dipicu anggaran subsidi BBM bbm. mertdeka.com/Arie basuki

Merdeka.com - Pemerintah mematok defisit anggaran dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (RAPBNP) 2013 sebesar 2,48 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Sebelumnya defisit anggaran ditetapkan sebesar 1,65 persen di APBN.

Defisit anggaran tersebut dikarenakan pemerintah akan menambah utang melalui Surat Berharga Negara. Penambahan utang ini dikarenakan melonjaknya anggaran subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM).

Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan pendapatan atau penerimaan negara dalam RAPBNP 2013 ditargetkan sebesar Rp 1.488,3 triliun. Sementara itu, belanja negara telah mencapai Rp 1.722 triliun sehingga defisit anggaran mencapai Rp 233,7 triliun.

Belanja negara tersebut termasuk adanya lonjakan subsidi energi dari Rp 274,7 menjadi Rp 309,9 triliun. "Subsidi energi meningkat yang terdiri dari BBM sebesar Rp 209,9 triliun dan listrik Rp 100 triliun," ujar dia dalam rapat kerja dengan Badan Anggaran di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (22/5).

Selain itu, pembiayaan lain untuk menutup defisit sebesar 2,48 persen ialah dari pemotongan anggaran Kementerian/Lembaga (K/L) sebesar Rp 24,6 triliun. Chatib juga mengatakan penerimaan pajak akan mengalami revisi sebesar Rp 41,3 triliun.

Seperti diketahui, utang pemerintah telah mencapai Rp 2.000 triliun, namun utang tersebut tidak membuat panik pemerintah. Pasalnya, utang tersebut mempunyai jatuh tempo yang lama dan rata-rata di atas delapan tahun.

Direktur Strategis dan Portofolio Direktorat Jenderal Pengelolaan Kemenkeu Schneider Siahaan mengatakan utang tersebut masih terbilang aman karena mempunyai jatuh tempo yang panjang. (mdk/bmo)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP