Kelangkaan solar bersubsidi karena diselewengkan pelaku industri

Reporter : Ardyan Mohamad | Minggu, 28 April 2013 17:30




Kelangkaan solar bersubsidi karena diselewengkan pelaku industri
Solar habis di SPBU. ©2013 Merdeka.com

Merdeka.com - Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) yang menaungi pengusaha SPBU se-Indonesia mengakui ada stasiun pengisian nakal menjual solar bersubsidi kepada pelaku industri. Idealnya solar untuk pabrik atau jenis usaha lainnya memakai solar harga keekonomian. Itu sebabnya, beberapa pekan terakhir terjadi kelangkaan solar.

Ketua Umum Hiswana Migas Eri Purnomohadi mengatakan di beberapa daerah, muncul fenomena tangki truk dimodifikasi. Sehingga solar yang diisi harga bersubsidi bisa disimpan untuk disalurkan ke industri.

"Sekarang ada tangki modifikasi, itu kebanyakan ngisi solar. Kalau solar, banyak juga SPBU menjual tidak wajar, truk itu ngisi 200, balik lagi, harusnya kan dicatat," ungkapnya saat jumpa pers soal teknis pelaksanaan dua harga BBM bersubsidi di Kemang, Jakarta, Minggu (28/4).

Kasus-kasus tangki modifikasi, lanjutnya, banyak muncul di kawasan industri Jabodetabek dan justru tidak terjadi di luar Jawa. "Terjadinya tentu di kawasan dekat industri. Kalau dekat pemukiman enggak mungkin. Jadi memang kasusnya seperti di Pulogadung, pagi tadi saya dengar lewat radio ada juga di Pasar Kamis," kata Eri.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat sejak sebulan terakhir terjadi kelangkaan solar bersubsidi di beberapa daerah. Pangkal persoalannya karena ada pengurangan kuota pasokan solar subsidi dari Pertamina akhir Maret lalu.

Untuk menanggulanginya, Menteri ESDM Jero Wacik sudah memerintahkan Pertamina menambah pasokan 30 persen untuk bahan bakar kendaraan mesin diesel dan mesin pabrik itu. Mengacu pada kuota 2013 sesuai APBN, maka alokasi harian solar kepada masyarakat seharusnya 4.554 Kilo Liter (KL) per hari. Dengan penambahan ini, maka penyaluran meningkat menjadi 5.920 KL per hari.

Eri mengatakan, saat ini pasokan solar sudah mulai normal. Namun, kelangkaan masih mungkin terjadi dalam waktu dekat, baik di Jawa maupun Luar Jawa.

"Sekarang malah digerojok pasokan (solar) kita berlebih. Tapi kalau habis di-kuota itu, nyembuhin penyakit (kelangkaan) butuh beberapa hari, paling 1-2 hari lagi (normal)," kata Eri memprediksi.

[bmo]
Kunjungi portal hao123 untuk akses internet aman dan nyaman


JANGAN LEWATKAN BERITA
Follow tag merdeka.com akan membantu untuk mendapatkan berita yang sesuai preferensi Anda. Misal Anda suka berita Anas Urbaningrum, masukkan email dan Anda hanya akan menerima berita seputar Anas Urbaningrum.

Let's be smart, read the news in a new way.
Tutup
Kirim ke teman Kirim copy ke email saya
Kirim ke

Free Content

  • URL Blog

  • Contoh : merdeka.wordpress.com

  • Email

  • Password


saya setuju menggunakan konten merdeka.com dan mengetahui bahwa merdeka.com tidak menyimpan informasi login saya







Komentar Anda


Be Smart, Read More
Back to the top

Today #mTAG
LATEST UPDATE
  • Messi resmi jadi top skorer sepanjang masa la liga
  • Review: Barca perkasa, La Pulga Menggila
  • Prostitusi berkedok warung pecel lele tarif Rp 350 ribu per jam
  • Calon wagub satu orang, Ahok akan konsultasi dengan Jokowi
  • Menko UKM akan suntik modal usaha ke petani & nelayan Rp 25 juta
  • Pemukulan mahasiswa oleh polisi akan dilaporkan ke Komnas HAM
  • Guru besar dan mahasiswi yang nyabu direhabilitasi
  • Review: Roma kemas tri punti di Bergamo
  • Bersihkan gudang, polisi temukan mortir aktif Perang Dunia II
  • Review: Madrid pesta gol di kandang Eibar
  • SHOW MORE