Indofood belum pakai sorgum karena harga dan selera masyarakat

Reporter : Ardyan Mohamad | Sabtu, 20 Juli 2013 19:04




Indofood belum pakai sorgum karena harga dan selera masyarakat
Bagian depan Kantor Pusat PT Indofood Sukses Makmur (Tbk). (c) indofood.com

Merdeka.com - Sorgum digadang-gadang menjadi salah satu tanaman lokal alternatif bahan tepung, buat menggantikan gandum yang mayoritas impor.

PT Indofood Sukses Makmur (Tbk), pemilik lini usaha produksi tepung terigu besar Indonesia melalui PT Bogasari, sudah ditawari pasokan biji sorgum asal Jawa Timur. Grup usaha milik Antoni Salim ini mayoritas produknya membutuhkan bahan baku gandum, mulai dari terigu hingga mi instan.

Presiden Direktur Indofood Franciskus Welirang membenarkan pihaknya sudah menyepakati nota kesepahaman dengan PT Perkebunan Nasional (PTPN) XII di Banyuwangi untuk menerima pasokan biji sorgum. Namun, pembelian urung terealisasi lantaran BUMN itu belum memberikan rincian pasokan.

"Kami masih percobaan, jadi memang ada MoU, tapi kami belum tahu PTPN XII produksinya bagaimana. Bagi kami yang penting bisa dapat suplai terus menerus," ujar Franciskus usai menggelar buka puasa bersama anak yatim di Senayan, Jakarta, akhir pekan ini.

Selain ketiadaan data valid produksi, Indofood belum mau membeli sorgum dari PTPN XII karena harganya tak sesuai harapan. Franciskus menilai, wajar bila pihaknya meminta harga jual sorgum mentah murah. Jika harga tanaman alternatif itu tetap lebih mahal dari gandum, maka pihaknya lebih suka mengimpor.

"Pas MoU dibilang Rp 1.600 per kilo, trus katanya salah hitung, balik lagi ke Rp 3.000 per kilo, masih lebih murah gandum. Kami kan inginnya dapat harga bagus supaya produk terjangkau dan masyarakat bisa beli," paparnya.

Kendatipun belum serius memanfaatkannya, Franciskus mengakui sorgum sangat potensial sebagai pengganti gandum. Dia lantas menceritakan hambatan lain tanaman yang punya kadar gluten rendah ini. Yaitu kegemaran warga Indonesia mengonsumsi roti empuk.

"Sorgum ini non-gluten, beda sama gandum yang kaya gluten sehingga banyak dipakai supaya roti bisa mengembang. Persoalannya di Indonesia roti pipih seperti di India belum populer, orang kita mah maunya yang empuk-empuk, kecuali ke depan bisa tren roti yang renyah," cetusnya.

PTPN XII akan menggandeng lebih banyak perusahaan swasta, tak hanya Indofood, agar sorgum makin populer buat menandingi gandum. Lahan percontohan di Banyuwangi tahun ini rencananya diperbesar menjadi 500 hektar, dengan panen diharap mencapai 100.000 ton.

Dari 1.500 hektar lahan sorgum di Indonesia, 80 persen tak punya kemitraan dengan industri, sehingga produk alternsatif ini kurang diterima pasar. Padahal, selain bijinya bisa menjadi bahan tepung, daun sorgum dapat dipakai petani sebagai pakan ternak.

[ard]

KUMPULAN BERITA
# Ekspor Impor# Pertanian

JANGAN LEWATKAN BERITA
Follow tag merdeka.com akan membantu untuk mendapatkan berita yang sesuai preferensi Anda. Misal Anda suka berita Anas Urbaningrum, masukkan email dan Anda hanya akan menerima berita seputar Anas Urbaningrum.

Let's be smart, read the news in a new way.
Tutup
Kirim ke teman Kirim copy ke email saya
Kirim ke

Free Content

  • URL Blog

  • Contoh : merdeka.wordpress.com

  • Email

  • Password


saya setuju menggunakan konten merdeka.com dan mengetahui bahwa merdeka.com tidak menyimpan informasi login saya







Komentar Anda


Smart people share this
Back to the top


Today #mTAG SPOTLIGHT iREPORTER
TOP 10 NEWS
Most Viewed Editors' Pick Most Comments

TRENDING ON MERDEKA.COM

LATEST UPDATE
  • Kapal feri tenggelam di Kapuas, 11 orang tewas dan 8 hilang
  • Jokowi akan awasi ketat kementerian rawan mafia
  • Del Piero senang Ancelotti raih La Decima
  • Nekat, Justin Bieber cium fans yang melintas di depannya
  • Fadel sebut 27 DPD tolak usulan gelar Munaslub
  • Purbaya: Kalau APBN belum hancur, kenaikan BBM nanti saja
  • Pemimpin tertinggi Iran sebut Israel 'anjing gila'
  • Poempida akui kelemahan open house JK berakibat remaja tewas
  • Berjubah mewah di Madinah, Syahrini malah dikira tenda pramuka
  • Sukses jaga stabilitas harga, ekonom minta pemerintah tak lengah
  • SHOW MORE