Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Ekonomi Indonesia masih rapuh hadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN

Ekonomi Indonesia masih rapuh hadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN Gedung bertingkat. ©2013 Merdeka.com/imam buhori

Merdeka.com - Siap atau tidak, pada 2015 nanti Indonesia harus menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Dalam implementasinya, MEA akan membebaskan lintas barang, jasa, tenaga kerja bahkan permodalan.

Indonesia yang memiliki penduduk terbanyak di ASEAN disebut-sebut menjadi pasar empuk bagi negara ASEAN lainnya. Ketua ASEAN Competitiveness Institute, Soy Martu Pardede mengatakan untuk menyongsong MEA 2015 mendatang, fundamental ekonomi Indonesia masih sangat lemah. Kebijakan yang diterapkan juga tidak konsisten dan pada akhirnya melemahkan daya saing Indonesia.

"Misalnya kebijakan awal industrialiasi dari tahun 1980-an, Indonesia punya nilai strategis tapi tidak pernah konsisten. Dunia otomotif misalnya, awalnya hanya 3 merek saja untuk standarisasi, sekarang dengan surat ini surat itu menjadi 10 dan 20 merek. Jadi tidak ada standarisasi komponen," ucap Soy Pardede dalam seminar IBEX di JCC, Jakarta, Jumat (24/5).

Indonesia dipandang masih sulit menghadapi MEA lantaran negara-negara di ASEAN tidak membuat aturan yang sama untuk keseimbangan pasar di kawasan. Setiap negara di ASEAN diberikan kebebasan penuh menentukan kebijakan.

"Kebijakan berbeda-beda antar negara ASEAN, jadi tidak seimbang dalam bersaing. Ketika membuka pasar ini apakah ada common rule yang dikeluarkan ASEAN atau aturan yang sama? Semuanya diserahkan kepada kebijakan nasional. Tidak ada yang mengatur," jelasnya.

Faktor lain yang memperlihatkan kerapuhan Indonesia dalam hal daya saing adalah adanya kebijakan atau aturan dari pemerintah yang melindungi monopoli usaha. Dengan adanya monopoli ini tidak ada persaingan usaha yang fair atau adil di Indonesia.

"Pengusaha sulit bersaing bukan karena mekanisme pasar yang menciptakan persaingan yang meningkat. Tapi kebijakan dan pengaturan orang masuk pasar dan sulit bersaing. Ada monopoli di beberapa sektor karena kebijakan. Misalnya monopoli pengiriman tenaga kerja, asuransi tenaga kerja. Dulu industri penerbangan dan telekomunikasi yang akhirnya dibuka," ucapnya. (mdk/noe)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP