Budidaya rumput laut di Bali terancam punah

Reporter : Harwanto Bimo Pratomo | Senin, 31 Desember 2012 17:03




Budidaya rumput laut di Bali terancam punah
Ilustrasi rumput laut. ©2012 Shutterstock/NatalieJean

Merdeka.com - Budidaya rumput laut di Bali terancam hilang karena tata ruang kawasan. Lokasi pelestarian rumput laut semakin tergencet dengan perkembangan pariwisata.

Pantai Geger, Nusa Dua yang saat ini menjadi lokasi budidaya semakin tidak kondusif dengan derasnya pembangunan hotel dan fasilitas wisata lainnya. Menurut Ketua Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) SafariAzis, dari 100 kepala keluarga yang mengembangkan budidaya rumput laut, kini hanya tersisa 30 kepala keluarga saja.

"Hal ini mengancam kelestarian usaha rumput laut di daerah tersebut," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima merdeka.com, Senin (31/12).

Rumput laut pertama kali dibudidayakan di Bali sekitar 30 tahun lalu di Pantai Terora, Nusa Dua. Namun seiring dengan perkembanganpariwisata, wilayah tersebut tidak lagi kondusif bagi aktivitas budidaya rumput laut sehingga dipindahkan ke Pantai Geger.

Para petani rumput laut, lanjutnya, dilarang oleh pihak-pihak tertentu untuk melakukan aktivitasnya seperti menjemur rumput laut di pinggir pantai dan membongkar tempat penyimpanan rumput laut kering dengan kompensasi Rp 2 juta per KK.

"Mereka juga dijanjikan akan dipekerjakan sebagai karyawan hotel. Namun kenyataannya tidak semua dapat bekerja di sektor itu karena kendala usia, pendidikan dan keahlian," katanya.

Sekarang ini, tambah Safari, 30 KK pembudidaya rumput laut harus mencari lahan penjemuran yang jauh. Akibatnya, produksi rumput laut menjadi jauh berkurang. Pihaknya menyayangkan adanya hambatan tersebut karena sebelumnya rumput laut sangat membantu ekonomi masyarakat pesisir.

"Kami harapkan ada tata ruang yang ditetapkan oleh pemerintah agar ada pembedaan antara wilayah pariwisata dan wilayah budidaya rumput laut. Perlu dipertimbangkan kembali karena aktivitas budidaya rumput laut sebenarnya bisa menjadi bagian dari pariwisata di Bali, bahkan bisa menangkal abrasi dan membersihkan air di pantai" tuturnya.

Kondisi tersebut sungguh ironis, mengingat bahwa Indonesia untuk pertama kalinya ditunjuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan 21st International Seaweed Symposium 2013 (simposium internasional rumput laut ke 21) di Bali yang akan dihadiri peserta dari sekitar 60 negara yang akan membicarakan perkembangan rumput laut baik terkait penelitian terbaru maupun kondisi industri dan bisnis rumput laut dunia.

[noe]


Komentar Anda


Be Smart, Read More
Back to the top

Today #mTAG iREPORTER
LATEST UPDATE
  • Merokok di kantor, PNS Payakumbuh akan dipolisikan
  • Istri Jero berkelit soal aliran Dana Operasional Menteri
  • 5 Terdakwa kasus JIS diduga disiksa, keluarga lapor Komnas HAM
  • Keliling Eropa, Tim Kejagung bakal tarik aset milik koruptor
  • Indeks terjun 14,39 poin
  • Kasus Transjakarta terbakar karena sistem perkabelan rusak
  • 7 Alasan kesehatan untuk lebih banyak mengonsumsi pepaya
  • Bila diduetkan dengan artis Arzeti, Risma diprediksi bakal kalah
  • Golkar sepakat lanjutkan kerja sama dengan Partai Komunis China
  • Dump truk vs truk tangki limbah, kaki sopir kejepit 1,5 jam
  • SHOW MORE