Bank Mega pangkas biaya operasional agar bunga kredit turun

Reporter : Ardyan Mohamad | Kamis, 28 Maret 2013 20:03




Bank Mega pangkas biaya operasional agar bunga kredit turun
Bank Mega. www.panoramio.com

Merdeka.com - Suku bunga rata-rata bank Tanah Air terlalu tinggi sehingga memberatkan nasabah dan pelaku usaha yang berniat memanfaatkan produk perbankan. Hal ini diakui pula jajaran direksi Bank Mega yang saat ini menetapkan suku bunga di kisaran 16 persen.

Meski demikian, bank milik taipan raksasa media Chairul Tanjung itu rupanya cukup ngebet menurunkan suku bunga. Pasalnya, minat masyarakat memanfaatkan produk-produk keuangan Bank Mega akan melonjak bila suku bunga diturunkan.

"Kita selalu pengen nurunin (suku bunga). Ibaratnya kalau jualan lebih murah lebih laku, pengennya sih turun cukup banyak," ujar Direktur Operasi dan Teknologi Bank Mega Joseph G Godong di kantornya, Kamis (28/3).

Pria akrab dipanggil Georgie ini mengaku suku bunga kredit tinggi di perbankan Indonesia, termasuk bank Mega, masih tinggi lantaran besarnya biaya overhead, keuntungan dan biaya lain-lain termasuk ekspansi pembukaan cabang di daerah.

Bank dalam jaringan CT Corporation itupun tahun ini berencana menambah 1 kantor cabang dan 12 kantor cabang pembantu di seluruh Indonesia. Dengan aksi korporasi seperti itu, bakal ada pengeluaran ekstra yang cukup sulit membuat direksi berani menurunkan suku bunga. Meski demikian, Joseph yakin bila pasar kondusif, pihaknya bisa mengupayakan langkah ekstra, yaitu memangkas biaya operasional, khususnya dengan meningkatkan praktik internet banking.

"Faktor penentunya market gimana, satu lagi kita berusaha nurunin biaya operasional kita, campurannya gitu. Kami ingin turun (suku bunga) tapi kami belum bisa selesaikan hari ini. Bertahap lah," kata Joseph.

Pelaku usaha, khususnya dari Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), sejak lama mendesak agar suku bunga perbankan nasional bisa turun di kisaran 8 persen. Sementara pertengahan bulan ini, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menuding ada indikasi praktik kartel bunga bank. Pasalnya, suku bunga di Indonesia tinggi, sementara rata-rata tingkat marjin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM) relatif rendah.

Selain itu, ditinjau dari struktur sebaran pasar terkesan ada kelompok bank yang memonopoli besaran suku bunga. Sehingga bank yang lebih kecil terpaksa mengikuti.

"Kami mulai memantau beberapa bank sejak beberapa waktu lalu, karena kami menilai ada indikasi praktik oligopoli, atau bisa disebut kartel yang dilakukan oleh perbankan Indonesia," ujar Komisioner KPPU Muhammad Syarkawi Rauf.

[rin]

KUMPULAN BERITA
# Bank Mega

JANGAN LEWATKAN BERITA
Follow tag merdeka.com akan membantu untuk mendapatkan berita yang sesuai preferensi Anda. Misal Anda suka berita Anas Urbaningrum, masukkan email dan Anda hanya akan menerima berita seputar Anas Urbaningrum.

Let's be smart, read the news in a new way.
Tutup
Kirim ke teman Kirim copy ke email saya
Kirim ke

Free Content

  • URL Blog

  • Contoh : merdeka.wordpress.com

  • Email

  • Password


saya setuju menggunakan konten merdeka.com dan mengetahui bahwa merdeka.com tidak menyimpan informasi login saya






Komentar Anda


Smart people share this
Back to the top


Today #mTAG SPOTLIGHT iREPORTER
TOP 10 NEWS
Most Viewed Editors' Pick Most Comments

TRENDING ON MERDEKA.COM

LATEST UPDATE
  • Polisi: Remaja yang tewas di open house JK memang kurang sehat
  • Membuka misteri Masjid jin di Jawa Timur
  • Menikmati karir aktingnya Raline Shah tolak tawaran ini!
  • Syawalan, warga Yogya rebutan Gunungan dari Kraton
  • Remaja tewas saat berdesakan di open house JK
  • Militan ISIS buka biro perkawinan
  • CT akui tiru gaya Soeharto untuk stabilkan harga pangan
  • Jakarta, 'kota mati' saat hari raya
  • Ragunan diserbu 50 ribu lebih pengunjung, lalin macet
  • Polusi jadi kunci untuk temukan alien
  • SHOW MORE