Kekerasan fisik pada anak bisa pengaruhi DNA

Reporter : Kun Sila Ananda | Rabu, 25 April 2012 17:19




Kekerasan fisik pada anak bisa pengaruhi DNA
Ilustrasi. merdeka.com/cancouncil.org

Merdeka.com - Sebuah penelitian menemukan bahwa kekerasan fisik pada anak tak hanya melukai kulit mereka, tetapi juga dapat mengubah DNA. Ini bisa memperpendek kromosom yang akibatnya hampir sama dengan perkembangan prematur selama tujuh hingga 10 tahun.

Peneliti mengukur perkembangan sel ini dengan mempelajari kromosom bernama telomeres pada anak. Telomeres adalah DNA khusus yang berperan sebagai perekat yang mencegah DNA pada kromosom terpisah. DNA ini akan menjadi semakin pendek setiap kali sel membelah, hingga akhirnya sel tak dapat membelah lagi dan mati.

Beberapa faktor yang bisa memperpendek ukuran telomeres adalah merokok, radiasi, stres secara psikologis, dan kesalahan perawatan pada orang yang memiliki penyakit kronis.

Dalam penelitian ini, ilmuwan meneliti apakah kekerasan fisik atau penganiayaan terhadap anak dapat memperpendek telomeres lebih cepat dari keadaan normalnya. Mereka mewawancarai 236 anak dengan rentang usia 5, 7, dan 10, menanyakan apakah anak-anak tersebut pernah terlibat dalam pertengkaran orang tuanya, atau mengalami kekerasan oleh orang dewasa dan teman bermain. Peneliti mengukur telomeres yang didapat dengan menyeka bagian dalam pipi anak-anak yang berusia antara lima hingga 10 tahun.

Shalev, seorang peneliti di Duke Institute for Genome Sciences & Policy di Durham mengatakan bahwa telomeres memendek lebih cepat pada anak yang mengalami dua atau lebih tipe kekerasan. Jika pola kehidupannya tidak diubah, anak-anak ini bisa memiliki penyakit tua seperti sakit jantung, serangan jantung, pikun, dan lainnya tujuh hingga 10 tahun lebih awal dari seharusnya.

Walaupun begitu, Shalev mengatakan masih ada harapan untuk memperbaikinya. Penelitian menunjukkan bahwa walaupun sulit, telomeres dapat diperpanjang.
"Memberikan nutrisi yang baik, olahraga, mengurangi stres adalah hal-hal yang bisa memperpanjang telomeres," katanya seperti dikutip oleh USA Today.

Penelitian ini memperkuat hasil penelitian lain yang menemukan bahwa kesulitan yang dialami oleh anak pada masa kecil akan membekas pada kromosom, seperti pendapat salah seorang profesor pediatri dan ilmu saraf di Harvard Medical School, Charles Nelson.

Pada penelitian tahun 2011, Nelson dan koleganya menemukan telomeres yang lebih pendek pada anak Rumania yang menghabiskan waktunya di lembaga daripada yang dikirim ke tempat perawatan anak.

"Kita tahu bahwa stres bisa berdampak buruk untuk Anda," kata Nathan Fox, seorang profesor bidang perkembangan manusia di University of Maryland. "Penelitian ini menunjukkan sebuah cara kerja bagaimana stres bisa masuk ke dalam kulit dan mempengaruhi gen Anda."

[kun]


Komentar Anda


Be Smart, Read More
Back to the top

Today #mTAG SPOTLIGHT iREPORTER TOP 10 NEWS
Most Viewed Editors' Pick Most Comments

TRENDING ON MERDEKA.COM

LATEST UPDATE
  • Punya utang Rp 1 juta, napi di LP Meulaboh kerap dianiaya sipir
  • Hatta ketemu Jokowi, PAN merapat ke Koalisi Indonesia Hebat?
  • Inilah tanggapan Ben Kasyafani soal kesaksian Chaca selingkuh
  • Rekan dibunuh tak digubris polisi, pesilat Blitar sweeping desa
  • Calon haji embarkasi Solo terima uang saku 1.500 riyal
  • Akhir 2017 jadi kelahiran SUV Lamborghini Urus!
  • Tabrakan beruntun di Pasar Minggu, empat mobil ringsek
  • Bahagianya balikan, Justin Bieber gandeng mesra Selena Gomez
  • Ini 5 muka baru kejutan yang muncul dari polling KawalMenteri
  • Meski cacat, mereka hebat
  • SHOW MORE