[Kaleidoskop]-4 penelitian pencegahan alzheimer terbaru di 2015
Merdeka.com - Penyakit alzheimer memang bukanlah penyakit baru. Penyakit yang dinamai sesuai dengan nama penemunya yaitu Alois Alzheimer yang mulai membuka buku tentang alzheimer pada tahun 1907. Meskipun terhitung telah lama sejak lembar pertama mengenai penyakit ini dibuka, namun hingga kini masih belum ada terapi maupun obat yang bisa digunakan untuk menyembuhkan penyakit ini secara total.
Namun, ini bukan berarti para ilmuwan hanya berdiam diri mengenai hal ini. Para peneliti terus melakukan berbagai uji coba untuk menemukan jenis pengobatan dan bahkan pencegahan yang bisa digunakan untuk mengurangi risiko penyakit ini. Terkait dengan pencegahan alzheimer, pada tahun 2015 ini setidaknya ada 4 penemuan baru yang berhasil dilakukan oleh para ilmuwan untuk mengurangi risiko penyakit alzheimer.
Efek mujarab menyanyi bagi alzheimer
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comSebuah studi yang dilakukan oleh para peneliti dari University of Helsinski,Finlandia menemukan hubungan antara menyanyi dengan demensia, terutama tipe alzheimer. Studi tersebut menemukan bahwa orang lanjut usia dengan gejala demensia ringan mengalami perbaikan dalam memori kerja setelah menerima 10 minggu pelatihan musik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa menyanyi bermanfaat untuk kerja memori para pasien demensia, terlepas dari ada atau tidaknya pengalaman mereka dalam dunia musik sebelumnya. Efek ini sangat menonjol pada mereka dengan demensia ringan dan berusia di bawah 80 tahun. Selain itu, bernyanyi atau mendengarkan musik mampu mengurangi depresi para peserta yang dengan demensia tipe alzheimer ringan.
Konsumsi tempe kurangi penderitaan alzheimer
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comSaat Alzheimer menyerang, secara otomatis penyakit ini memang tidak bisa disembuhkan secara total. Namun sebuah terapi bisa dilakukan untuk menghambat progesivitas plak dan simpul penyebab Alzheimer. Selain selalu menerapkan pola hidup sehat, penderitaan akibat penyakit ini ternyata bisa dikurangi dengan banyak makan tempe.
Sebuah penelitian yang dilakukan di Inggris menemukan bahwa kulit kedelai yang masih menempel di tempe sangat tinggi akan lesitin. Zat alami ini efektif untuk menghambat pertumbuhan simpul dan plak. Sehingga progresivitas dari penyakit ini akan berkurang.Selain alasan tersebut, kegiatan untuk mengunyah tempe ternyata juga berdampak positif bagi penanganan penyakit Alzheimer. Beberapa urat saraf di rahang yang terlibat dalam kegiatan ini mampu mengumpulkan kemampuan simpul dan plak untuk berproduksi.
Pengelolaan stres
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comBerbicara mengenai stres, selain menjadi akar beberapa masalah kesehatan seperti insomnia, depresi dan tekanan darah tinggi, kini stres bahkan telah dikaitkan dengan gangguan kognitif ringan pada orang tua dewasa yang lebih tua.
Gangguan kognitif ringan tau yang dikenal juga dengan mild cognitive impairment (MCI) merupakan gejala awal alzheimer. Dalam studi yang baru-baru ini dipublikasikan, para peneliti menemukan bahwa orang-orang dengan stres tinggi memiliki dua kali kemungkinan lebih besar mengembangkan penyakit neurodegeneratif.
studi tersebut menyediakan bukti kuat bahwa stres meningkatkan kemungkinan seseorang dengan usia yang lebih tua mengembangkan gangguan kognitif ringan. Yang menarik adalah, para peneliti meyakini bahwa stres bisa dimanfaatkan sebagai faktor risiko yang dapat dimodifikasi untuk perbaikan kemampuan kognitif, dengan membuat stres menjadi target potensial pengobatan.
Posisi tidur pengaruhi risiko alzheimer
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comMenurut penelitian terbaru, posisi tidur kita setiap hari dapat mempengaruhi risiko seseorang terkena penyakit seperti Alzheimer. Para peneliti mengatakan bahwa tidur menyamping ternyata mampu membersihkan otak saat tidur.
Para peneliti dari Stony Brook University yang bekerjasama dengan tim peneliti dari University of Rochester menunjukkan hubungan antara posisi tidur dengan risiko penyakit yang berkaitan dengan otak.
Para peneliti menunjukkan bahwa tidur dengan posisi menyamping lebih efektif dalam menghapus limbah otak.Oleh karena itu, tidur dalam posisi menyamping bisa menjadi praktik penting untuk membantu mengurangi kemungkinan terkena Alzheimer, Parkinson dan penyakit neurologis lainnya.
(mdk/SRA)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya