Pengumuman tersebut muncul setelah sedikitnya sembilan orang dilaporkan tewas ditembak dalam bentrokan bersenjata dengan para mahasiswa di mesjid yang dikuasai oleh suatu gerakan bergaya Taliban di ibukota, Selasa.
Kantor berita Reuter, mengutip para pejabat Pakistan, melaporkan bahwa pertempuran terjadi acak antara pasukan paramiliter dan mahasiswa militan di dalam Mesjid Lal, atau Mesjid Merah, selama beberapa jam.
Reuters mengatakan, sedikitnya sembilan orang tewas, termasuk empat orang mahasiswa, seorang tentara dan seorang kameraman. Sedangkan tiga lainnya adalah orang-orang yang terperangkap dalam baku-tembak tersebut.
Sebanyak 148 orang telah dibawa ke rumahsakit-rumahsakit, beberapa di antaranya luka karena terjangan peluru, namun banyak di antara mereka yang menderita karena dampak dari gas airmata, kata laporan tersebut.
Listrik di mesjid tersebut dan pengguna-pengguna lain di sekitarnya mengalami pemutusan Selasa malam, tampaknya untuk mengepung mahasiswa, yang terlibat pertempuran sengit dengan pasukan keamanan, Selasa.
Wakil Menteri Dalam Negeri, Zafar Iqbal Warraich mengatakan dalam konferensi pers tak lama setelah tengah malam, bahwa keputusan memberlakukan jam malam dan mengeluarkan mahasiswa dari mesjid dilakukan dalam satu pertemuan keamanan tingkat tinggi yang dipimpin bersama oleh Presiden Jendral Pervez Musharraf dan Perdana Menteri Shaukat Aziz.
"Pemerintah telah memutuskan untuk menindak orang-orang yang membawa Pakistan dan Islam ke dalam kesulitan," kata Warraich.
"Jam malam telah diberlakukan dalam radius beberapa kilometer di sekitar Mesjid Merah dan siapapun yang melanggar akan ditindak tegas. Peluru hendaknya bertemu dengan peluru,` katanya.
Ribuan petugas polisi dan paramiliter serta pasukan militer bergerak menuju wilayah itu pada Rabu pagi guna melaksanakan jam malam dan mengepung mesjid, serta membatasi sekolah agama yang ada di sana.
Sejumlah besar mobil ambulan tampak melaju menuju kawasan tersebut.
Sedikitnya 3.000 mahasiswa putri terkepung di dalam Mesjid Merah yang berdampingan dengan sekolah agama, dilindungi oleh sukarelawan mahasiswa pria dari beberapa sekolah keagamaan lainnya di ibukota.
Warraich mengatakan, pemerintah telah mengumumkan melalui pengeras suara menawarkan amnesti kepada para mahasiswa yang meninggalkan mesjid dan menyerahkan senjata mereka.
Sebelumnya, imam Mesjid Merah, Maulama Abdul Aziz, mengatakan bahwa sejumlah pelaku bom bunuhdiri siap menghadapi suatu operasi yang dilakukan pemerintah untuk menyingkirkan mahasiswa dari mesjid.
Sikap mahasiswa telah mencemaskan banyak pihak di ibukota dan para politisi liberal mengecam Musharraf selama berbulan-bulan karena tidak mengambil tindakan keras terhadap mereka, kata laporan Reuters. (*/cax)
Pasang Fahri di Komisi III DPR, PKS siap perang lawan KPK?
Caleg duel hingga tewas, PAN sebut serangan jantung
Jokowi jadi rebutan parpol, politisi PDIP 'sewot'
Sikap galau Rustriningsih di Pilgub Jateng dipertanyakan
Demokrat persilakan PKS menuju pintu keluar koalisi
Demokrat: Kalau PKS tidak nyaman di Setgab ngomong saja
PKS: Proses hukum diarahkan pada institusi kami
Lemhannas akan gembleng calon presiden dan DPR
Saksi sebut pasangan Bambang-Sukamta lakukan kecurangan
Majelis Syuro PKS sudah lama bahas isu keluar dari koalisi