Resolusi itu menyambut baik dan mendukung pertemuan puncak 2-4 Oktober di Pyongyang antara pemimpin Korea Selatan dan Utara, hanya yang kedua dalam sejarah negara komunis Utara dan kapitalis Selatan.
Dalam pembicaraan du Pyongyang itu, Presiden Korea Selatan Roh Moo-Hyun dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-Il menghendaki deklarasi bagi semenanjung yang bebas-nuklir dan perjanjian untuk mengakhiri secara resmi Perang Korea 1950-53.
Resolusi majelis Rabu mengenai "perdamaian, keamanan dan reunifikasi di semenanjung Korea" itu disponsori bersama oleh kedua Korea, sebagai pertanda baru dari menghangatnya hubungan antara kedua tetangga itu.
Resolusi itu melukiskan pertemuan puncak Pyongyang sebagai "tonggak bersejarah besar dalam meningkatkan hubungan antar-Korea dan dalam memajukan perdamaian dan kemakmuran bersama di semenanjung Korea serta di kawasan yang lebih luas juga".
Majelis yang memiliki 192 anggota itu minta Seoul dan Pyongyang untuk melaksanakan deklarasi pertemuan puncak itu "sepenuhnya dan dengan kepercayaan yang baik, dengan mengkonsolidasikan perdamaian di semenanjung Korea dan meletakkan dasar yang solid bagi reunifikasi damai".
Resolusi itu mengundang negara anggota PBB untuk terus membantu "proses dialog, rekonsiliasi dan reunifikasi antar-Korea sehingga dengan demikian hal itu mungkin akan menyumbang pada perdamaian dan keamanan tidak hanya di semenanjung Korea tapi juga di Asia tenggara dan dunia secara keseluruhan".
Sekjen PBB Ban Ki-moon, yang mantan menlu Korea Selatan, berterima kasih pada majelis atas dukungan dengan suara bulatnya pada resolusi itu dan menawarkan "untuk memberikan setiap bantuan yang diminta (oleh pihak-pihak tersebut)".
"Saya yakin bahwa pertemuan puncak antar-Korea yang bersejarah itu akan meratakan jalan bagi rezim perdamaian permanen dan reunifikasi pada akhirnya," kata Ban.
"Saya juga yakin bahwa hal itu akan bertindak sebagai katalis bagi proses berlanjut dalam pembicaraan enam-pihak mengenai denuklirisasi semenanjung Korea."
Rabu pagi Menlu Korea Selatan Song Min-Soon mengatakan di Seoul bahwa Pyongyang akan melakukan langkah pertama ke arah pelepasan sepenuhnya ambisi nuklirnya ketika pekerjaan mulai segera untuk melumpuhkan pembangkit atomnya.
"Ini langkah pertamanya ke pembuangan nuklir Utara," ia mengatakan pada wartawan, satu hari sebelum kedatangan yang telah dijadwalkan tim pelumpuhan (nuklir) AS.
Korea utara melakukan percobaan senjata atom pertamanya Oktober 2006 tapi kemudian setuju untuk melumpuhkan pembangkit itu sebagai pertukaran bagi bantuan energi dan insentif besar diplomatik.
Song mengatakan Korea Utara dan lima mitra perundingannya -- Korea Selatan, AS, Cina, Jepang dan Rusia -- akan bertemu tahun ini untuk membicarakan langkah selanjutnya.
Jika Pyongyang terus membongkar pembangkit itu dan menyerahkan cadangan plutonium dan senjata nuklirnya, negara itu dapat mengharapkan hubungan dipulihkan dengan AS dan Jepang, pencabutan sanksi, dan perjanjian akan mengakhiri secara resmi Perang Korea 1950-1953. (*/cax)
PKS heran pelajar di Makassar transfer Rp 2 miliar ke Fathanah
PAN pinang Miing di Pilwalkot Tangerang
Salim Segaf: Majelis Syuro putuskan PKS tetap di koalisi
Hanura: BLSM sebagai kompensasi BBM naik cuma jadi alat politik
Ruhut: Jokowi pedagang mebel mau jadi presiden, belum levelnya
4 Jenderal purnawirawan ini kritik kepemimpinan SBY
Pendiri PK: Dulu Anis dan Hilmi miskin sekarang kaya raya
Pendiri PK ramai-ramai serang PKS
PDIP merasa hadapi Orde Baru jilid II di Pilgub Bali
Pendiri PK minta PKS dibubarkan dan jual aset-asetnya