Berfungsinya pelabuhan tersebut ditandai dengan merapatnya KM Tanjung Burang yang membawa penumpang dari Sabang, Pulau Weh, yang disaksikan langsung oleh Menteri Luar Negeri Australia, Alexander Downer, didampingi Kepala Badan Rekontruksi dan Rehabilitasi Aceh Nias, Kuntoro Mangkusubroto di Ulee Lheue, Kamis.
Pelabuhan yang berada dalam wilayah hukum Kota Banda Aceh tersebut masih bersifat sementara, karena terminal belum permanen, namun dermaga sudah bisa berfungsi.
Dengan demikian, aktifitas kapal penumpang yang melayani pelayaran dari dan ke Banda Aceh, sudah bisa melalui pelabuhan tersebut, yang selama ini menggunakan pelabuhan bongkar muat Malahayati, Kabupaten Aceh Besar, yang berjarak sekitar 35 Km dari ibukota provinsi itu.
Menlu Downer menyatakan, Pemerintah Australia sangat komit dalam membangun kembali wilayah Aceh yang baru saja terkena tsunami, diantaranya membangun pelabuhan Ulee Lheue.
Sarana pelabuhan yang ada sekarang ini hanya bersifat sementara, guna mendukung kelancaran kegiatan pelayaran dari dan ke Banda Aceh.
Disebutkan, pembangunan sarana terminal dan perkantoran yang permanen akan terus dilanjutkan, sehingga pelabuhan Ulee Lheue menjadi kawasan ekonomi baru di Banda Aceh.
Downer menyatakan, untuk membangun kembali Aceh pasca tsunami, Pemerintah Australia kini telah dan akan terus mengucurkan dananya ke daerah tersebut.
Khusus untuk pembangunan pelabuhan Ulee Lheue, Pemerintah Australia akan menambah dana 8 juta dollar AS atau sekitar Rp80 miliar, sedangkan untuk memfungsikan kembali pelabuhan tersebut menghabiskan dana Rp20 miliar.
Sementara itu, Kepala BRR, Kuntoro menyatakan, pembangunan kawasan pelabuhan tersebut baru tahap awal, paling tidak dengan berfungsinya pelabuhan tersebut denyut perekonomian di Banda Aceh kembali hidup.
Keberadaan pelabuhan tersebut tentunya akan mengaktifkan kembali pedagang-pedagang kecil yang berjualan di sekitar kawasan tersebut, katanya. (*/lpk)