Teror atas nama buku
Merdeka.com - Ali Azhar Akbar, penulis buku 'Konspirasi SBY-Bakrie' mengaku mendapat teror dari orang tak dikenal. Setelah itu, Ali hilang kontak. Keberadaan penulis buku soal lumpur Lapindo masih belum jelas hingga kini.
Buku Ali memang kontroversial, judulnya menyangkut Presiden dan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie. Isinya jelas bukan puji-pujian pada dua bos negeri ini.
Sejak dulu, teror pada penulis buku memang tidak pernah berhenti. Sejak zaman kolonial Belanda, para penulis yang berbahaya dimasukkan penjara. Deretan nama penghuni Boven Digoel di Papua adalah para penulis dan orang terpelajar. Mereka menulis dan dianggap membahayakan pemerintah kolonial, maka mereka ditangkap dan dibuang.
Pemerintah kolonial lupa, orang terpelajar membalas buku dengan buku, atau tulisan dengan tulisan. Bukan buku dengan penjara dan tulisan dengan kerja paksa.
Setelah kemerdekaan, teror atas nama buku, tidak berhenti. Soekarno memberedel koran-koran dan mencaci tulisan yang tidak sesuai dengan apa yang disukainya.
Dilanjutkan masa prahara budaya pada tahun 1960-an. Saat seniman lembaga kebudayaan rakyat (Lekra) berada di atas angin. Mereka pun membakar buku-buku dan mengintimidasi penulis yang tidak pro-komunis.
Saat Soeharto berkuasa, gantian seniman dan para penulis Lekra yang ditindas. Sebagian menemui ajal, sementara yang lain dibuang ke Pulau Buru.
Salah satu yang menjadi legenda adalah Pramoedya Ananta Toer. Pramoedya dibuang ke Pulau Buru. Buku-bukunya dilarang terbit Orde Baru karena dianggap mengajarkan soal komunisme dan Marxisme. Dua paham yang dianggap musuh orde baru. Buku Pram yang paling terkenal adalah Tetralogi Pulau Buru yang bercerita tentang Raden Mas Minke dan pergerakan pers Indonesia. Buku itu berjudul: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca.
Pramoedya mendapat segudang penghargaan di luar negeri. Salah satunya adalah Penghargaan Kebudayaan Asia Fukuoka ke-11. Hari ini tepat 12 tahun lalu Pramoedya mendapat anugerah itu.
Setelah reformasi, kontrol pemerintah terhadap buku tak sekeras orde baru. Tapi justru ormas yang lebih berkuasa. Tengok saja bagaimana Front Pembela Islam (FPI) mengintimidasi sejumlah diskusi buku "Allah: Liberty and Love yang dikarang Irshad Mandji.
Di luar negeri, pelarangan buku juga terjadi. Contohnya pengarang Inggris kelahiran India, Salman Rushdie yang mengarang buku 'Satanic Verses' atau 'Ayat-Ayat Setan. Buku yang terbit tahun 1988 itu dianggap menghina Umat Islam.
Maka buku Salman Rushdie pun dilarang beredar di sejumlah negara. Pemimpin Iran Ayatollah Khomeini yang paling keras. Menurutnya Rushdie telah murtad dari Islam. Dia dan penerbit buku 'Ayat-ayat Setan' layak dibunuh.
Buku memang kadang dianggap lebih berbahaya dari moncong senapan. Napoleon mengaku lebih takut pada seribu pena daripada seribu meriam. (mdk/ren)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya