STAN yang terus tersudutkan
Merdeka.com - Beberapa kasus korupsi yang melibatkan para alumnus Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) membuat pihak STAN dan para mahasiswa sedikit terganggu. Mereka menyayangkan nama STAN jadi ikut-ikut terbawa.
Sebut saja Gayus Tambunan, Dhana Widyatmika, dan terakhir yang dua hari lalu, alumni STAN tahun 1996 Tommy Hendratno ditangkap tangan KPK di sebuah rumah makan di Tebet, Jakarta Selatan. Ketiganya adalah alumni STAN yang ditangkap KPK diduga terkait dengan kasus korupsi pajak. STAN pun dianggap makin lekat dengan penghasil koruptor.
Civitas akademika STAN, baik dosen, mahasiswa, organisasi mahasiswa di STAN berteriak dengan cap-cap miring yang ditujukan kepada STAN.
"Tidak setuju disangkutpautkan dengan STAN. Lulusan STAN yang jelek beberapa orang, tidak bisa lihat orang korupsi itu lulusan mana," ujar Yosef Purnomo, salah satu pengajar di STAN pada merdeka.com di kampus STAN, Bintaro, belum lama ini.
Hal yang sama juga di sampaikan Presiden Mahasiswa STAN, Teguh Hartanto yang menganggap penilaian masyarakat tidak adil karena menurutnya jika mau distatistikkan, jumlah para koruptor dari perguruan tinggi negeri lain lebih banyak dibandingkan jumlah para koruptor yang lulus dari Sekolah Tinggi Akutansi Negara itu.
"Sudah ada pengecapan, padahalkan kasus korupsi tidak lihat mereka alumni mana, yang penting kami tidak seperti itu, korupsi itu motif pribadi buka menyangkut asal dimana dia belajar" serunya tidak setuju.
Salah seorang dosen etika profesi STAN, Bambang Imam, menyatakan puluhan ribu alumni STAN telah bekerja memberikan yang terbaik untuk negara. Menurutnya tidak adil jika ulah segelintir alumni STAN dikait-kaitkan dengan institusi yang telah menghasilkan puluhan ribu alumni itu.
“Puluhan ribu almni STAN yang tersebar diseluruh pelosok negeri terus bekerja dan berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk negeri, tidaklah berimbang dengan beberapa orang yang tersesat jalan dan mencari keuntungan sendiri."
"Apalagi berita tidak berimbang dan cenderung menggiring ke arah yang negatif saja. Kami akan terus membuktikan kepada masyarakat bahwa reformasi birokrasi di Kementerian Keuangan tetap dan terus berjalan," ujar Bambang Imam.
Namun, menurut Bambang memang tidak dipungkiri ada alumni STAN yang sangat sederhana dan merakyat saat kuliah, tapi di sisi lain lingkungan pekerjaan penuh dengan godaan.
"Kondisi dunia birokrasi, kemungkinan-kemungkinan terpengaruh oleh lingkungan yang salah dan pentingnya integritas dan kemampuan untuk berkata tidak terhadap setiap tindakan korupsi dan variannya tentu sangat dibutuhkan oleh setiap calon pegawai baru," papar Bambang. (mdk/war)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya