Sepak terjang operasi Kepolisian ala Jenderal Widodo Budidarmo

Reporter : Agib Tanjung | Senin, 1 Juli 2013 08:03




Sepak terjang operasi Kepolisian ala Jenderal Widodo Budidarmo
widodo budidarmo. ©museum.polri.go.id

Merdeka.com - Mantan Kapolri Jenderal Pol Widodo Budidarmo tak bisa dilepaskan dari perjalanan sejarah korps Bhayangkara. Pria kelahiran Surabaya, Jawa Timur, 1 September 1927 itu memiliki jasa besar untuk Polri.

Widodo dilantik sebagai Kapolri pada 26 Juni 1974 di Istana Negara oleh Presiden Soeharto. Dia memegang pucuk pimpinan di Polri hingga 1978.

Selama menjabat sebagai Kapolri, Widodo memiliki sejumlah sepak terjang di bidang operasi. Saat itu, Widodo melihat banyak persoalan penting yang dihadapinya dalam kaitan tugasnya sebagai Kapolri.

Widodo melihat masalah penyelundupan, manipulasi dalam perdagangan, korupsi, dan perdagangan obat-obat bius yang sangat menonjol dan mendapat prioritas untuk diberantas.

Awal Februari 1976, Presiden Soeharto membentuk Tim Penyelesaian dan Penanggulangan Perkara Penyelundupan (TP4). Nama operasi ini adalah 'Operasi 902'.

Situasi pada saat itu memang mengenaskan. Aparat Bea Cukai sering kebobolan oleh aksi para penyelundup, dan tiap tahun negara dirugikan puluhan miliar rupiah. Operasi 902 ini tergolong sukses dengan meringkus sejumlah penyelundup kakap yang kerap melakukan penyelundupan barang-barang elektronik, bahan makanan dan minuman dari Singapura.

Berkaitan dengan penyelundupan tersebut, Widodo juga pernah menggelar 'Operasi Guruh'. Sasaran utamanya adalah penangkapan terhadap mobil atau motor yang diduga hasil selundupan.

Operasi juga terbilang sukses. Sejumlah pelaku ditangkap lalu diproses di pengadilan. Selain Operasi Guruh, Widodo juga banyak menggelar operasi lainnya seperti 'Operasi Halilintar' (kejahatan senjata api), 'Operasi Guntur' (penertiban orang asing), 'Operasi Badai' (narkotika), 'Operasi Petir' (pencurian dengan kekerasan), dan 'Operasi Melati' (pencurian kawat telepon).

Sebagai Kapolri, Widodo juga pernah memimpin langsung Operasi Pengamanan Pemilu 1977 dan Sidang Umum MPR 1978. Selain operasi dalam negeri, Widodo juga pernah menggagas operasi yang bekerja sama dengan luar negeri, terutama dengan Malaysia dan Singapura.

Operasi yang cukup sukses antara lain 'Operasi Tutuka' dan 'Operasi Pecah Rumah' yang berhasil menangkap sejumlah pelaku perompakan besar di perairan Malaysia dan sekitarnya.

[dan]


JANGAN LEWATKAN BERITA
Follow tag merdeka.com akan membantu untuk mendapatkan berita yang sesuai preferensi Anda. Misal Anda suka berita Anas Urbaningrum, masukkan email dan Anda hanya akan menerima berita seputar Anas Urbaningrum.

Let's be smart, read the news in a new way.
Tutup
Kirim ke teman Kirim copy ke email saya
Kirim ke

Free Content

  • URL Blog

  • Contoh : merdeka.wordpress.com

  • Email

  • Password


saya setuju menggunakan konten merdeka.com dan mengetahui bahwa merdeka.com tidak menyimpan informasi login saya







Komentar Anda


Smart people share this
Back to the top


Today #mTAG SPOTLIGHT iREPORTER
TOP 10 NEWS
Most Viewed Editors' Pick Most Comments

TRENDING ON MERDEKA.COM

LATEST UPDATE
  • Ribuan pemudik dari Jakarta padati stasiun Rangkasbitung
  • Politikus Hanura ngaku dapat fasilitas kelas satu ikut haji SDA
  • Ibunda Cinta Laura terus memuji Verrell Bramasta
  • Prabowo: Berjuang bersama saya sampai titik darah penghabisan
  • Jokowi sebut kantor transisi bangun hubungan pemerintahan SBY
  • Jelang libur panjang, IHSG ditutup melemah
  • Lepas 2.500 pemudik gratis, Jokowi sampaikan 'salam 3 jari'
  • Bandara Hang Nadim Batam capai puncak arus mudik hari ini
  • 4.922 Napi di Sumut dapat remisi Lebaran
  • Demi persatuan, Jokowi dan Prabowo diminta saling menghormati
  • SHOW MORE