Sepak terjang kiai pesantren melawan penjajah

Reporter : Mardani | Rabu, 25 Juli 2012 12:02




Sepak terjang kiai pesantren melawan penjajah
Bambu runcing. ©2012 Merdeka.com

Merdeka.com - Peranan kalangan pesantren melalui para kiainya untuk membebaskan Indonesia dari penjajahan di era kolonial Belanda tak bisa dipandang sebelah mata. Dulu, perjuangan mereka dilakukan secara sendiri-sendiri atau tidak terkoordinir. Namun, peranan mereka saat peristiwa 10 November 1945 di Surabaya membawa makna penting bagi perjuangan bangsa Indonesia.

Meski Indonesia saat itu sudah merdeka, tidak semua negara di dunia mengakui kedaulatan Indonesia. Belanda bahkan kembali menginvasi Indonesia dan pada 10 Oktober 1945 berhasil menduduki sejumlah wilayah seperti Medan, Padang, Palembang, Semarang dan Bandung.

Tak mau tinggal diam, para kiai dari kalangan pesantren kemudian menggelar pertemuan. Seperti diceritakan KH Saifuddin Zuhri dalam buku 'Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia' saat itu pendiri Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asyari memanggil Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Bisri Syamsuri dan para kiai lainnya untuk mengumpulkan para kiai se-Jawa dan Madura untuk berkumpul di Surabaya.

Kemudian pada 21 Oktober 1945, para kiai berkumpul dan menggelar rapat darurat yang dipimpin oleh Kiai Wahab Chasbullah. Pertemuan itu lalu menghasilkan sebuah resolusi jihad untuk melawan Belanda dan sekutunya. Resolusi itu dideklarasikan oleh Kiai Haysim Asyari pada 23 Oktober 1945.

Resolusi itu berisi tiga buah seruan antara lain setiap muslim, tua maupun muda, dan miskin sekalipun, wajib memerangi orang kafir (penjajah) yang merintangi kemerdekaan Indonesia. Kedua, pejuang yang mati dalam perang kemerdekaan layak disebut syuhada. Ketiga, warga Indonesia yang memihak penjajah dianggap sebagai pemecah belah persatuan nasional maka harus dihukum mati.

Dalam resolusi itu bahkan disebutkan, haram hukumnya mundur bagi umat muslim ketika berhadapan dengan penjajah dalam radius 94 Km (jarak ini disesuaikan dengan dibolehkannya qashar salat). Sementara, di luar radius itu dianggap fardu kifayah (kewajiban kolektif, bukan fardu ain, kewajiban individu).

Resolusi jihad itu mampu membangkitkan semangat perjuangan warga Surabaya saat Belanda dan sekutu menyerbu Surabaya atau yang biasa dikenal dengan peristiwa 10 November 1945. Saat itu, Bung Tomo melalui siaran radio menggelorakan fatwa jihad kepada warga Surabaya disertai dengan teriakan Allahu Akbar.

Dalam buku 'Sejarah Indonesia Modern 1200-2004' karya M.C Ricklefs (Serambi, Jakarta, 2005), seruan jihad itu berhasil menggugah dan membangkitkan semangat juang kaum santri. Ribuan kiai dan santri dari berbagai daerah mengalir ke Surabaya.

Perang yang menewaskan Jenderal Mallaby itu dikenang sebagai salah satu momentum dari perjuangan kaum santri melawan penjajah.

[dan]


Komentar Anda


Be Smart, Read More
Back to the top

Today #mTAG SPOTLIGHT iREPORTER TOP 10 NEWS
Most Viewed Editors' Pick Most Comments

TRENDING ON MERDEKA.COM

LATEST UPDATE
  • 3 Jam ketemu Wapres, Tim Jokowi dapat oleh-oleh buku kemiskinan
  • Pemerintah baru bisa ubah kuota BBM subsidi lewat Perpu
  • Angkot Cicaheum-Ciroyom Bandung ludes terbakar
  • Ulama Iran keluarkan fatwa menentang Internet
  • Waspada! Modus baru pencurian mobil mewah di Jakarta!
  • Ini cara mudah atasi luka akibat bercukur!
  • Usai disidang komite etik UGM, Florence minta maaf dan nangis
  • Lindsay Lohan jadi 'Tersangka' kasus tabrakan
  • Pendiri sebut jika kader cinta Golkar, maka lengserkan Ical
  • Polda Jabar akan limpahkan berkas video porno mantan Wabup Bogor
  • SHOW MORE