Saat satu kampung beda-beda mengawali puasa
Merdeka.com - Awal puasa yang beda bukan hal yang asing lagi di negeri ini. Hampir saban tahun, terjadi perbedaan mengawali puasa, antara Muhammadiyah, dan Nahdlatul Ulama yang cenderung sama dengan pemerintah, dan juga ormas-ormas Islam lain.
Meski mayoritas masyarakat sudah mafhum dan menganggap biasa perbedaan ini, tetap saja terjadi kebingungan di kalangan masyarakat bawah. Suasana puasa yang tidak seragam membuat sebagian masyarakat merasa tidak nyaman.
"Wah jadi bingung nih kita. Masa sama tetangga seberang jalan saja kita beda puasanya," kata salah seorang warga Muncar, Banyuwangi, Iis kepada merdeka.com, Jumat (20/7).
Mayoritas warga di tempat Iis tinggal adalah Nahdlatul Ulama. Namun meski sama-sama NU, ada sebagian warga yang mulai puasa hari ini.
"Di kampung seberang mereka mengikuti kiainya di Ploso, Kediri, Jatim yang mulai puasa hari ini. Jadi warga mengikuti kyainya," imbuh Iis.
"Gak masalah sih. Tapi kita tetap bingung. Kapan bisa puasa bareng. Jadi lebih enak," harap Iis.
Dia pun berharap tidak akan ada lagi perbedaan saat lebaran nanti. "Semoga lebaran kita sama," ujarnya.
Pemerintah resmi mengetuk palu tentang penetapan satu Ramadan 1433. Berdasarkan hasil sidang Isbat yang digelar oleh Kementerian agama dan dihadiri 17 ormas Islam, 1 Ramadan jatuh pada Sabtu 21 Juli.
"Dengan mengucapkan Bismillah, kami memutuskan dan menetapkan bahwa 1 Ramadan 1433 jatuh pada Sabtu 21 Juli," ujar Menteri Agama Suryadharma Ali saat sidang Isbat di Gedung Kemenag, Jl MH Thamrin, Jakarta, Kamis (19/7) malam.
Penentuan satu Ramadan pada hari Sabtu 21 Juli tersebut juga disepakati oleh 17 ormas yang hadir dalam sidang isbat tersebut. Meskipun ada ormas yang berbeda pandangan, namun mereka pada akhirnya menyepakati bahwa saru Ramadan pada hari Sabtu, bukan Jumat.
"Apa yang sudah disampaikan 17 Ormas Islam telah merepresentasikan bahwa satu Ramadan itu jatuh pada hari Sabtu 21 Juli," terangnya. (mdk/war)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya