Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Saat demo besar, SBY sering tak ada di Jakarta

Saat demo besar, SBY sering tak ada di Jakarta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. merdeka.com/dok

Merdeka.com - Menjelang pengumuman kenaikan bahan bakar minyak (BBM), aksi demo seakan tiada henti. Di berbagai belahan Nusantara, termasuk di Jakarta, demo menentang kenaikan BBM terus bergulir. Sasaran empuk para demonstran sudah pasti bisa ditebak: Istana Merdeka.

Kepada siapa lagi demo besar-besaran itu dipusatkan ke Istana kalau bukan ditujukan ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Tapi pekikan suara penolakan kenaikan BBM ini tidak terdengar langsung oleh presiden lantaran sang orang nomor satu di Indonesia itu pergi.

Presiden SBY dalam beberapa hari ini sedang melakukan lawatan ke luar negeri, tepatnya China, Hongkong, dan Korea Selatan. Di beberapa negara tersebut, berbagai agenda presiden telah dijadwalkan, seperti melakukan pertemuan bilateral, bertemu dengan para pengusaha negara-negara yang didatangi, hingga melakukan pertemuan KTT Nuklir di Korsel. Presiden baru akan pulang ke Tanah Air pada 29 Maret besok.

Entah direncana atau tidak sengaja, saat demo-demo besar di Istana, presiden sering kali meninggalkan rumah dinasnya itu. Masih ingat 28 Januari 2010 lalu, saat tepat 100 hari pemerintahan Presiden SBY jilid II? Saat itu presiden didemo. Tuntutannya tak main-main: meminta dia supaya mundur dari jabatan presiden lantaran dianggap gagal memimpin 100 hari pemerintahan.

Presiden SBY saat itu tidak berada di istana. Melainkan menggelar acara di Banten, Jawa Barat. SBY meresmikan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Provinsi yang dipimpin oleh Ratu Atut Khosiyah tersebut.

Sebelumnya, saat demo besar memperingati Hari Antikorupsi Sedunia tepatnya 9 Desember 2009, Presiden SBY juga sedang tidak ada di Istana. Presiden dan rombongan berada di Bali untuk sebuah acara internal. SBY pun tak mendengar langsung ribuan demonstran yang didominasi oleh para mahasiswa itu beraksi.

Dua kejadian itu terulang lagi kemarin, Selasa (27/3). Saat demo besar mengepung Jakarta, presiden dan rombongan tidak ada di istana. Ribuan massa pun terpaksa harus berteriak-teriak di luar pagar istana yang tinggi dan kokoh itu, tanpa diperhatikan sang penghuni istana.

Bahkan, sebelum menuju istana, ribuan massa dihalau oleh polisi antihuru-hara. Dan bentrokan pun tidak dapat dihindari. Perang batu, bom molotov, serta gas air mata terjadi petang kemarin. Puluhan demonstran ditangkap, tak sedikit pula yang dipukuli dan terkena gas air mata. Ada juga polisi terkena lemparan batu demonstran.

29 Maret besok, presiden dan rombongan dijadwalkan akan tiba di Tanah Air dari serangkaian lawatannya ke luar negeri. Kalau tidak ada aral melintang, dijadwalkan presiden akan tiba sore hari. Nah, di saat yang sama, rencananya para buruh dan mahasiswa akan kembali turun ke jalan dan memperjuangkan tujuan yang sama: kembali menolak rencana kenaikan harga BBM.

Sementara, pada saat yang sama, DPR akan menggelar rapat paripurna untuk menentukan apakah kenaikan harga BBM tersebut resmi diterima atau ditolak. Jika kenaikan harga BBM resmi diketok DPR, kemungkinan demo-demo akan terus berlangsung.

Kita tunggu saja, apakah presiden akan langsung pulang ke istana, melewati para demonstran. Atau langsung pulang ke kediaman pribadinya di Cikeas, atau bahkan jauh menghindar ke tempat-tempat tak terduga. (mdk/has)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP