Psikiatri duga Jessica ke Indonesia kabur dari masalah di Australia
Merdeka.com - Sidang kematian Wayan Mirna Salihin dengan terdakwa Jessica Kumala Wongso menghadirkan saksi psikiatri forensik RSCM, dr Natalia Widiasih Raharjanti. Natalia turut memeriksa kejiwaan Jessica saat kasus ini tengah diselidiki kepolisian.
Dalam kesaksiannya hari ini, dari hasil pemeriksaan yang dilakukan Jessica ternyata ke Indonesia bukan untuk berlibur seperti pengakuannya saat diperiksa. Jessica justru ke Indonesia karena coba kabur dari segudang permasalahan di Australia.
"Dia (Jessica) alasan ke Indonesia untuk liburan. Tapi fakta yang didapat dari data, bahwa dia marah sama situasi saat itu, permasalahan yang banyak di Australia saat itu," kata Natalia dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (18/8).
Masalah tersebut, ungkap Natalia, salah satunya karena tak boleh pada Patrick yang tak lain adalah mantan pacarnya. Larangan tersebut karena Jessica sempat berkali-kali mengancam ingin bunuh diri saat Patrick buat masalah. Hal itu membuat Patrick tak nyaman hingga melaporkannya ke Kepolisian Australia. Hasilnya, Jessica tak boleh mendekati Patrick lagi.
"Akan kejadian itu, dia mengonsumsi alkohol banyak sampai membuat kegaduhan, yang salah satunya sampai menabrak rumah jompo hingga berujung melakukan persidangan. Jadi dia mau kabur dari situasi Australia," paparnya.
Dijelaskannya pula, ribut Jessica dan Patrick terjadi sekitar November 2015 lalu. Didera masalah itu, dia tak mendapat dukungan dari orang terdekat termasuk keluarga.
"Banyak permasalahan yang dialaminya, utamanya soal pacar, jarak waktu untuk melukai dirinya sangat pendek, mulai dari di tangan, kemudian sampai pada yang beresiko, minum alkohol, menabrak, yang mgkn sebab kan orang terluka," paparnya yang mengaku mendapatkan keterangan dari rekan Jessica di Australia bernama Kristi.
Natalia sempat ditanya jaksa kenapa Jessica tak mau menceritakan fakta yang sebenarnya. Dia mengatakan, ada alasan kenapa seseorang tak mau menceritalan fakta di satu kejadian.
"Salah satunya perlu ditanya apa yang buat dia enggak mau berikan informasi itu, kalau di luar itu kita enggak bisa bilang bohong, karena adjustment dia bagus. Dia paham info mana yang boleh diberikan dan tidak, dan itu dilakukan secara sadar," bebernya.
Saat dicecar apakah Jessica sengaja menahan informasi yang bisa merugikan dirinya? Dengan tegas Natalia menjawab tidak ingin berandai-andai.
"Kami belum dapat menilai seperti itu," jelasnya.
Dalam hal ini, hasil pemeriksaan pemeriksaan pihaknya di Australia, menyatakan bahwa Jessica tidak memenuhi misal kategori depresi. Namun hanya saja Jessica memang jika dalam tekanan, harus butuh seseorang dekat dengan dia.
"Butuh orang untuk meregulasi emosinya. Kalau tak ada, maka ia menggunakan alkohol yang memberikan resiko lebih besar. Potensi emosi besar apalagi kalau engga ada dukungan," tutupnya.
(mdk/lia)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya