Pengakuan Pak Harto soal perebutan RRI dan Halim dari PKI

Reporter : Mardani | Senin, 1 Oktober 2012 15:08




Pengakuan Pak Harto soal perebutan RRI dan Halim dari PKI
Letkol Untung. wikipedia.org

Merdeka.com - 1 Oktober, 47 tahun lalu menjadi hari yang menentukan bagi Mayjen Soeharto . Kiprahnya memadamkan Gerakan 30 September mengangkat namanya hingga dia menduduki posisi presiden. Ini pengakuan Pak Harto soal momen-momen penting 1 Oktober 1965 siang hingga sore hari.

Setelah mendapat laporan soal penculikan terhadap tujuh orang perwira tinggi AD, Mayjen Soeharto langsung bergerak cepat. Mayjen Soeharto saat itu langsung menggelar rapat staf dengan yang dihadiri oleh Kepala Staf Brigjen Achmad Wiranatakusumah, Ass Intel Kol Yogasugawa, Ass Operasi Kol Wahono, Ass IV Kol Djoko Basuki, dan Ass III Kol Sru Hardojo.

Dalam rapat itu, Pak Harto menjabarkan kondisi terkini. Kepada para bawahannya, dia memutuskan melawan Letkol Untung dan gerakan G30S-nya.

"Terserah kepada saudara-saudara sekalian, apakah akan mengikuti saya atau tidak. Sebab, kalau tidak melawan atau menghadapi mereka, toh kita akan mati konyol. Menurut pendapat saya, lebih baik mati membela negara dan Pancasila daripada mati konyol. Dengan ridho Tuhan, insya Allah kita akan diberi jalan untuk menumpas gerakan pemberontakan yang dipimpin si Untung itu. Bagaimana?," kata Mayjen Soeharto kepada peserta rapat seperti dikisahkan dalam Otobiografi Soeharto : Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya, terbitan PT Citra Lamtoro Gung Persada 1989.

"Kami ikut Pak Harto," jawab seluruh peserta rapat.

Usai rapat Pak Harto langsung memanggil Kol Sarwo Edhie Wibowo yang saat itu berada di Cijantung. Dengan menggunakan panser, Kol Sarwo Edhie kemudian tiba di Kostrad pukul 11.00 WIB dan menemui Pak Harto di ruangannya. Keduanya kemudian membicarakan soal rencana penyerangan RRI dan Telkom yang diduduki pasukan Letkol Untung.

"Atur rencana operasi sebaik-baiknya," perintah Mayjen Soeharto . "Siap segera kami laksanakan," jawab Letkol Sarwo Edhie

Mayjen Soeharto kemudian kembali menggelar rapat dengan para staf dengan peserta yang sama. Dalam rapat itu dibahas rencana untuk merebut Halim, karena Lanuma Halim merupakan tempat komando G30S. Saat itu, Pak Harto menyatakan, pusat komando pimpinan G30S berada di sekitar Halim, bahkan sejumlah tokoh pimpinannya berasal dari AU.

Saat rapat selesai, Pak Harto langsung meminta staffnya untuk segera menghubungi Kol Sarwo Edhiw untuk mempersiapkan rencana penyerangan itu. Namun, yang menjadi ganjalan saat itu adalah posisi Presiden Soekarno yang tengah berada di Halim. Saat ajudan Bung Karno, Kol KKO Bambang Widjanarko menemuinya, Mayjen Soeharto langsung memerintahkannya agar mengusahakan Bung Karno meninggalkan Halim sebelum tengah malam.

Sekitar pukul 13.30 WIB, Kol Sarwo Edhie bersama pasukan RPKAD datang ke Kostrad. Pak harto kemudian memerintahkan kepada Kol Sarwo Edhie untuk melanjutkan operasi perebutan RRI dan Telkom sebelum pukul 19.00 WIB.

"Siap! Kami telah siap dengan pasukan," kata Sarwo.

Setelah waktu magrib, pasukan RPKAD yang dipimpin Kapten RPKAD Heru dan Kapten Urip menyerang RRI dan Telkom. Sementara, Kol Sarwo Edhie menunggu di halaman Kostrad. Gedung RRI dan Telkom berhasil direbut tanpa adanya perlawanan. Anak buah Kol Untung dilaporkan telah melarikan diri.

Setelah dikuasai secara penuh, rekaman pidato Mayjen Soeharto disiarkan di RRI soal penculikan para perwira AD dan kepemimpinan sementara AD di tangannya.

"Saya puas. Langkah kemenangan pertama telah dilaksanakan dengan baik," kata Soeharto .

Selang berapa lama, Kol Sarwo Edhie kembali muncul dan mempertanyakan soal rencana penyerangan Halim. "Pak Harto, apa jadi kita melaksanakan rencana menguasai Halim? Agar gerakan pasukan jangan kesiangan dan untuk menghindari pertempuran," kata Sarwo Edhie.

Jenderal Nasution yang ketika itu tengah menyandarkan kakinya yang terluka akibat rencana penculikan kepadanya yang gagal tiba-tiba langsung menyela. "Sarwo Edhie, jij mau bikin tweede mapanget ya?"

Soeharto yang tadinya masih berpikir langsung memberi perintah kepada sang kolonel unuk segera melakukan penyerangan. "Ya, kerjakan sekarang juga!"

Dengan kekuatan pasukan lima kompi (kurang lebih 600 orang), pada tengah malam, Kol Sarwo Edhie langsung bergerak ke Halim. Sementara, Markas Kostrad sekitar pukul 23.30 WIB dipindahkan untuk satu malam oleh Soeharto ke Senayan, karena saat itu ada informasi bahwa AURI akan mengebom.

Halim akhirnya dapat dikuasai pasukan Kol Sarwo Edhie dengan sedikit pertempuran.

[tts]

KUMPULAN BERITA
# G30S

JANGAN LEWATKAN BERITA
Follow tag merdeka.com akan membantu untuk mendapatkan berita yang sesuai preferensi Anda. Misal Anda suka berita Anas Urbaningrum, masukkan email dan Anda hanya akan menerima berita seputar Anas Urbaningrum.

Let's be smart, read the news in a new way.
Tutup
Kirim ke teman Kirim copy ke email saya
Kirim ke

Free Content

  • URL Blog

  • Contoh : merdeka.wordpress.com

  • Email

  • Password


saya setuju menggunakan konten merdeka.com dan mengetahui bahwa merdeka.com tidak menyimpan informasi login saya






Komentar Anda


Be Smart, Read More
Back to the top

Today #mTAG iREPORTER
LATEST UPDATE
  • Keluarga Xperia Z3 hadir di Indonesia, berapa harganya?
  • 60 Polisi di Sukoharjo jalani tes urine
  • Orasi Budaya 2 Pasar Seni ITB 2014 sukses digelar
  • Tidur di kardus 3 hari demi siapkan speaker buat Jokowi di Priok
  • PDIP bantah Jokowi ada di rumah Mega untuk susun menteri
  • Kim Kardashian ultah, ini hadiah spesial dari sang ibu
  • PDIP akui Jokowi batal umumkan menteri karena laporan KPK
  • Beberapa tahanan KPK ketahuan selundupkan ponsel ke sel
  • Sewa sound system buat pengumuman menteri Jokowi Rp 30 juta/hari
  • Curhat si cantik Dian Sastro jadi istri playgirl
  • SHOW MORE