Memori rekaman Bung Karno, Gesang, dan Waldjinah di Lokananta

Reporter : Arie Sunaryo | Selasa, 11 Desember 2012 08:17




 Memori rekaman Bung Karno, Gesang, dan Waldjinah di Lokananta
Lokananta. ©2012 Merdeka.com

Merdeka.com - Sebagai studio musik, teknologi yang diterapkan Lokananta ketika itu termasuk salah satu yang terbaik di Asia. Sejak berdiri Lokananta menyimpan sekitar 5.200 judul lagu dari berbagai genre musik seperti pop, jazz, tradisional, gamelan, lagu-lagu daerah, hingga rekaman humor dari grup lawak yang sebagian besar merupakan rekaman sekitar tahun 1950 hingga 1960.

Banyak dokumen dan karya berharga yang tersimpan di sana. Diantaranya rekaman pidato Bung Karno pada 17 Agustus 1945 serta karya-karya masterpiece Gesang, Waldjinah, Buby Chen, Titiek Puspa, Bing Slamet, dan permainan gending dolanan/karawitan dalam bahasa jawa, gubahan dalang ternama Ki Narto Sabdo. Yang lebih membanggakan, lagu kebangsaan Indonesia Raya juga direkam di perusahaan rekaman tersebut.

"Studio Lokananta itu menyimpan banyak sejarah, menjadi pabrik piringan hitam pertama serta rekaman audio pertama di Indonesia. Menyimpan koleksi rekaman berharga, ada rekaman pidato Bung Karno pada 17 Agustus 1945, rekaman suara Gesang, Waldjinah, Buby Chen, Titiek Puspa, Bing Slamet serta lagu lagu jawa karya dalang ternama Ki Narto Sabdo. Perusahaan ini mengalami masa keemasan pada tahun 1950-an, hingga 1970-an. Tetapi sejak tahun 1990-an, perusahaan ini terus mengalami kemerosotan, bahkan pada tahun 2001, Lokananta dilikuidasi," ungkap Kepala Cabang Perum Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI) Lokananta Surakarta, Pendi Heryadi di Solo, Senin (10/12).

Kini Lokananta berada dalam nestapa. Lokananta dulunya merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) milik Departemen Penerangan (Deppen). Melalui kebijakan pemerintah, pada tahun 2004 berubah menjadi Perum PNRI Cabang Surakarta. Meskipun perusahaan rekaman Lokananta ini memiliki nama besar pada jamannya dan menyimpan banyak dokumen sejarah, tetapi lambat laun mulai ditinggalkan.

Produksi rekaman jauh merosot dibandingkan dengan pada jaman keemasannya dulu. Bahkan karena alasan tidak menghasilkan, studio rekaman berhenti beroperasi sekitar tahun 1999 hingga tahun 2009 dan tidak ada lagi anggaran dari pusat. Namun studio ini mulai digunakan lagi sejak tiga tahun terakhir.

"Semenjak tidak ada anggaran, kami kesulitan untuk melakukan operasional. Sejak diserahkan dari Deppen ke PNRI dari 18 karyawan yang bekerja disini, hanya saya yang berstatus pegawai PNRI, lainnya hanya karyawan lokal. Kami kesulitan untuk menggaji mereka," kata Pendi.

[tts]

KUMPULAN BERITA
# Lokananta

JANGAN LEWATKAN BERITA
Follow tag merdeka.com akan membantu untuk mendapatkan berita yang sesuai preferensi Anda. Misal Anda suka berita Anas Urbaningrum, masukkan email dan Anda hanya akan menerima berita seputar Anas Urbaningrum.

Let's be smart, read the news in a new way.
Tutup
Kirim ke teman Kirim copy ke email saya
Kirim ke

Free Content

  • URL Blog

  • Contoh : merdeka.wordpress.com

  • Email

  • Password


saya setuju menggunakan konten merdeka.com dan mengetahui bahwa merdeka.com tidak menyimpan informasi login saya






Komentar Anda


Be Smart, Read More
Back to the top

Today #mTAG iREPORTER
LATEST UPDATE
  • Orang religius terbukti lebih suka nonton film porno
  • Cerita istri sewa pembunuh bayaran mutilasi suami asal Inggris
  • Menguak misteri patung kayu tertua di dunia, Shigir Idol
  • Kekerasan rumah tangga tak sekedar tinggalkan luka fisik!
  • Serangan jantung, kakek 63 tahun tewas di gerbong KA Brantas
  • Kementerian (masih) tanpa menteri
  • Drama batalnya pengumuman menteri Jokowi di Priok
  • 5 Tanda orang Indonesia doyan belanja online
  • Tarik Ronaldo, Ancelotti sindir Messi
  • 4 Fakta Sukhoi TNI AU ancam pesawat Australia mendarat di Manado
  • SHOW MORE