Merdeka.com tersedia di Google Play


Mbah Dipo, penafsir tanda bahaya Semeru

Reporter : Yacob Billi Octa | Minggu, 20 Mei 2012 16:07


Mbah Dipo, penafsir tanda bahaya Semeru
Gunung Semeru. Merdeka.com/Arie Basuki

Merdeka.com - Semeru merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa dengan puncak tertinggi mencapai 3.676 meter dari permukaan laut. Bagi para pecinta alam, gunung yang termasuk dalam wilayah administrasi Malang dan Lumajang Jawa Timur ini merupakan gunung yang wajib didaki.

"Bukan seorang pencinta alam jika dia belum pernah mencapai Mahameru (puncak Gunung Semeru)," kata salah satu pecinta alam asal Surabaya, Hadi kepada merdeka.com, Minggu (20/5).

Gunung Semeru memang menjanjikan berjuta pemandangan indah ketika kita sampai di puncaknya. Menjadi saksi indahnya matahari terbit di ufuk timur merupakan ritual yang tidak boleh dilewatkan bagi para pendaki. Namun diantara keindahan Semeru, ternyata gunung yang dijuluki tempat abadi para dewa itu juga memiliki segudang cerita mistis. Seperti kemunculan tanda aneh saat Semeru menunjukkan aktifitas vulkanisnya dan itu tak dapat dinalar oleh akal sehat manusia.

Warga sekitaran lereng Gunung Semeru yakin, hanya satu orang yang bisa menafsirkan tanda yang ditunjukkan 'penguasa' Semeru jika gunung ini akan meletus. Pria itu pula lah yang menentukan kapan waktunya evakuasi. Warga menyebutnya Mbah Dipo, pria tua yang mengabdikan dirinya menjadi kuncen Semeru hingga akhir hayat.

Semasa mudanya, Mbah Dipo menghabiskan waktunya bertapa di Mahameru. Saking lamanya bertapa, rambut mbah Dipo hingga sepinggang. Mbah Dipo memiliki tiga istri.

Dalam menjalankan tugasnya sebagai kuncen, Mbah Dipo memiliki kebiasaan menarik. Dia akan mempersilahkan tamu untuk bermalam di rumahnya hingga mbah Dipo mengizinkannya pulang. Dia tidak akan mengizinkan pulang, meskipun tamu itu meminta izin pulang. Tetapi, jika mbah Dipo tidak menghendaki tamu itu bermalam, maka haram bagi tamu itu untuk bermalam. Jika melanggar, pasti ada kejadian yang bakal dialami oleh si tamu.

Selama hidupnya, Mbah Dipo menjamin warga yang tinggal lereng Gunung Semeru tidak akan terkena musibah selama dia menjadi kuncen. Dia bahkan menjamin keselamatan seluruh warga dusun itu.

Namun akibat suatu penyakit yang dideritanya, pada 2007 Mbah Dipo meninggal karena tidak mau di rawat di rumah sakit terdekat. Dia menolak berobat karena dokter pasti akan mengatakan tidak ada penyakit. Mbah Dipo meninggal di Dusun Kamar Kajang dan dimakamkan di belakang rumahnya.

Setelah kematian Mbah Dipo, tanggung jawab sebagai Kuncen Semeru kemudian diemban oleh eyang putri atau istri ketiga Mbah Dipo bernama Soeparti. Hal ini sesuai dengan wasiat Mbah Dipo sebelum meninggal.

[lia]

Komentar Anda


Smart people share this
Back to the top

Today #mTAG SPOTLIGHT iREPORTER TOP 10 NEWS
Most Viewed Editors' Pick Most Comments

TRENDING ON MERDEKA.COM

LATEST UPDATE
  • Tipe pria idaman Raisa, harus lucu!
  • Bayi berkepala dua lahir di Langkat
  • Kelab tari bugil di Kanada jadi tempat perayaan Paskah
  • Cerita seru Jefan Nathanio saat bintangi "TANIA"
  • Ariel NOAH masih enggan bicara soal Sophia Mueller
  • KPK tak akan sita lift gedung PBB pemberian Anggoro Widjojo
  • Tak direstui SBY, bukti Dahlan tak matang siapkan akuisisi BTN
  • HTC rilis smartphone dual core kamera 5MP seharga Rp 1,6 juta
  • Siswi SD pernah diperkosa sampai pingsan di toilet JIS
  • Meski berfasilitas mewah, kota di China ini tidak berpenghuni
  • SHOW MORE