Kisah kejayaan wisata kuliner Bandung

Reporter : Alwan Ridha Ramdani | Sabtu, 27 Oktober 2012 07:36




Kisah kejayaan wisata kuliner Bandung
Kuliner Bandung. ©2012 Merdeka.com

Merdeka.com - Hampir setiap akhir pekan, ribuan wisatawan masuk ke kota Bandung untuk sekadar ngadem, jalan jalan, atau berburu makanan khas Bandung. Fenomena makanan Bandung selalu jadi daya tarik wisatawan.

Periode awal 2000, di Bandung terkenal dengan makanan khas bernama cimol atau cilok digemol (makanan baso dari sagu). Lalu, seiring berjalannya waktu ada Brownies Amanda, Klapertart Bandung, kue kering Ina Cookies.

Sampai pada awal 2011 mulai booming yang berbau kripik pedas, seperti kripik Maicih, Karuhun dan yang merek lainnya yang dijual di kaki-kali lima atau toko oleh-oleh khas Bandung.

Ada juga makanan tradisional yang sudah menjadi ciri khas Bumi Priyangan sejak dulu di antaranya adalah batagor, cireng goreng, tempe goreng atau peuyeum Bandung. Bahkan, bagi penikmat kopi bisa berburu kopi Aroma yang hanya dijual di Jalan Banceuy bahkan Yoghourt Cisangkuy dan BMC. Pendek kata, Bandung menawarkan ragam wisata kuliner yang tidak ada habisnya. "Bandung memang diarahkan ke wisata kuliner," ujar Kepala Dinas Pariwisata Jawa Barat Jabar Nunung Sobari pada merdeka.com, Kamis (25/10).

Nunung mengakui dinamis dan bervariasinya makanan Bandung membuat daya tarik Ibu Kota Jawa Barat ini menjadi tujuan wisata. "Kami pun menbuat program Bandung sebagai pintu gerbang kuliner, tapi untuk menikmati panorama alam kami arahkan ke wilayah sekitar bandung, seperi Garut," katanya.

Dia mengatakan saat ini paling tidak lebih dari 200 unit cafe yang beroperasi di Kota Bandung. Dengan menawarkan menu tradisional, barat, ataupun varian menu yang dikembangkan oleh pengelola cafe Bandung. "Semakin variatifnya makanan dan kuliner bandung, akan membawa semakin banyak wisatawan," ujarnya.

Pengamat Ekonomi Universitas Pasundan Bandung, Acuviarta Kartabi mengatakan perputaran bisnis kuliner di Kota Bandung memberikan kontribusi pada industri pariwisata daerah. "Bandung masih bisa mengoptimalkan potensi wisata kulinernya," katanya.

Secara keseluruhan, kontribusi sektor perdagangan, hotel dan restauran di Kota Bandung mencapai 40 persen dari total PDRB. "Share dari bisnis kuliner mencapai 10 persen," katanya. Hari ini, merdeka.com akan menurunkan kisah sukses beberapa merk kuliner Bandung yang terbang ke seantero nusantara. Mulai dari cendol, bolen hingga kopi.

[cob]
Suka artikel ini ?
Kunjungi portal hao123 untuk akses internet aman dan nyaman


JANGAN LEWATKAN BERITA
Follow tag merdeka.com akan membantu untuk mendapatkan berita yang sesuai preferensi Anda. Misal Anda suka berita Anas Urbaningrum, masukkan email dan Anda hanya akan menerima berita seputar Anas Urbaningrum.

Let's be smart, read the news in a new way.
Tutup
Kirim ke teman Kirim copy ke email saya
Kirim ke

Free Content

  • URL Blog

  • Contoh : merdeka.wordpress.com

  • Email

  • Password


saya setuju menggunakan konten merdeka.com dan mengetahui bahwa merdeka.com tidak menyimpan informasi login saya






Komentar Anda


Be Smart, Read More
Back to the top
Today #mTAG
LATEST UPDATE
  • DPR minta pemerintah jelaskan ke masyarakat soal naik turunnya BBM
  • Berkedok biro perjalanan umroh, PNS Karanganyar tipu puluhan orang
  • Kronologi penjambret dikira begal tewas dihakimi massa di Jaksel
  • Insomnia, gangguan kesehatan atau penyakit?
  • Sosiolog UNJ: Jokowi tolak grasi, itu pengalihan isu KPK vs Polri
  • Pemilihan ketua umum PAN voting, kubu Zulkifli dan Hatta perang yel
  • Will Smith patahkan dominasi Fifty Shades of Grey
  • Mengharukan! Ini video gajah berkaki tiga pakai 'kaki' baru
  • Masih jual tiket di bandara, Lion Air disemprot Angkasa Pura
  • Kapolda Bali salahkan PAN soal kongres yang rusuh
  • SHOW MORE