Kondisi keluarga & masyarakat jadi stimulan anak jadi PSK

Reporter : Moch. Andriansyah | Minggu, 16 Juni 2013 08:37




Kondisi keluarga & masyarakat jadi stimulan anak jadi PSK
PSK. shutterstock

Merdeka.com - Keluarga adalah candradimuka-nya pendidikan anak. Sebelum memasuki dunia pendidikan formal, si anak dikenalkan dengan lingkungan yang paling dekat dengan dirinya oleh orang tuanya. Bahasa ibu adalah bahasa yang kali pertama dikenal seorang anak.

Jika bahasa ibu yang dikenalkan pada anak, jauh dari nilai-nilai moral, pada pertumbuhan mental si anak, justru makin makin menjauh dari nilai-nilai moral. "Lingkungan keluarga dan lingkungan sosial, menjadi stimulan bagi pertumbuhan mental seorang anak," kata Dosen Psikologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Bagus Ani Putra kepada merdeka.com, Minggu (16/6).

Jika benih yang ditanam dalam diri seorang anak adalah benih yang jelek, maka hasilnya akan jelek pula. "Jadi, peran orang tua sangat penting bagi pertumbuhan seorang anak. Orangtua harus bisa setiap saat memonitoring perkembangan mental si anak. Bukan memberi contoh yang tidak baik, sehingga anak menjadi tidak terkendali. Tidak bisa orang tua menyerahkan sepenuhnya masalah pendidikan kepada guru-guru di sekolah," kata dia.

Sementara pemerintah, yang terus bekerja memberantas prostitusi, tidak bisa bekerja sendiri. "Selain keluarga, lingkungan sosial (masyarakat) dan dunia pendidikan, peran pemerintah dan aparat kepolisian juga sangat dibutuhkan untuk membangun mental yang sehat bagi generasi-generasi bangsa. Yang dilakukan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini sudah sangat tepat, dengan terus mengupayakan pemberantasan kasus human trafficking, dan yang terbaru beliau ingin menutup seluruh lokalisasi di Kota Surabaya," kata Bagus memaparkan.

Melalui undang-undang, kata Bagus, pemerintah memiliki kekuatan untuk membuat peraturan yang bisa menekan kasus perdagangan manusia, baik secara fisik maupun di dunia maya. "Remaja, memiliki kodrat untuk meninggalkan keluarganya. Meninggalkan norma-norma penting di masyarakat. Untuk itu, keluarga, masyarakat, pemerintah, dan petugas kepolisian harus bersatu untuk menciptakan generasi-generasi yang lebih baik dan bermoral," harap dia.

Bagus juga mencontohkan, kasus kumpul kebo yang kemudian mendapat sanksi moral dari masyarakat dengan mengarak keliling kampung, adalah sangat baik untuk menginformasikan tindakan amoral atau asusila sangat tidak baik. Dengan begitu, masyarakat memberi dan memiliki norma tegas bagi pelanggar, ini baik untuk sanksi sosial, selain sanksi tegas secara hukum formal.

Sementara itu Ketua Ikatan Dai Area Lokalisasi (IDIAL) Jawa Timur, H A Sunarto As mengatakan, persoalan tidak akan pernah selesai jika pemerintah dan masyarakat tidak bersatu padu menuntaskan persoalan penyakit masyarakat tersebut.

"Pemerintah telah berupaya menyelesaikan masalah lokalisasi yang menjadi pusat segala kemaksiatan. Di sana bukan hanya menjadi tempat berkumpulnya para WTS, tapi juga menjadi tempat berkumpulnya para bandar narkoba, para perampok berbagi hasil, di sana juga menjadi sarang penyakit berbahaya. Di Surabaya, tahun 2013 seluruh WTS sudah harus dipulangkan, tapi dengan makin banyaknya prostitusi jalanan, masalah tidak akan pernah selesai," keluh dia.

Memang, diakui Sunarto, masalah kebutuhan seksual tidak bisa dihilangkan dalam diri manusia. "Namun, kita berkewajiban meminimalisir adanya praktik-praktik prostitusi. Kita harus memikirkan betul masalah prostitusi liar, pasca penutupan lokalisasi. Kasus NA, siswi SMP yang menjadi mucikari misalnya. Kita tidak bisa menutup mata. Masyarakat, pemerintah dan kepolisian harus tetap bekerjasama memberantas segala kemaksiatan, yang menjadi penyakit masyarakat," tegas dia.

Kasus NA ini, lanjut dia, sangat miris mendengarnya. "Tapi masalah ini juga harus mendapat perhatian serius dari semua komponen, termasuk masyarakat dan keluarga."

Sementara untuk masalah mental, pemerintah yang bekerjasama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur, telah membentuk jaringan dakwah, salah satunya IDIAL. "Lembaga IDIAL inilah yang bertugas merangkul WTS, agar kembali menjadi lebih baik. Para kiai atau ustadz yang berada dalam IDIAL, melakukan pendekatan secara persuasif keagamaan. Mengajak mereka memahami kehidupan seperti yang mereka pikirkan sendiri, bukan memaksa mereka menjadi seperti orang lain. Tentu dengan perlahan tapi pasti, mengajak mereka untuk kembali ke masyarakat secara normal," tandas dia.

[hhw]


JANGAN LEWATKAN BERITA
Follow tag merdeka.com akan membantu untuk mendapatkan berita yang sesuai preferensi Anda. Misal Anda suka berita Anas Urbaningrum, masukkan email dan Anda hanya akan menerima berita seputar Anas Urbaningrum.

Let's be smart, read the news in a new way.
Tutup
Kirim ke teman Kirim copy ke email saya
Kirim ke

Free Content

  • URL Blog

  • Contoh : merdeka.wordpress.com

  • Email

  • Password


saya setuju menggunakan konten merdeka.com dan mengetahui bahwa merdeka.com tidak menyimpan informasi login saya







Komentar Anda


Smart people share this
Back to the top


Today #mTAG SPOTLIGHT iREPORTER
TOP 10 NEWS
LATEST UPDATE
  • Pejabat Hamas minta Hizbullah bergabung untuk perangi Israel
  • Belasan orang tercebur di jembatan Wisata Mangrove dievakuasi
  • Abraham Samad diminta tak tergoda masuk kabinet Jokowi-JK
  • Mudik, bus ekonomi tidak laku
  • Arus balik H+3 Lebaran, Pelabuhan Bakauheni dipadati pemudik
  • Jembatan Wisata Alam Mangrove ambruk, belasan orang tercebur
  • Berkaos putih, ABG pria terseret ombak Pantai Selatan
  • Minah Girls Day pacaran dengan pemain bola Son Heung Min
  • Lima gambar paling misterius bikin merinding sejagat
  • Kisah tukang ganjal mobil dulang rupiah saat arus mudik
  • SHOW MORE