Kisah Bang Ali tampar bos kontraktor proyek
Merdeka.com - Di bawah kepemimpinan Ali Sadikin, Jakarta membangun. Bang Ali bertekad mengubah citra Jakarta dari big village alias kampung besar menjadi kota metropolitan.
Maka Bang Ali pun membangun gedung sekolah, taman rekreasi, puskesmas, jembatan penyeberangan, hingga hotel bertaraf internasional. Dalam setiap proyek, Bang Ali selalu turun langsung meninjau pengerjaannya.
Di sebuah proyek, Bang Ali terkejut bukan main. Ternyata pembangunan proyek itu macet lantaran kontraktor terlambat memasok semen. Bang Ali pun segera mengecek permasalahannya. Demikian ditulis dalam memoar Bang Ali karya Ramadhan KH.
Ternyata direktur perusahaan itu melanggar kontrak. Harusnya dia mengirim semen langsung dari pabriknya, bukan dari grosir atau tangan ketiga. Tentu saja hal ini memperlambat pekerjaan.
Maka Bang Ali minta agar direktur perusahaan pemasok semen itu dipanggil. Pada panggilan pertama dan kedua, direktur itu mangkir. Baru pada panggilan ketiga sang direktur hadir. Orangnya ternyata masih muda.
Bang Ali bertanya kenapa sampai terlambat. Apakah dia tidak sadar bahwa proyek ini untuk kepentingan warga ibukota? Ternyata jawabannya berbelit-belit dan tidak jelas. Bang Ali pun naik pitam. Plak! Dia menampar direktur itu. Tidak cukup sekali, Bang Ali menamparnya tiga kali. Plak! Plak! Plak!
"Saya marah sekali, saya tempeleng dia tiga kali. Barulah dia berjanji akan segera memenuhi kontraknya. Benar juga, pada hari berikutnya kiriman semen sudah masuk ke proyek," kata Bang Ali.
Beberapa hari kemudian, telepon berdering di kantor Gubernur. Rupanya ayah sang direktur yang menelepon. Ajudan Bang Ali yang mengangkatnya. Si ayah malah berterima kasih pada Bang Ali karena menempeleng anaknya.
"Tolong sampaikan terima kasih saya pada Pak Gubernur. Bapak Gubernur telah mengajar anak saya," katanya.
Nah, kalau pembangunan di Jakarta macet, beranikah Jokowi atau Foke tampar bos proyeknya? (mdk/ian)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya