Ketika polisi berani membangkang perintah komandan

Reporter : Didi Syafirdi | Kamis, 20 September 2012 06:00




Ketika polisi berani membangkang perintah komandan
ilustrasi. merdeka.com/dok

Merdeka.com - Mutasi di tubuh Polri mulai dari pangkat bintara hingga jenderal adalah hal yang lumrah. Sebagai seorang prajurit sudah seharusnya polisi siap ditempatkan di mana saja. Namun berbeda dengan polisi di Parepare, Sulawesi Selatan. Mereka berdemo karena menolak dipindah tugaskan.

Sekitar 150 polisi dari berbagai satuan di Polresta Parepare berunjukrasa di depan kantornya Rabu (19/9). Aksi ini dilakukan karena mutasi dianggap tidak beralasan. Pimpinan dinilai semena-mena memutasi mereka ke beberapa daerah.

Padahal mutasi ini cukup beralasan karena di Kabupaten Luwu Timur, Tana Toraja, dan Kabupaten Enrekang serta Mamuju jumlah polisi masih sangat minim. Dan mutasi ini dilakukan Polresta Parepare berdasarkan petunjuk Polda Sulselbar.

Kepala Bidang Humas Polda Sulselbar, Kombes Chevy Ahmad Sopari mencontohkan, di Polres Enrekang, antara polisi dan masyarakatnya satu berbanding delapan ratus. "Sehingga perlu penambahan personel dari daerah yang dianggap terlalu gemuk," katanya.

Namun penjelasan ini tetap saja tak bisa diterima para polisi yang membangkan itu. Bahkan para pengayom masyarakat ini mengancam akan kembali melakukan aksi dengan membawa istri dan anak-anak mereka.

Kabar ini langsung direspon oleh Kabareskrim Mabes Polri Komjen Sutarman. Mantan Kapolda Metro itu mengingatkan para polisi pembangkang itu agar taat pada aturan yang berlaku.

"Kalau dia menolak perintah, ada aturan yang terkait etika dan profesi," tegas Sutarman.

Sutarman juga menegaskan, jika proses mutasi tidak dilakukan secara sembarangan. Pemimpin polisi di masing-masing daerah memiliki pertimbangan khusus, dna tentunya disesuaikan dengan kebutuhan.

"Mutasi itu harusnya sudah wanjak melalui perhitungan," kata jenderal bintang tiga ini.

Baru-baru ini Polri melakukan mutasi sejumlah perwira tinggi. Salah satunya Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Anang Iskandar dimutasi menjadi gubernur Akpol menggantikan Irjen Djoko Susilo yang tersangkut kasus simulator SIM. Posisi Anang diisi oleh Wakapolda Brigjen Suhardi Alius. Semua berjalan normal tanpa ada protes dari para jenderal.

[did]
Kunjungi portal hao123 untuk akses internet aman dan nyaman

KUMPULAN BERITA
# Mutasi Polri

JANGAN LEWATKAN BERITA
Follow tag merdeka.com akan membantu untuk mendapatkan berita yang sesuai preferensi Anda. Misal Anda suka berita Anas Urbaningrum, masukkan email dan Anda hanya akan menerima berita seputar Anas Urbaningrum.

Let's be smart, read the news in a new way.
Tutup
Kirim ke teman Kirim copy ke email saya
Kirim ke

Free Content

  • URL Blog

  • Contoh : merdeka.wordpress.com

  • Email

  • Password


saya setuju menggunakan konten merdeka.com dan mengetahui bahwa merdeka.com tidak menyimpan informasi login saya






Komentar Anda


Be Smart, Read More
Back to the top

Today #mTAG
LATEST UPDATE
  • Dari ODHA, Happy Salma Belajar Tentang Kehidupan
  • MD3 gagal masuk prolegnas, islah KMP-KIH berantakan
  • 4 Kondisi memprihatinkan sektor energi nasional
  • Sejarah berulang di Ferguson, kebencian tak mati-mati
  • Hemat, Pemprov DKI larang rapat di hotel dan hapus honor PNS
  • Aktris Hong Kong Selena Li lebih peduli durian daripada awards
  • Mitos 'kesaktian' tumbuhan yang cuma ada di Indonesia
  • Bupati akan kembalikan Gunung Kemukus sebagai wisata ziarah
  • 4 Fakta di balik uang Rp 100.000 bersambung
  • Surat Menteri Yuddy soal singkong diterapkan di Ditjen Migas
  • SHOW MORE