Jokowi Ungkap Kondisi Dunia Sedang Sulit Akibat Pandemi dan Dampak Perang
Merdeka.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, saat ini kondisi sangat sulit sedang dialami oleh hampir semua negara di dunia. Terutama dalam hal pengelolaan keuangan negara atau pengelolaan APBN.
Hal tersebut dipicu oleh disrupsi kronis akibat revolusi industri 4.0 yang membuat semua negara tergagap-gagap. Kemudian dihantam disrupsi akut karena pandemi Covid-19 hingga terjadinya perang antara Ukraina melawan Rusia.
"Betapa sangat sulitnya pengelolaan keuangan negara, ekonomi betapa sangat sulitnya. Tetapi Alhamdulillah kita bisa menjalaninya, mengelola keuangan, mengendalikan Covid dengan baik, kalau dibandingkan dengan negara- negara lainnya," ujar Jokowi saat memberikan pengarahan di Sidang Terbuka Senat Akademik Dies Natalis ke-46 Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, Jumat, (11/3).
Artinya, dikatakan Jokowi, masa depan global saat ini semakin penuh dengan ketidakpastian.
Presiden mengaku telah berdiskusi dengan beberapa pimpinan negara besar. Di antaranya dengan Kanselir Jerman, Olaf Scholz yang menelponnya dua hari lalu. Sehari setelahnya giliran Perdana Menteri Jepang, Fumio Kishida yang menghubunginya.
"Mereka menyampaikan hal yang sama tentang kondisi saat ini. Pandemi yang belum rampung, ada tambahan perang, sehingga semuanya sulit diprediksi. Hal hal yang dulu tidak kita perkiraan, semuanya muncul," katanya.
Di antaranya, kelangkaan energi yang dialami hampir semua negara diikuti munculnya perang harga yang menyebabkan naik berlipat. Tahun 2020, lanjut dia, harga minyak mentah berkisar 60 US$/barel dan hari ini melambung hingga 115 US$/barel. Bahkan seminggu sebelumnya sudah mencapai 130 US$/barel.
"Dua kali lipat. Semua negara penjualannya ke masyarakat sudah naik juga. Kita di sini masih nahan-nahan. Bu menteri saya tanya, sampai kapan kita bertahan. Kita nahan-nahan terus," katanya.
Jokowi juga menyampaikan, saat ini beberapa negara juga sudah mengalami kelangkaan pangan. Indonesia, lanjut Jokowi, juga terkena imbas naiknya harga kedelai. Begitu juga harga gandum juga naik drastis.
"Kita cuma naik sedikit. Tapi sampai kapan kita bisa nahan seperti ini?" katanya.
Jokowi juga menyinggung masalah kelangkaan kontainer. Di saat kondisi norma. Menurut mantan Wali Kota Solo itu, begitu mudahnya mencari kontainer yang dipicu kenaikan moda angkutan industri tersebut yang berlipat-lipat.
Akibatnya barang-barang logistik pun juga mengalami kenaikan setelah sampai di tingkat konsumen. Karena terbebani harga sewa kontainer yang sangat mahal.
"Efeknya ke mana-mana. Kemudian yang terjadi adalah kenaikan inflasi. Artinya harus hati- hati mengelola ekonomi saat ini. Ekonomi makronya dikelola, tapi mikronya tidak diperhatikan, bisa buyar. Artinya apa, kerja sekarang ini harus kerja detail. Kalau nggak detail tidak akan menyelesaikan masalah,” tandasnya.
Jokowi bersyukur tingkat inflasi Indonesia masih terkendali, yakni 2,2 persen. Jauh lebih baik dibandingkan Turki, Amerika, India, Rusia dan lainnya.
"Situasi dunia seperti ini, kuncinya adalah kecepatan berubah dan bisa memanfaatkan peluang-peluang yang ada. Ini yang akan kita lakukan. Oleh sebab itu perlu stabilitas," ucapnya.
Menurutnya, yang harus dilakukan saat ini salah satunya dengan transformasi ekonomi. Dalam posisi seperti ini, lanjut dia, keberanian transformasi ekonomi akan memberikan peluang atau manfaat jangka panjang yang lebih baik.
(mdk/lia)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya