Imbauan wapres soal azan jangan ditanggapi emosional
Merdeka.com - Pidato Wakil Presiden Boediono tentang pengeras suara masjid saat membuka Muktamar Dewan Masjid Indonesia Jumat (27/4) lalu menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat. Namun Majelis Ulama Indoensia Jawa Barat (MUI Jabar) justru menilai beda.
Menurut Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat, Rafani Ahyar, tidak ada yang perlu dipermasalahkan terkait imbauan tersebut. Harusnya itu dijadikan bahan renungan untuk semua kalangan.
"Tidak harus emosional kepada wapres. Ucapan wapres jadikan sebagai bahan renungan. Ini PR bersama," katanya saat ditemui wartawan di kantor MUI Jabar, Selasa (1/5).
Dari pihak MUI sendiri mengaku pernah membahas soal pengaturan pengeras suara. Tapi bukan untuk azan, melainkan untuk khotbah salat Jumat atau pun khotbah dini hari.
"Kalau azan menurut kami tidak harus diatur. Azankan manggil orang untuk salat," jelas Rafani.
Selama ini yang ia ketahui baik umat muslim atau non muslim tidaklah ada yang terusik, karena adzan itu sifatnya sama atau dari dahulu hingga saat ini tidak berbeda.
"Bebaskan saja, toh waktunya berapa, paling lama mungkin lima menit. Isinya itu saja suara sama," jelasnya.
Selain itu kata Rafani, fungsi pengeras suara juga hanyalah sebatas untuk mengajak orang salat dengan panggilan ketentraman bukan provokasi.
"Tidak ada yang disalahkan disini. Positif thinking saja," ungkapnya. (mdk/lia)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya