Di Makassar, Dimas Kanjeng selalu jalan di atas karpet merah
Merdeka.com - Setelah pengusutan kasus dugaan tindak penipuan yang dilakukan Kanjeng Dimas Taat Pribadi oleh penyidik Polda Sulsel hingga ke Makassar, warga sekitar Jalan Bontobila 1, Kelurahan Batua, Kecamatan Manggala, Makassar tepatnya di rumah No 18 milik Marwah Daud Ibrahim mulai berani angkat bicara.
Sebagian ada yang menyebut tersangka otak pembunuhan juga tersangka kasus dugaan praktik penggandaan uang ini baru satu kali datang ke Makassar menggelar pengajian. Sementara warga lain mengaku, Kanjeng Dimas yang akrab dipanggil Pak Kanjeng oleh warga sekitar ini sering datang sejak tiga tahun terakhir. Kalau datang, selalu dipenuhi kebesaran.
"Kalau datang, Pak Kanjeng selalu mengenakan pakaian kebesaran khas Jawa. Kalau turun dari mobil, langsung dijemput dengan karpet merah. Jadi dia itu tidak pernah injak tanah," kata Eka, salah seorang ibu rumah tangga, warga Jalan Bontobila 1 yang tinggalnya bersebelahan dengan padepokan tempat Pak Kanjeng, Selasa (4/10).
Saat Pak Kanjeng menggelar pengajian berupa yasinan dan istighosah, kata Eka, yang datang itu ribuan orang. Tapi umumnya orang dari luar daerah. Awal-awalnya tahun 2013, pengajiannya hanya satu kali seminggu, tiap hari Jumat. Selanjutnya, digelar 2 kali seminggu yakni tiap hari Jumat dan Senin.
"Meski selalu ribuan orang datang, tidak pernah bentrok dengan warga," kata Eka.
Sementara Arwan, ketua Forum Kemitraan Perpolisian Masyarakat (FKPM) Kelurahan Batua mengatakan, sebenarnya pernah nyaris ribut di lokasi pengajian itu gara-gara jadwal pengajian dan parkiran.
"Kalau pengajian sampai subuh hari, ini dianggap mengganggu istirahat warga sehingga dikomunikasikan dengan pihak Yayasan Bontobila yang mengelola pengajian itu dan jadwal pengajian diubah jadi hingga pukul 00.00 malam saja. Selanjutnya, karena tiap kali pengajian selalu dihadiri ribuan orang sehingga kendaraan pun numpuk. Otomatis mengganggu akses warga karena kendaraan memenuhi sampai lorong-lorong rumah warga. Hal ini juga dikomunikasikan sehingga parkirannya pun ditepikan melibatkan warga sebagai tukang parkirnya," kata Arwan.
Rumah Marwah Daud Ibrahim itu dijadikan tempat pengajian dan dijadikannya posko Iramasuka. Juga jadi tempat kegiatan-kegiatan sosial.
"Ada beberapa anak-anak kurang mampu di Jalan Bontobila ini yang dibina oleh ibu Marwah dan dimasukkan ke pesantren. Di rumah itu juga dijadikan tempat praktik pertanian dan perkebunan. Anak-anak diajari merakit alat-alat pertanian. Selanjutnya dijadikan tempat pengajian," kata Arwan.
(mdk/hhw)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya