Merdeka.com tersedia di Google Play


Cerita pempek Palembang mampir di Jakarta

Reporter : Pandasurya Wijaya | Sabtu, 15 Juni 2013 12:42


Cerita pempek Palembang mampir di Jakarta
pempek. ©blogspot.com

Merdeka.com - Pempek menjadi makanan populer asal Kota Palembang, Sumatera Selatan yang dikenal rakyat Indonesia sejak tahun 1980-an. Pada masa itu pempek biasa dijajakan penjual di Palembang yang memikul sekeranjang pempek sambil berkeliling jalan kaki.

Sejak itu pempek menjadi lebih mudah ditemui di Palembang. Ada yang menjual di restoran, ada yang di gerobak, dan juga ada yang dipikul. Juga setiap kantin sekolah pasti ada yang menjual pempek. Di Palembang atau di seantero Sumatera Selatan sendiri pempek biasa dijadikan makanan pokok. Namun seiring waktu dan makin tersebarnya pempek ke tempat lain di Indonesia pempek lebih dikenal sebagai camilan atau makanan ringan.

Salah satu merek pempek yang terkenal adalah Pempek Pak Raden. Awalnya Pempek Pak Raden ini berdiri di daerah Bukit di Palembang pada 1984. Pendirinya yaitu Ahmad Rivai Husein.

Pempek ini dinamai "Pak Raden" karena mengambil nama dari paman sang pengelola Muhammad Husein. Pak Raden alias Husein lah kemudian memotivasi Rivai untuk mendirikan usaha pempek serta kiat agar dagangan laris dan sukses.

Setelah berkembang, lantas usaha Rivai diteruskan oleh Muhammad Zein, yang masih satu keluarga. Kepada merdeka.com, dia mengaku berniat melanjutkan usaha Rivai karena melihat istrinya yang hobi memasak.

"Awalnya dari hobi istri yang suka memasak. Jadi kami mengembangkan hobi istri saya agar dapat menghasilkan," kata Muhammad Zein.

Zein memulai usahanya ini dari warung kecil-kecilan di Palembang lalu melanjutkan membuat ruko. "Modal awalnya cukup besar hingga Rp 500 juta, sudah termasuk bahan baku, sewa ruko, dan lain-lain," kata dia.

Seiring perjalanan waktu, pempek Pak Raden bisa meraup omzet hingga Rp 2 juta per hari.

Kemudian, Pak Raden merambah ke kota lain, membuka cabang hingga ke Jakarta pada tahun 2000, tepatnya di daerah sekitar Pasar Minggu.

Saat ini, terhitung ada lima kedai Pak Raden di Palembang, dua di Jambi, dua di Lampung, satu di Bandung, dan empat kedai di Jakarta.

Dalam penggunaan bahan bakunya, yang membedakan pempek Pak Raden dengan pempek yang lain adalah penggunaan jenis ikan yang dipakai. Berbeda dengan pempek lainnya, mereka menggunakan ikan air tawar sebagai bahan baku utamanya, yakni ikan gabus. Ikan gabus digunakan agar rasa dan aroma khas pempek tidak berbau amis seperti kebanyakan pempek lainnya.

Proses pembuatan pempeknya sendiri tidak ada perbedaan dengan pempek lainnya, yakni dengan menggiling ikan dan mencampurnya dengan tepung serta bumbu lainnya. Tidak lupa racikan air cuka untuk bumbu pempek yang menjadi salah satu poin penting dalam citarasa pempek.

[lia]

KUMPULAN BERITA
# Kuliner Indonesia

Kirim ke teman Kirim copy ke email saya
Kirim ke

Free Content

  • URL Blog

  • Contoh : merdeka.wordpress.com

  • Email

  • Password


saya setuju menggunakan konten merdeka.com dan mengetahui bahwa merdeka.com tidak menyimpan informasi login saya


JANGAN LEWATKAN BERITA FOLLOW MERDEKA.COM
Follow tag merdeka.com akan membantu untuk mendapatkan berita yang sesuai preferensi Anda. Misal Anda suka berita Kuliner Indonesia, masukkan email dan Anda hanya akan menerima berita seputar Kuliner Indonesia.

Let's be smart, read the news in a new way.
Tutup






Komentar Anda


Smart people share this
Back to the top

Today #mTAG SPOTLIGHT iREPORTER TOP 10 NEWS
LATEST UPDATE
  • Kubu Romi batalkan 6 SK pemberhentian fungsionaris PPP
  • Romi ngaku tak diundang SDA saat deklarasi koalisi PPP-Gerindra
  • Kisruh PPP, Emron sebut Djan Faridz berperan besar pengaruhi SDA
  • 'Petinggi partai Islam abaikan keinginan umat untuk bersatu'
  • Rapat pengurus harian PPP beri sanksi ke SDA
  • Romi: Dukungan pada Prabowo batal demi hukum
  • Panwas Kabupaten Blitar keluarkan rekomendasi pemilu ulang
  • Dukung Prabowo, PPP harus lepas simbol Islam
  • Ruhut: Di TPS-TPS Medan aku paling tinggi
  • Rouhani: Kami inginkan perdamaian dan stabilitas dunia
  • SHOW MORE