Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Banser Vs Setia Hati Teratai berbuntut panjang

Banser Vs Setia Hati Teratai berbuntut panjang Polisi patroli. AFP

Merdeka.com - Kasus penyerangan Kantor Ranting Nahdlatul Ulama (NU) di Desa Wonokromo, Kec Gondang, Tulungagung, Jawa Timur, oleh 200 anggota perguruan silat Setia Hati Teratai (SHT) pada Minggu (27/5), berbuntut panjang.

Kepala Satkorwil Banser Jawa Timur, Imam Kusnin, meminta aparat kepolisian tidak main-main menangani kasus tersebut. Sebab, dalam penyerangan itu, selain merusak lambang NU, dua anggota Barisan Serbaguna (Banser) juga terkena sabetan parang.

Dua anggota Banser itu adalah Moh Rizal Saputra (15) dan Brilian Kusuma Adi (18) asal Desa Kauman, Tulungagung.

"Ini persoalan serius. Aparat kepolisian harus tegas dan jangan main-main. Selama ini, baik Banser maupun NU, tidak pernah ada masalah dengan perguruan SHT. Tapi kenapa hal ini terjadi? Kejadian itu tentunya sangat menciderai NU sebagai Ormas, yang juga induk organisasi dari Banser," terang Kusnin, Rabu (30/5)

Dan apabila pengusutan kasus ini berlarut-larut, kata dia lagi, dikhawatirkan akan muncul sikap solidaritas dari anggota Banser lainnya, dan akan terjadi bentrok massal.

Sekadar catatan di Tulungagung, tercatat ada 14 ribu anggota Banser, dan 1.200 di antaranya, baru saja mengikuti pendidikan dan pelatihan (Diklat).

Maka dari itu, Kusnin meminta pihak kepolisian segera melakukan pengusutan tuntas kasus tersebut. "Kami juga tidak bisa menahan pasukan terlalu lama. Sejauh ini, kami masih berusaha meredam pasukan agar menyerahkan kasus ini ke aparat penegak hukum," katanya lagi dengan nada geram.

Informasinya, kata Kusnin, pelaku pengerusakan lambang NU dan pembacokkan dua anggota Banser tersebut sekitar 200 orang lebih. Dan dari total pelaku itu, enam di antaranya diamankan polisi. "Dua orang ditetapkan sebagai tersangka dan empat orang dilepas oleh pihak Polres Tulungagung karena kurang cukup bukti," beber Kusnin.

Pihak Banser sendiri, masih menurut Kusni, sudah melakukan upaya damai. Pihaknya mencoba bersikap proaktif untuk menyeleseiakn persoalan tersebut dengan sejumlah petinggi perguruan SHT.

"Kita mengundang pihak SHT melalui surat. Namun, sampai kemarin belum ada yang datang. Kalau secara personal, sudah kita sampaikan, tolonglah teman-teman SHT bertemu dengan teman-teman NU agar persoalan ini tidak semakin besar," pinta dia.

Peristiwa penyerangan itu sendiri, menurut Kusnin, terjadi pada Minggu sore di Kantor Ranting NU Desa Wonokromo. Dua anggota Banser luka disabet parang.

 

Akibat sabetan itu, bagian punggung Adi, terpaksa mendapat tujuh jahitan karena mengalami luka bacok. Sementara Rizal mengalami luka pada bagian pantat dan terpaksa mendapat sembilan jahitan.

"Saat penyerangan itu, keduanya usai mengikuti acara jalan sehat dalam rangka memperingati Harlah NU ke-89 dan masih mengenakan seragam," pungkas dia. (mdk/ian)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP