Bacakan pledoi, Wa Ode berkeras tidak ada bukti penerimaan suap

Reporter : Aryo Putranto Saptohutomo | Selasa, 9 Oktober 2012 20:35




Bacakan pledoi, Wa Ode berkeras tidak ada bukti penerimaan suap
Sidang Wa Ode Nurhayati. ©2012 Merdeka.com/dwi narwoko

Merdeka.com - Terdakwa kasus penerimaan hadiah terkait alokasi anggaran Dana Penyesuaian Infrastruktur Daerah (DPID), Wa Ode Nurhayati, tetap membantah menerima suap dari pengusaha Haris Andi Surahman dan Fahd El Fouz. Hal itu dia tegaskan dalam nota pembelaan (pledoi) dibacakan hari ini.

"Jaksa berkesimpulan saya selalu berkomunikasi dan mengkonfirmasi adanya penyerahan uang dari keterangan Haris yang menyebutkan adanya kata-kata 'Oke, serahkan saja ke Sefa'," kata Wa Ode Nurhayati dalam sidang lanjutan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Selasa (9/10).

Menurut mantan anggota Badan Anggaran DPR-RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional itu, dakwaan dan tuntutan jaksa hanya dilandasi kesaksian Haris, tanpa didukung oleh pembuktian materil kuat.

Menurut Wa Ode Nurhayati, tidak ada bukti penyadapan berisi rekaman pembicaraan atau bukti pesan singkat dapat menguatkan pernyataan Haris. Apalagi membuktikan adanya penerimaan uang oleh dia.

Politikus PAN itu mengatakan dia tidak tahu tentang niat pemberi hadiah. Sebab, uang dikembalikan bukan karena ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. Tetapi, dilakukan karena komitmen menjalankan tugas.

"Fakta persidangan telah terbukti secara sah dan meyakinkan bahwa pemberian uang dari penyandang dana kepada Fahd tidak berkaitan dengan saya. Dan Fahd dengan jujur mengakui adanya pengembalian hadiah tersebut," ujar Wa Ode Nurhayati.

Pekan lalu Wa Ode Nurhayati dituntut empat tahun penjara dalam perkara kasus korupsi Dana Penyesuaian Infrastruktur Daerah. Selain itu, jaksa penuntut umum menuntut sepuluh tahun penjara dalam kasus Tindak Pidana Pencucian Uang. Dia juga dikenai denda Rp 1 miliar, tiap perkara Rp 500 juta.

Usai sidang, Wa Ode Nurhayati mengatakan akan membuat sendiri pledoi dan tim pengacara juga akan membuat nota pembelaan.

Wa Ode didakwa menerima suap Rp 6,5 miliar dari tiga pengusaha, yakni yakni Fahd El Fouz atau Fahd A Rafiq, Paulus Nelwan, serta Abram Noach Mambu. Hal itu terkait pengalokasian dana penyesuaian infrastruktur daerah (DPID). Politikus Partai Amanat Nasional itu juga didakwa melakukan tindak pidana pencucian uang.

Dalam surat dakwaan tim jaksa KPK tercantum dalam kurun waktu Oktober 2010 sampai September 2011, Wa Ode melakukan beberapa kali transaksi uang masuk ke rekening Bank Mandiri KCP DPR RI seluruhnya berjumlah Rp 50,5 miliar. Uang itu diduga sebagai hasil tindak pidana korupsi berkaitan dengan pelaksanaan tugas dan wewenang Wa Ode selaku anggota Komisi VII DPR dan anggota Badan Anggaran DPR.

Jaksa menduga Wa Ode secara formal tidak memiliki penghasilan lain di luar gaji, tunjangan, dan honorarium sebagai anggota DPR. Sebab, sejak dilantik sebagai anggota DPR pada Oktober 2009 sampai September 2011, penghasilan Wa Ode sebagai anggota DPR yang masuk ke rekening Bank Mandirinya hanya Rp 1,6 miliar. Sementara simpanan di rekening lainnya berjumlah Rp 500 juta.

Atas perbuatannya itu, Wa Ode pun dijerat dengan Pasal 12 huruf a atau b Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Pasal 5 Ayat 2 dan atau Pasal 11 undang-undang yang sama. Ancaman hukumannya maksimal 20 tahun penjara. Jaksa juga menjerat Wa Ode Dana Penyesuaian Infrastruktur Daerah (DPID), Wa Ode Nurhayati, tetap membantah menerima suap dari pengusaha Haris Andi Surahman dan Fahd El Fouz. Hal itu dia tegaskan dalam nota pembelaan (pledoi) dibacakan hari ini.

"Jaksa berkesimpulan saya selalu berkomunikasi dan mengkonfirmasi adanya penyerahan uang dari keterangan Haris yang menyebutkan adanya kata-kata 'Oke, serahkan saja ke Sefa'," kata Wa Ode Nurhayati dalam sidang lanjutan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Selasa (9/10).

Menurut mantan anggota Badan Anggaran DPR-RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional itu, dakwaan dan tuntutan jaksa hanya dilandasi kesaksian Haris, tanpa didukung oleh pembuktian materil kuat.

Menurut Wa Ode Nurhayati, tidak ada bukti penyadapan berisi rekaman pembicaraan atau bukti pesan singkat dapat menguatkan pernyataan Haris. Apalagi membuktikan adanya penerimaan uang oleh dia.

Politikus PAN itu mengatakan dia tidak tahu tentang niat pemberi hadiah. Sebab, uang dikembalikan bukan karena ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. Tetapi, dilakukan karena komitmen menjalankan tugas.

"Fakta persidangan telah terbukti secara sah dan meyakinkan bahwa pemberian uang dari penyandang dana kepada Fahd tidak berkaitan dengan saya. Dan Fahd dengan jujur mengakui adanya pengembalian hadiah tersebut," ujar Wa Ode Nurhayati.

Pekan lalu Wa Ode Nurhayati dituntut empat tahun penjara dalam perkara kasus korupsi Dana Penyesuaian Infrastruktur Daerah. Selain itu, jaksa penuntut umum menuntut sepuluh tahun penjara dalam kasus Tindak Pidana Pencucian Uang. Dia juga dikenai denda Rp 1 miliar, tiap perkara Rp 500 juta.

Usai sidang, Wa Ode

[bal]
Kunjungi portal hao123 untuk akses internet aman dan nyaman

KUMPULAN BERITA
# PPID# Wa Ode

JANGAN LEWATKAN BERITA
Follow tag merdeka.com akan membantu untuk mendapatkan berita yang sesuai preferensi Anda. Misal Anda suka berita Anas Urbaningrum, masukkan email dan Anda hanya akan menerima berita seputar Anas Urbaningrum.

Let's be smart, read the news in a new way.
Tutup
Kirim ke teman Kirim copy ke email saya
Kirim ke

Free Content

  • URL Blog

  • Contoh : merdeka.wordpress.com

  • Email

  • Password


saya setuju menggunakan konten merdeka.com dan mengetahui bahwa merdeka.com tidak menyimpan informasi login saya






Komentar Anda


Be Smart, Read More
Back to the top

Today #mTAG
LATEST UPDATE
  • Di penjara, tahanan KPK masih dapat banyak fasilitas
  • Pembahasan revisi UU MD3 deadlock, Menkum HAM lapor ke Jokowi
  • Ini cara Menaker agar buruh tak terus demo minta kenaikan UMP
  • KPK ungkap Wawan tahanan berkocek paling tebal di rutan
  • Unsur penghinaan surat protes Akil dan Anas di rutan nihil
  • Jaksa Agung sesumbar akan lanjutkan semua kasus yang mangkrak
  • Ranking FIFA: Jerman kokoh, Inggris melompat
  • Ranking FIFA: Indonesia tempati posisi 157 dunia
  • Malam ini, Akbar Tandjung kumpulkan pengurus Wantim Golkar
  • Pakai kartu ATM jaksa, pelaku hipnotis ditangkap
  • SHOW MORE