Merdeka.com tersedia di Google Play


Anggota TNI ditembak Polantas OKU karena teriakan polisi gila

Reporter : Hery H Winarno | Kamis, 2 Mei 2013 17:29


Anggota TNI ditembak Polantas OKU karena teriakan polisi gila
Mapolres OKU . ©2013 Merdeka.com

Merdeka.com - Proses peradilan kasus penyerangan Mapolres Ogan Komering Ulu digelar untuk mengungkap kasus tersebut. Dari hasil pemeriksaan di persidangan terungkap bahwa insiden penembakan anggota polisi yang menewaskan anggota TNI itu berawal dari sebuah teriakan. anggota TNI meneriaki polisi gila.

Teriakan polisi gila menjadi pemicu Brigpol Wijaya melepaskan tembakan kepada Pratu Heru Oktavianus (anggota Yon Armed 76/15 Tarik Martapura) yang berujung kematian korban pada 27 Febuari 2013.

Hal itu terungkap pada persidangan dengan agenda mendengarkan keterangan dari empat orang saksi (Briptu Fadli Siregar dan Briptu Ongki (rekan terdakwa), Sumaidi dan Hariyanto (tukang ojek) pada persidangan di Pengadilan Negeri Palembang, Kamis (2/5).

"Sebelum terjadi penembakan, terdapat dua orang dengan sepeda motor yang berbeda mengenakan pakaian sipil melintasi pos Polantas Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) sambil berteriak 'polisi gila' sekitar pukul 01.00 WIB," kata Briptu Fadli seperti dikutip dari Antara, Kamis (2/5).

Ia melanjutkan, teriakan itu membuat terdakwa Brigpol Wijaya yang sedang bermain gaple dengan lima orang lainnya di dalam pos secara spontan beranjak keluar pos. terdakwa kemudian melepaskan dua kali tembakan.

Tembakan pertama diarahkan ke udara, sementara yang kedua ke arah depan dan hanya berjarak empat meter dari korban saat itu masih mengendarai motor.

"Korban dan seorang rekannya memang tidak memacu kendaraannya (tidak ngebut), sehingga ketika terdakwa keluar masih dapat mengawasi dengan jelas dan melepaskan tembakan," ujarnya yang saat kejadian memiliki pandangan jelas karena berada di bagian dalam pos polisi itu mengarahkan penglihatan ke jalan.

Setelah tembakan kedua, korban yang masih mengendarai motor terjatuh menabrak pembatas jalan sekitar 80 meter dari depan pos polisi.

"Saya yang mengawasi dari dalam pos langsung keluar menyongsong korban bersama terdakwa. Kemudian, saya kembali ke pos memberitahukan rekan-rekan sambil berteriak 'bagaimana ini orang itu jatuh', ujarnya.

Kemudian, ia menambahkan, terdakwa sendiri berupaya mengangkat tubuh korban dan memberhentikan mobil milik warga berjenis Innova. Terdakwa lalu membawa korban ke RS Antonio.

"Saya pun menyusul dengan satu rekan lagi yakni Briptu Ongki ke rumah sakit dan bertemu terdakwa yang menyuruh untuk segera kembali ke pos dan berjaga kembali. Tapi, saat kembali ke pos ternyata sudah terjadi pengerusakan dan segera melapor ke Polresta," katanya.

Terkait dengan rekan korban yang juga mengendarai sepeda motor, menurutnya, setelah tembakan kedua terjadi langsung memacu kendaraan ke arah bukit dan dibiarkan saja berlalu.

"Saat kejadian, kami sama sekali tidak mengetahui bahwa korban adalah anggota Armed, dan baru diketahui ketika dipanggil Propam ke Polresta Baturaja," ujarnya.

Ia menambahkan, sebelum kejadian itu, Brigpol Wijaya yang menjadi salah seorang polisi senior di Satlantas menjalankan piket jaga sebanyak dua kali dalam dua hari karena terjadi perombakan.

Selain itu, terdakwa juga menghentikan sebuah truk yang melintas sebelum kejadian atau sekitar pukul 23.00 WIB. Namun kendaraan itu dilepaskan karena dikawal oleh anggota Polri.

Sementara, keterangan tiga saksi lainnya relatif sama dengan Briptu Fadli dan mengarah bahwa kejadian penembakan itu bersifat spontan (atau tidak terencana).

Berdasarkan keterangan saksi itu Majelis Hakim yang diketuai A Rozi Wahab menyatakan sidang akan dilanjutkan pada Senin (6/5) dengan agenda mendengar keterangan dari tujuh orang saksi, termasuk orangtua terdakwa.

Pada persidangan pertama (29/4), Jaksa Penuntut Umum (JPU) A Syahri, Said Ali, dan Ryan, menjerat terdakwa dengan pasal 338 KUHP tentang pembunuhan dan pasal 351 ayat 3 KUHP tentang penganiayaan yang menyebabkan orang lain meninggal dunia dengan hukuman maksimal hukuman mati.

Sementara, pengacara terdakwa Donny Valiandra mengatakan pihaknya akan menjalani berdasarkan fakta persidangan karena pada prinsipnya Brigpol Wijaya tidak berniat untuk membunuh.

"Dari keterangan saksi terungkap bahwa ini terjadi secara spontan, dan terdakwa sendiri sudah sangat menyesali perbuatannya," katanya.

Saat kejadian, terdakwa langsung memberikan napas buatan untuk membantu korban kemudian ketika di penjara telah melayangkan surat permintaan maaf kepada korban sebanyak dua kali.

"Terdakwa benar-benar menyesal dan berharap keterangan saksi akan meringankan," katanya.

Kasus penembakan anggota Armed ini mencuat ke permukaan dan mendapat perhatian Polri dan TNI karena menjadi pemicu pembakaran Mapolresta OKU beberapa waktu lalu.

Pada persidangan pertama turut dihadiri Pangdam II Sriwijaya Mayjen Nugroho Widyotomo dan Kapolda Sumsel Irjen Pol Saud Usman Nasution. Sementara, pada persidangan kedua ini tetap diramaikan ratusan para anggota TNI dan Polri.

[hhw]

KUMPULAN BERITA
# Bentrok TNI Polri

Kirim ke teman Kirim copy ke email saya
Kirim ke

Free Content

  • URL Blog

  • Contoh : merdeka.wordpress.com

  • Email

  • Password


saya setuju menggunakan konten merdeka.com dan mengetahui bahwa merdeka.com tidak menyimpan informasi login saya


JANGAN LEWATKAN BERITA FOLLOW MERDEKA.COM
Follow tag merdeka.com akan membantu untuk mendapatkan berita yang sesuai preferensi Anda. Misal Anda suka berita Bentrok TNI Polri, masukkan email dan Anda hanya akan menerima berita seputar Bentrok TNI Polri.

Let's be smart, read the news in a new way.
Tutup






Komentar Anda


Smart people share this
Back to the top

Today #mTAG SPOTLIGHT iREPORTER TOP 10 NEWS
Most Viewed Editors' Pick Most Comments

TRENDING ON MERDEKA.COM

LATEST UPDATE
  • Rahasia akting maksimal Chloe Moretz, rekaman 911!
  • SDA dan loyalisnya gelar pertemuan tertutup di rumah dinas
  • Kembali melenggang ke Senayan, Eko Patrio mengaku terbebani
  • Ungguli Jepang, Singapura penanam modal terbesar RI
  • Keponakan Prabowo habiskan Rp 258 juta untuk stiker
  • Kompolnas minta Polri tak tutupi kasus suap biro jasa
  • Kim Soo Hyun sumbang Rp 3,3 miliar untuk korban feri Sewol
  • Mayat bayi tanpa kepala ditemukan di belakang PDAM Tangerang
  • Jokowi bakal deklarasi cawapres besok?
  • Toyota Aygo lebih hemat dibanding LCGC Agya!
  • SHOW MORE