Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Aksi Suwandi soal Lapindo bernuansa politis?

Aksi Suwandi soal Lapindo bernuansa politis? Hari Suwandi korban lumpur Lapindo. ©2012 Merdeka.com

Merdeka.com - Sejak kemunculannya, Hari Suwandi memang membuat heboh. Pria 44 tahun ini melakukan aksi tidak biasa. Porong-Jakarta dia tempuh selama 25 hari dengan berjalan kaki. Sungguh sangat menyentuh perjuangan yang dilakukan Suwandi demi memperjuangkan nasib para korban Lapindo.

Namun tiba-tiba saja, Suwandi membuat pernyataan yang kembali menghebohkan. Di stasiun TvOne, Suwandi mengaku bahwa dia menyesal melakukan aksi jalan kaki dari Porong ke Jakarta. Tidak itu saja, Suwandi juga meminta maaf kepada Aburizal Bakrie, orang yang selama ini dia kutuk atas tragedi Lapindo.

"Saya minta maaf pada keluarga Bakrie. Saya menyesal. Saya minta maaf," ujar Suwandi sambil menangis.

Namun bagi warga Sidoarjo yang menjadi korban lumpur Lapindo, hal itu tidaklah mengejutkan. Hal ini karena aksi jalan kaki yang dilakukan Suwandi juga bukan aspirasi mereka.

Aksi konyol pria 44 tahun itu, dinilai bisa memperkeruh suasana di saat warga korban peta terdampak menanti uang ganti rugi, yang sudah dijanjikan perusahaan milik Grup Bakrie. Bahkan aksi Suwandi ini, dianggap hanya mencari sensasi.

Anggapan ini muncul lantaran Suwandi bukan salah satu korban dalam peta terdampak lumpur Lapindo. Terlebih lagi, tanah dan bangunan milik Suwandi sudah terbayar sejak tahun 2009 silam.

Untuk tanah, Suwandi memperoleh ganti Rp 75.340.000 dan untuk bangunannya, Rp 81 juta. Total uang ganti rugi yang diterima Suwandi, Rp 156.340.000.

"Harta milik keluarga Suwandi berupa tanah seluas 75,30 meter persegi dan bangunan seluas 54 meter persegi itu, berada di luar peta terdampak," kata Sekretaris Gabungan Korban Lumpur Sidorajo (GKLL), Khairul Huda.

Anehnya, menurut Huda, Suwandi malah melakukan aksi jalan kaki ke Jakarta. Padahal, aksinya itu tidak mewakili keluarga dan korban lumpur. Bahkan, Huda juga menilai aksi jalan kakai Suwandi dan seorang rekannya itu, sarat dengan kepentingan politik tertentu.

"Saya menilai aksi Suwandi ini dimotori oleh LSM yang tidak bertanggung jawab," sesal dia.

Sebab, lanjut dia, harapan korban lumpur adalah lunasnya pembayaran aset mereka, bukan gerakan seperti yang dilakukan Suwandi. Dan faktanya, semua aset Suwandi sudah dibayar lunas.

Dan pelunasan itu, menurut Huda, dilakukan pada 9 November 2009 silam. Uang ditransfer oleh PT Minarak Lapindo Jaya pada istri Hari Suwandi.

"Jadi, untuk urusan jual beli aset, sudah selesai. Lalu, kenapa sekarang dia bikin sensasi? Pasti ada sesuatu. Ada politisasi berada di balik aksi Suwandi," ujar Huda.

Terlebih lagi, menjelang peringatan enam tahun semburan lumpur 29 Mei lalu, diungkapkan Huda, banyak LSM yang memobilisasi korban lumpur. "Tapi banyak yang menolak karena sudah tercium maksud mereka. Para korban sudah menikmati pembayaran dan hanya tinggal beberapa yang belum terbayar," pungkas dia.

Lalu benarkah semua aksi yang dilakukan Suwandi bernuansa politis? (mdk/did)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP