Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Aksi brutal polisi versi Bonek

Aksi brutal polisi versi Bonek bonek. merdeka.com/kangdenie.files.wordpress.com

Merdeka.com - Yayasan Suportes Surabaya (YSS) membeberkan insiden bentrok antara Bonek Mania dengan aparat kepolisian di Stadion Gelora 10 Nopember, Surabaya, Jawa Timur yang terjadi Minggu (3/6) sore.

Ketua YSS, Imron mengatakan, aksi aparat kepolisian yang menembakkan gas air mata ke arah penonton, pasca laga lanjutan Indonesia Premier League (IPL) di Gelora 10 Nopember antara Persebaya 1927 versus Persija Jakarta sangat berlebihan.

Imron yang menggantikan Wastomi Suheri sebagai Ketua YSS menceritakan, Bonek sebenarnya hanya ingin mencopot spanduk di pinggir lapangan, namun dihadang polisi.

"Keduanya pun terlibat cekcok dan aksi saling dorong. Hal ini memicu lemparan dari tribun ke arah polisi yang ada di lapangan," terang Imron, Senin (4/6).

Aksi inilah yang memicu lemparan botol ke arah polisi. Polisi pun membalas dengan tembakan gas air mata. Akibatnya, puluhan penonton menjadi korban.

"Penyelesaiannya tidak harus seperti itu, tak harus dengan kekerasan. Kalau Bonek ada masalah, dengan korlap saja sudah cukup," lanjut pria berambut gondrong ini.

Senada dengan Imron, Dirigen Bonek, Okto Tyson juga bercerita, bahwa insiden pencopotan spanduk di pinggir lapangan sebenarnya sudah selesai.

Namun, polisi yang masih bersiaga, tiba-tiba menendang dan memukul suporter dengan pentungan. Tak urung, bonek pun marah dan melempar botol mineral ke tengah lapangan, kemudian dibalas dengan tembakan gas air mata di atas tribun.

Menurut Okto, selama kepemimpinan Kombes Pol Coki Manurung, mantan Kapolrestabes Surabaya, aksi brutal polisi tidak pernah terjadi.

Kekecewaan itu disampaikan Okto saat menghadiri pemakaman salah satu korban bentrok, Purwo Adi Putro, di komplek pemakaman umum Asem Jajar, Asemrowo, Surabaya, Senin siang.

"Kemarin saya juga curhat dengan kepolisian. Intinya, kami kecewa dengan kepemimpinan Kapolrestabes Surabaya yang sekarang, Kombes Pol Tri Maryanto," kata Okto dengan nada kecewa.

Kepemimpinan Tri Maryanto, lanjut dia, sangat berbeda dengan Coki. "Berbeda dengan Pak Coki, mungkin karena beda karakter. Pada era Pak Coki, kepolisian sangat dekat dengan kami. Sebelum pertandingan, biasanya kami diajak sharing tentang sistem pengamanan pertandingan," terang dia.

Kecaman itu tidak hanya datang dari pihak Bonek, masyarakat di sekitar stadion juga menyayangkan aksi brutal polisi. "Ngawur itu, tindakan polisi itu ngawur," kata Rony, salah satu warga sekitar.

Rony bercerita, saat insiden itu terjadi,  puluhan korban, termasuk anak-anak dan wanita menjadi korban gas air mata yang dilemparkan polisi ke arah tribun penonton.

Belasan korban mengalami luka. Satu orang meninggal, satu unit mobil patroli polisi ringsek karena amuk massa Bonek.

Sementara Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Tri Maryanto menegaskan, tindakan anak buahnya dalam membubarkan Bonek dengan menembakkan gas air mata usai pertandingan sudah sesuai prosedur. Menurut dia, bentrokan terjadi karena ulah suporter yang melempar batu ke arah petugas.

"Tindakan para suporter ini kami halau dengan tembakan gas air mata. Karena panik, banyak suporter yang terinjak-injak. Ada satu korban yang ditemukan telungkup di atas tribun dan sudah kami beri pertolongan. Namun nyawanya tetap tidak tertolong," kata dia. (mdk/has)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP