19 Tahun misteri kematian Marsinah

Reporter : Iqbal Fadil | Selasa, 8 Mei 2012 10:06




19 Tahun misteri kematian Marsinah
Marsinah. merdeka.com/dwi narwoko

Merdeka.com - Hari ini, 19 tahun lalu, jenazah Marsinah, aktivis dan buruh pabrik PT Catur Putra Surya (CPS) Porong, Sidoarjo, Jawa Timur ditemukan setelah tiga hari hilang.

Mayatnya ditemukan di hutan di Dusun Jegong Kecamatan Wilangan, Nganjuk, dengan tanda-tanda bekas penyiksaan berat. Hasil autopsi yang dilakukan Kepala Bagian Forensik RSUD Dr Soetomo Surabaya Haroen Atmodirono menyimpulkan, Marsinah yang baru berumur 24 tewas akibat penganiayaan berat.

Marsinah yang dikenal sebagai salah satu aktivis buruh di kawasan industri Porong, Sidoarjo diduga dibungkam terkait kegiatannya. Saat itu, awal tahun 1993, Gubernur Jawa Timur mengeluarkan surat edaran nomor 50/1992 yang berisi imbauan kepada pengusaha agar menaikkan kesejahteraan karyawannya dengan memberikan kenaikan gaji sebesar 20 persen gaji pokok.

Pada pertengahan April 1993, karyawan PT Catur Putera Surya (CPS) membahas surat edaran tersebut dan menilai besaran kenaikan yang ditetapkan gubernur kurang besar. Karyawan PT CPS pun memutuskan untuk berunjuk rasa tanggal 3 dan 4 Mei 1993.

Keterlibatan Marsinah dalam aksi unjuk rasa tersebut antara lain terlibat dalam rapat yang membahas rencana unjuk rasa pada tanggal 2 Mei 1993 di Tanggulangin Sidoarjo.

Pada 3 Mei, aksi mogok digelar. 4 Mei 1993, para buruh mogok total mereka mengajukan 12 tuntutan, termasuk perusahaan harus menaikkan upah pokok dari Rp 1.700 per hari menjadi Rp 2.250. Tunjangan tetap Rp 550 per hari mereka perjuangkan dan bisa diterima, termasuk oleh buruh yang absen.

Sampai dengan tanggal 5 Mei 1993, Marsinah masih aktif bersama rekan-rekannya dalam kegiatan unjuk rasa dan perundingan-perundingan. Marsinah menjadi salah seorang dari 15 orang perwakilan karyawan yang melakukan perundingan dengan pihak perusahaan.

Namun pada 5 Mei, tanpa Marsinah, 13 buruh yang dianggap menghasut unjuk rasa digiring ke Komando Distrik Militer (Kodim) Sidoarjo. Di tempat itu mereka dipaksa mengundurkan diri dari CPS. Mereka dituduh telah menggelar rapat gelap dan mencegah karyawan masuk kerja.

Marsinah bahkan sempat mendatangi Kodim Sidoarjo untuk menanyakan keberadaan rekan-rekannya yang sebelumnya dipanggil pihak Kodim. Setelah itu, sekitar pukul 10 malam, Marsinah lenyap. Mulai tanggal 6,7,8, keberadaan Marsinah tidak diketahui oleh rekan-rekannya sampai akhirnya ditemukan telah menjadi mayat pada tanggal 8 Mei 1993.

Pengusutan kasus kematian Marsinah pun diwarnai rekayasa. Tim khusus bentukan Polda Jatim dan Detasemen Intel Kodam Brawijaya malah menuduh petinggi PT CPS dan menangkapnya. Saat interogasi, para tahanan disiksa. Para tahanan dipaksa mengaku telah membuat skenario dan menggelar rapat untuk membunuh Marsinah. Pemilik PT CPS, Yudi Susanto, juga termasuk salah satu yang ditangkap. Pengacara Yudi Susanto, Trimoelja D Soerjadi, mengungkap adanya rekayasa oknum aparat kodim untuk mencari kambing hitam pembunuh Marsinah.

Dalam skenario yang dibuat berdasarkan penyelidikan itu, disebutkan Suprapto (pekerja di bagian kontrol CPS) menjemput Marsinah dengan motornya di dekat rumah kos Marsinah. Dia dibawa ke pabrik, lalu dibawa lagi dengan Suzuki Carry putih ke rumah Yudi Susanto di Jalan Puspita, Surabaya. Setelah tiga hari Marsinah disekap, Suwono (satpam CPS) mengeksekusinya.

Di pengadilan, Yudi Susanto divonis 17 tahun penjara, sedangkan sejumlah stafnya yang lain itu dihukum berkisar empat hingga 12 tahun, namun mereka naik banding ke Pengadilan Tinggi dan Yudi Susanto dinyatakan bebas. Dalam proses selanjutnya pada tingkat kasasi, Mahkamah Agung membebaskan para terdakwa dari segala dakwaan (bebas murni).

Hingga kini, 19 tahun berlalu, siapa pembunuh Marsinah tidak pernah terungkap. Kasus ini menjadi catatan International Labour Organization (ILO) dikenal sebagai kasus 1713.

Marsinah memperoleh penghargaan Yap Thiam Hien Award di tahun 1993, sebuah penghargaan yang diberikan oleh Yayasan Pusat Studi Hak Asasi Manusia kepada orang-orang yang berjasa besar dalam upaya penegakan hak asasi manusia di Indonesia.


KUMPULAN BERITA
# HAM# Pembunuhan Sadis

JANGAN LEWATKAN BERITA
Follow tag merdeka.com akan membantu untuk mendapatkan berita yang sesuai preferensi Anda. Misal Anda suka berita Anas Urbaningrum, masukkan email dan Anda hanya akan menerima berita seputar Anas Urbaningrum.

Let's be smart, read the news in a new way.
Tutup
Kirim ke teman Kirim copy ke email saya
Kirim ke

Free Content

  • URL Blog

  • Contoh : merdeka.wordpress.com

  • Email

  • Password


saya setuju menggunakan konten merdeka.com dan mengetahui bahwa merdeka.com tidak menyimpan informasi login saya






Komentar Anda


Be Smart, Read More
Back to the top

Today #mTAG iREPORTER

LATEST UPDATE
  • Dilamar David NOAH, Gracia Indri benar-benar terkejut
  • Sempat kabur dari rumah, Dian dikembalikan ke orang tuanya
  • Dukung Pilkada tak langsung, Patrialis ngaku pakai data skripsi
  • Perut besar & tanpa make-up, masih mengenali Zoe Saldana?
  • Kurtubi minta Jokowi berani bubarkan Petral
  • Hati-hati saat beli lensa kontak secara online!
  • Ini awal kisah cinta Gracia Indri dan David NOAH
  • Jelang vonis, Anas ngetweet sindir SBY
  • Galaxy S5 pecundangi iPhone 6 di sektor ketahanan baterai
  • Jokowi didesak tidak pilih orang parpol jadi Menteri BUMN
  • SHOW MORE