Ngangkang jangan dijadikan peraturan!

    Sumber : | Senin, 7 Januari 2013 16:26

    Ngangkang jangan dijadikan peraturan!
    Posisi bonceng duduk ngangkang (sumber: Otosia)

    Merdeka.com - Banyak yang tak setuju jika duduk mengangkang bagi pembonceng wanita dijadikan peraturan. Hal ini mesti perlu dikaji ulang dari segi keselamatan berkendara, khususnya sepeda motor. Toh, masih banyak korban pembonceng wanita yang duduk miring menghadap ke kiri.

    Penolakan tentang posisi duduk pembonceng wanita ini pun dilontarkan mantan pembalap nasional, Ahmad Jayadi. "Salah besar jika posisi duduk mengangkang itu dijadikan peraturan. Mestinya dikaji terlebih dahulu dari sisi keselamatannya," ujar Jayadi.

    Menurut Jayadi, yang juga Instruktur Racing Honda ini, masalah ini mestinya dikembalikan ke si pengendaranya.

    "Jika pemboceng wanita duduk dengan posisi normal alias tidak ngangkang, maka cara berkendara yang memboncengnya mesti hati-hati dan jangan ngebut! Tapi, demi keselamatan bersama, alangkah baiknya jika pembonceng wanita posisi duduknya ngangkang," tambah Jayadi.

    Lita Suciati pun mengamini pendapat Ahmad Jayadi, ibu dua anak ini merasa keberatan jika adanya larangan posisi duduk mengangkang pada pembonceng wanita.

    "Wah, repot banget kalau nggak ngangkang! Apalagi saya punya anak yang baru berusia 3 bulan. Otomatis, posisi duduk saya mesti ngangkang ketika dibonceng sambil gendong bayi," tegas manager salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan ini.

    Lain halnya dengan Nita Susanti, ibu rumah tangga yang selalu memakai busana muslim ini. Baginya, larangan mengangkang buat pembonceng wanita tak pernah diperdebatkan, karena baju gamis yang dikenakannya dipastikan tak bisa untuk duduk dalam posisi mengangkang jika dibonceng motor oleh suaminya. "Pastinya, saya selalu mengingatkan suami agar selalu pelan-pelan dan berhati-hati saat membonceng," ujarnya.

    Pemerintah Kota Lhokseumawe dan DPRD Provinsi Aceh yang menerapkan larangan khusus bagi pembonceng wanita untuk tidak duduk mengangkang, karena dinilai tidak sesuai dengan budaya Aceh. Sekarang tinggal Anda pilih, lebih penting keselamatan atau demi mempertahankan budaya?

    (kpl/tr/vin)



    Sumber: Otosia.com
    Komentar Anda


    Suka artikel ini ?
    Kunjungi portal hao123 untuk akses internet aman dan nyaman


    JANGAN LEWATKAN BERITA
    Follow tag merdeka.com akan membantu untuk mendapatkan berita yang sesuai preferensi Anda. Misal Anda suka berita Anas Urbaningrum, masukkan email dan Anda hanya akan menerima berita seputar Anas Urbaningrum.

    Let's be smart, read the news in a new way.
    Tutup
    Kirim ke teman Kirim copy ke email saya
    Kirim ke

    Free Content

    • URL Blog

    • Contoh : merdeka.wordpress.com

    • Email

    • Password


    saya setuju menggunakan konten merdeka.com dan mengetahui bahwa merdeka.com tidak menyimpan informasi login saya





    Be Smart, Read More
    Back to the top
    Today #mTAG
    LATEST UPDATE
  • Datangi makam Olga, 3 siswi SMP meneteskan air mata
  • Ahok ingin karyawan kontrak di DKI segera terlindungi BPJS
  • Geger penemuan 1.300 tengkorak di bawah kampus top
  • Pria yang terjun ke kali Ciliwung bernama Hasan diduga stres
  • Termohon belum beri jawaban, sidang praperadilan Udar ditunda
  • Masih wamil, Song Joong Ki hadiri nikahan adik Lee Kwang Soo
  • Pabrik nata de coco berbahaya di Sleman buang limbah sembarangan
  • Ini tarif baru kereta api ekonomi setelah naik hingga 60 persen
  • Polisi kantongi identitas penembak dua intel TNI di Aceh
  • KotaGames ditutup, nasib TheMobileGamer tak jelas
  • SHOW MORE