Seleksi desainer muda untuk menembus pasar dunia
Merdeka.com - Desainer muda dengan karya-karya yang inovatif mendapat perhatian khusus dalam penyelenggaraan Jakarta Fashion Week (JFW) 2017. Seleksi yang ketat dilakukan untuk menghasilkan yang terbaik dan membawa nama Indonesia di mancanegara. Salah satu cara yang dilakukan penyelenggara JFW 2017 adalah penghargaan Cleo Fashion Awards 2016 yang khusus diikuti para desainer muda.
Margaretha Untoro, Chief Community Officer Cleo Indonesia menjelaskan kepada merdeka.com, para desainer muda harus melewati beberapa tahap dan kriteria agar bisa mengikuti ajang ini. Mereka yang ikut seleksi harus memiliki pengalaman selama satu tahun dan sudah memiliki pelanggan atau klien yang menggunakan desain mereka.
"Memang aspirasi Cleo juga ingin desainer-desainer Indonesia yang masih cukup baru punya persyaratan yaitu sudah ada track recordnya, dalam artian dia sudah memiliki brand dan toko. Pokoknya sudah punya klien yang cukup bagus, itu minimal setahun," ujar Margaretha yang ditemui di Senayan City, Jakarta, Kamis (27/10).
"Ada juga dari mereka yang ikut ajang ini untuk persyaratan tugas akhir, itu biasanya kita pertimbangkan karena kan persyaratan minimal satu tahun mereka punya toko," kata Margaretha.

Tahun ini kata Margaretha para desainer muda yang mengikuti ajang ini cukup banyak. "Desainer muda tahun ini lebih banyak sekitar 60 persen dan kalau yang desainer seniornya cuma 30 persen," kata Margaretha.
Cleo Fashion Award juga yang digagas Majalah Cleo, kata Margaretha, sudah menghasilkan delapan brand yang menembus pasar lokal. Delapan brand lokal tersebut terbagi menjadi dua kategori yaitu Most Promising Accessories Brand dan Most Innovative Local Brand.
"Kalau aksesorisnya itu ada Pvra, Kar, Atelier Pedra dan Niion Indonesia. Kemudian kalau brand busananya ada Ats the label, Hay United, Reves Studio dan Impromptu," papar Margaretha.
Tidak hanya Cleo, Wardah, sebagai brand kecantikan pun mendukung perkembangan desain mode Indonesia. Marketing director Wardah Salman Subakat menjelaskan ajang tersebut dilakukan untuk mengapresiasi desainer berbakat Indonesia. "Ini bertujuan untuk mengapresiasi insan-insan desainer muda Indonesia untuk lebih bisa mengeksplore kreativitas mereka," kata Salman.
Menurut Salman, terdapat 12 finalis yang terpilih dengan penilaian yang ketat dari dewan juri yang terdiri dari Itang Yunasz, Barli Asmara, Dewi Sandra, Tenik Hartono dan Amy Wirabudi. "Para dewan juri menilai kreativitas, daya pakai busana, daya jual, kompetensi tentang mode, teknik, nilai estetika produk, dan rencana bisnis dari masing-masing finalis," kata Salman.
Dari 12 finalis, terpilihlah Patricia Katinka sebagai pemenang pertama. Dia menceritakan untuk menjadi juara di ajang tersebut butuh waktu tiga minggu untuk menyelesaikan karyanya.
"Dikerjakan selama tiga minggu dan saya tahu lomba ini sebelum deadline ditutup. Dengan waktu yang mepet saya yakin bisa melakukannya," kata Patricia yang tercatat sebagai mahasiswa Lembaga Pengajaran Tata Busana (LPTB) Susan Budiharjo ini.
Dia juga menceritakan tema rancangan yang mengantarkannya jadi pemenang yaitu volumetri. Patricia mendapat inspirasi dari brand capsul collection miliknya ini adalah rambut. Menurutnya, inspirasinya tercetus dari seorang hairstyles yang mengubah gaya rambut bisa menjadi yang luar biasa.
"Dan sebagai fashion designer saya juga bisa melakukan hal yang sama seperti hairstyles," cerita Patricia.

Caranya, kata Patricia, dengan cara mengubah kain yang tampak biasa saja dengan menghasilkan tekstur yang baru, lekukan baru dan siluet yang baru. "Sehingga kain yang biasa saja bisa terlihat sangat istimewa," ujarnya.
Tidak puas dengan penghargaan yang didapat, Patricia menyatakan akan melanjutkan sekolah desain. Dia juga ingin membuat brand lokal untuk bisa melesat ke internasional. "Setelah ini saya mau menggali ilmu lagi. Setelah itu saya mau buat brand untuk koleksi saya," pungkasnya. (mdk/bal)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya