Merdeka.com tersedia di Google Play


Prahara setelah cerai

Reporter : Mohamad Taufik | Jumat, 4 Mei 2012 07:00


Prahara setelah cerai
Eli Gettanio bersama anak-anaknya. (merdeka.com/mobileseruu.com)

Merdeka.com - Eli Gattenio mencabut sapu tangan warna krem dari saku celana hitamnya buat mengusap air mata. Mata Gattenio berair ketika menceritakan empat putrinya dibawa kabur mantan istrinya, Sari Soraya Ruka. Sudah 70 hari warga Amerika Serikat ini berpisah dengan Indigo Liliyan Gattenio (12 tahun), si kembar Hope Elisabeth Gattenio dan Joy Elisabeth Gattenio (10), serta si bungsu Nadia Eve Gattenio (4). Rumah tangga Gattenio dan Sari bubar Maret dua tahun lalu.

Sari mengajak kabur anak-anaknya akhir Februari lalu dari rumah Gattenio di Jalan Kunti, Kuta, Kota Denpasar, Bali. Waktu itu, ayah mereka tidak di rumah karena ditahan Kepolisian Polda Metro Jaya akibat kasus teror lewat Internet yang dilaporkan Sari. "Saya ingin anak-anak kembali. Kalau mau adil, silakan pertemukan saya dengan anak-anak, biarkan mereka memilih. Jika mereka memilih tinggal bersama ibunya, silakan, saya tidak akan menghalangi," katanya sambil sibuk mengusap air mata.

Setelah berpisah dengan istrinya, pria 51 tahun ini Maret tahun lalu mengancam bunuh diri bersama keempat putrinya karena ada ancaman deportasi tanpa anak ke Amerika. Sebab itulah, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Patrialis Akbar buru-buru mengeluarkan nota catatan membatalkan deportasi demi alasan kemanusiaan. Namun setelah deportasi batal, anak-anaknya dibawa pergi oleh mantan istrinya.

Kehilangan anak membuat bule berstatus pengusaha ini frustasi. Pada Desember 2011, dia membuat sayembara bagi penangkap Sari akan dikasih imbalan Rp 50 juta. Alasannya, Sari telah membawa semua harta Gattenio dan tidak peduli pada kebutuhan anak-anaknya. Ia juga menyurati Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta keadilan. "Saya tidak tahu lagi harus bagaimana," ujar Gattenio di rumahnya, 1 Mei 2011.

Dia menuturkan setelah dibawa kabur Sari, kini keempat putrinya tidak bersekolah karena harus tinggal di rumah perlindungan pusat trauma milik Departemen Sosial di Jakarta Timur. Ia beberapa kali ke Jakarta mencari mereka, tapi hasilnya nihil. Akses bertemu anak-anaknya seperti dihambat. Ia hanya pasrah, berharap ada keadilan bisa membawa empat putrinya pulang lagi.

Pernikahan campuran buat sebagian orang membawa kebahagiaan. Tapi bagi yang lain berujung pada permasalahan berkepanjangan, terutama menyangkut sengketa hak asuh anak.

Permasalahan hak asuh pernah pula dialami Rinawati Prihatiningsih, asal Cilacap, Jawa Tengah. Perkenalannya dengan lelaki bule asal Jerman membawa dia ke pelaminan pada 1990. Dari pernikahan itu, dia dikaruniai seorang anak, Lorentz Bagaskoro.

Petaka muncul awal 2000 ketika cekcok mulai sering mampir. Puncaknya pada 2002, Rina menggugat cerai lantaran tidak cocok. Setahun kemudian, sidang perkara hak asuh digelar lantaran anak mereka masih belum dewasa.

Di pengadilan Indonesia Rina menang. Namun, dua tahun kemudian suaminya mengajukan gugatan hak asuh anak ke pengadilan di Jerman. Rina kalah, sehingga si anak ikut papanya. "Dari kekalahan itu saya sadar kawin campur itu harus paham aturan imigrasi dan kewarganegaraan masing-masing," dia menegaskan.

[fas]

Komentar Anda


Smart people share this
Back to the top

Today #mTAG SPOTLIGHT iREPORTER TOP 10 NEWS
LATEST UPDATE
  • Ketua DPW PPP Jatim: Saya memang salah apa kok sampai dipecat?
  • Sutan orang sibuk, jika gagal ke Senayan bakal kembali berbisnis
  • ABG wanita yang bunuh mertua beri upah dua teman Rp 1,7 juta
  • Ke Ponpes Nurul Falah Lombok, Dino dihadiahi kain Mataram
  • 10 Jalan paling berbahaya di dunia (II)
  • Tak pernah kecebur comberan, puisi Fadli Zon cermin kepalsuan
  • Sutan curhat: Suara saya tadinya di atas, tapi turun terus
  • Kimberly Ryder: Perkosa anak tk itu psycho
  • Lagi, kelompok bersenjata tembaki pos keamanan RI-PNG
  • Foto selfie dekat rel kereta, pemuda Amerika ditendang masinis
  • SHOW MORE