Wawancara Y. Chuzaifah (4)

Perda syariat Islam diskriminatif

Reporter : Mohamad Taufik | Jumat, 20 April 2012 13:43




Perda syariat Islam diskriminatif
Ketua Komnas Perempuan Yuniyanti Chuzaifah. (merdeka.com/Islahuddin)

Merdeka.com - Feminisme adalah pemikiran yang menyuarakan persamaan hak dan kedudukan antara lelaki dan perempuan dalam kehidupan. Pemikiran ini pertama kali lahir dari seorang wanita Perancis bernama Simone de Beauvoir pada abad ke-19. Beauvoir aktif menyuarakan isu-isu persamaan hak antara pria dan wanita melalui karya sastra. Tulisan-tulisannya pun dikenal luas memiliki andil besar dalam pergerakan feminis gelombang pertama.

Indonesia juga memiliki seorang pejuang feminisme sangat terkenal sampai saat ini, R.A. Kartini. Bahkan, perjuangan Kartini memajukan kaum hawa telah dimulai sebelum Beauvoir, yakni sejak abad ke-18. Sama seperti Beauvoir, Kartini pun dilahirkan dari keluarga ningrat.Feminisme itu hanya nama saja, tapi kalau gerakannya sudah lama, kata Ketua Komnas Perempuan Yuniyanti Chuzaifah.

Bagaimana Feminisme dari kaca mata Komnas Perempuan, berikut ini penuturan Yuniyanti saat ditemui Muhammad Taufik dan Islahuddin dari merdeka.com di kantornya, Kamis (19/4)

Apakah Anda melihat feminisme di Indonesia sudah kebablasan?

Feminisme itu sebuah kesadaran dan upaya akan ketidakadilan pada perempuan dan berusaha memperjuangkan. Siapa pun bisa menjadi feminis. Sebagai istilah, feminis itu dari Barat. Tapi sebagai sebuah akar kesadaran dan perjuangan dimiliki oleh semua agama, dimiliki dalam tradisi Indonesia, tradisi klasik. Cara berpikir kita mungkin simplistik, ternyata feminisme itu impor. Dia sebagai sebuah kata memang dari luar. Kalau memang ada padanan kata sama, mari kita buat. Kita punya akar kok, Kartini dan tokoh-tokoh agama, bahkan perempuan bukan aktivis pun melakukan perjuangan itu.

Banyak penganut feminis tidak kawin, apakah itu melanggar kodrat?

Kalau para perempuan pejuang akhirnya tidak menikah karena memang keputusan sendiri, ingin fokus pada perjuangan gerakan. Bisa juga karena ketidaksiapan masyarakat kita, dalam konteks ini laki-laki tidak ingin punya pasangan dari pejuang perempuan. Feminis seakan-akan orang anti keluarga, orang sibuk dengan dirinya.

Bagaimana agar masyarakat bisa menerima itu?

Saya seorang feminis, namun saya memiliki habit family. Suami saya bisa sekolah master, saya bisa sekolah Ph.D tanpa rumah tangga bermasalah. Suami saya cukup punya kesiapan mendukung saya sekolah, saya bilang, anak-anak ayah jaga, terus pas suami saya sekolah di luar, saya yang menjaga. Di luar itu, banyak laki-laki mendukung kemajuan perempuan. Nah, orang-orang belum siap ini, jangan harus ditakuti.

Saya di rumah bisa membikinkan kopi untuk suami saya, tapi itu bukan pembakuan, harus saya membuatkan. Suatu kali suami saya bisa membuatkan kopi untuk saya. Intinya bagaimana fleksibilitas peran, jangan menganggap pencari nafkah itu lebih tinggi posisinya dibanding yang memasak dan peran-peran itu bisa difleksibelkan. Pasangan seorang feminis itu menyenangkan, ada kesadaran, ketika suami lelah bekerja, kita bisa bilang, oke, istirahat dulu atau mau belajar, silakan, gantian saya mencari uang. Kayak gitu enak kan.

Apakah feminisme bisa berkembang di Indonesia, terkait perda syariat di beberapa daerah?

Komnas Perempuan tidak mau menggunakan istilah perda syariat, tapi perda diskriminasi. Kalau bicara syariat, syariat seperti apa. Kadang ada yang bilang syariat Islam tidak seperti ini. Kok syariat menjadi milik golongan tertentu. Di tempat-tempat berlakunya perda itu juga mengatakan bukan syariat seperti ini yang diinginkan.

Komnas Perempuan mencoba mengajak negara menyikapi hal-hal seperti ini karena berdampak pada diskriminasi terhadap perempuan, diskriminasi terhadap agama lain, atau aliran kepercayaan minoritas lainnya. Konstitusi kita menjamin hak warga negara sama. Negara harus segera merespon dan kita sudah mendesak pemerintah bertindak atas hal itu. Walaupun pencabutan perda itu belum, tapi persoalan itu sudah menjadi wacana publik.


[fas]


JANGAN LEWATKAN BERITA
Follow tag merdeka.com akan membantu untuk mendapatkan berita yang sesuai preferensi Anda. Misal Anda suka berita Anas Urbaningrum, masukkan email dan Anda hanya akan menerima berita seputar Anas Urbaningrum.

Let's be smart, read the news in a new way.
Tutup
Kirim ke teman Kirim copy ke email saya
Kirim ke

Free Content

  • URL Blog

  • Contoh : merdeka.wordpress.com

  • Email

  • Password


saya setuju menggunakan konten merdeka.com dan mengetahui bahwa merdeka.com tidak menyimpan informasi login saya






Komentar Anda


Be Smart, Read More
Back to the top

Today #mTAG SPOTLIGHT iREPORTER TOP 10 NEWS
LATEST UPDATE
  • Jokowi sampaikan hasil pertemuan dengan SBY ke partai koalisi
  • Pelapis dinding Blok G Balai Kota runtuh, Ahok tuntut kontraktor
  • Gelapkan berlian USD 3 juta, Herawati dituntut JPU 4 bulan bui
  • Komnas HAM kroscek laporan massa Prabowo ke Polda Metro Jaya
  • Cinta segitiga remaja di Aceh ini berujung malapetaka
  • Industri Indonesia payah, cuma andalkan buruh murah dan SDA
  • Mahasiswa Kurdi Irak gunakan liburan buat lawan jihadis ISIS
  • Terobosan unik kabinet Jokowi-JK: 5 Menko dan 20 menteri
  • Semen Indonesia bakal bangun kawasan perkantoran di Gresik
  • Pelapis dinding Balai Kota runtuh, Ahok sempat mengira ada bom
  • SHOW MORE