Wawancara Adriana E. (1)

Pemerintah selalu represif terhadap Papua

Reporter : Islahudin | Jumat, 21 Desember 2012 10:55




Pemerintah selalu represif terhadap Papua
Bakar lilin sebagai solidaritas buat rakyat papua. (merdeka.com/imam buhori)

Merdeka.com - Sejak Papua menjadi bagian Indonesia melalui Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969. Saat itulah kekerasan dan pengerahan militer ke Papua tidak pernah berhenti. Hingga saat ini, menurut data Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, ada sekitar 14 ribu tentara diterjunkan di sana.

Pemerintah selalu beralasan itu adalah bentuk penjagaan terhadap wilayah negara terhadap gerakan-gerakan separatis. Dalam buku Otonomi Khusus Papua Telah Gagal karya Pendeta Socratez Sofyan Yoman, kekerasan negara terhadap penduduk Papua sudah berlangsung sebelum mereka bergabung dengan Indonesia.

Adriana Elisabeth, peneliti politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang meneliti Papua sejak 2004, mengatakan masalah Papua itu rumit. Sayangnya pemerintah selalu mengutamakan pendekatan keamanan. Padahal, masyarakat Papua ingin berdialog.

Berikut penuturan Adriana kepada Islahuddin dari merdeka.com saat ditemui di kantornya, Gedung Widya Graha LIPI Lantai 11, Jakarta, Kamis (20/12) sore.

Apa benar Pepera berlangsung curang?

Kita tim LIPI tidak mengatakan itu curang atau tidak curang. Kami menyebut Pepera itu adalah salah satu masalah di Papua. Jadi dalam Papua Road Map dibuat LIPI, ada empat masalah: pertama marjinalisasi dan diskriminasi, terutama terhadap orang-orang asli Papua, kedua masalah pembangunan, itu kalau kita gunakan undang-undang otonomi khusus, ketiga pelanggaran hak asasi manusia dan kekerasan oleh negara, terakhir status politik sejarah Papua.

Hal itu digugat oleh Pendeta Socratez dalam bukunya. Menurut dia, proses integrasi Papua ke Indonesia dianggap tidak sah atau curang. Inilah perbedaan persepsi antara orang asli Papua dengan non-Papua. Tapi orang Papua dalam bahasa kasarnya memang ingin sejarah itu diluruskan. Pelurusan sejarah karena mereka menganggap proses integrasi itu tidak sah, ada kecurangan, ada mobilisasi untuk orang-orang agar memilih bergabung dengan Indonesia, dan tidak tulus. Itu disebut oleh beberapa orang Papua dan Socratez sebagai kecurangan.

Tim LIPI belum melihat itu satu persatu, tapi itu inti persoalannya. Ada perbedaan pandangan sebetulnya. Curang dan tidak curang itu dasarnya apa? Nah, pemerintah Indonesia tidak mau membicarakan itu karena memang secara hukum internasional Papua sudah sah menjadi bagian Indonesia. Kalau usulan LIPI, khususnya saya pribadi, kenapa tidak dibicarakan saja. Kalau masing-masing punya argumentasi secara akademik, mari kita bicara.

Bagaimana dengan laporan buku Socratez menyebut kekerasan di Papua terjadi sebelum Pepera 1969?

Sebelumnya juga ada perbedaan pendapat antara Mohammad Hatta dan Soekarno. Hatta bilang, "Sudahlah Papua tidak usah masuk Indonesia". Tapi Soekarno bilang, "Tidak bisa. Semua bekas jajahan Belanda di Hindia Belanda harus menjadi bagian Indonesia." Makanya Papua terlambat berintegrasi dengan Indonesia. Itulah kenapa pasukan militer Indonesia beroperasi di Papua karena setelah 17 Agustus 1945 harusnya memang dianggap menjadi bagian Indonesia.

Tapi dengan negosiasi baru ada istilah reintegrasi. Kalau dari perspektif Indonesia, Papua itu bukan dipaksa berintegrasi. Selalu ada perbedaan persepsi akan hal itu. Kalau orang Papua bilang dipaksa untuk berintegrasi. Hal ini masih berlangsung sampai saat ini. Makanya LIPI menulis itu sebagai masalah harus dibicarakan secara terbuka. Tapi posisi pemerintah sudah tidak mau bicara soal sejarah. Namun bagi Papua itu harus dibicarakan. Itu terus menjadi konflik.

Sebenarnya apa masalah utama Papua hingga ada perbedaan sejarah?

Kalau pakai pandangan Soekarno itu tidak cukup bagi saya. Menurut Soekarno, semua jajahan Belanda di Hindia Belanda harus menjadi bagian Indonesia, iya betul sampai Papua sana jajahan Belanda, prosesnya tidak bersamaan dengan 1945 itu masalah diperjuangkan. Tapi lepas dari semua itu, menurut saya, coba kita perhatikan, hampir semua daerah kaya sumber daya alam pasti bermasalah kalau tidak dikelola dengan baik oleh negara.

Papua kaya sumber daya alam, banyak kekayaan tambang di sana. Dari perspektif ekonomi, ada keuntungan besar di Papua untuk orang-orang berinvestasi di sana. Makanya selalu jadi rebutan, sementara kita ribut masalah Pepera. Jadi masalah Papua itu kompleks, dia punya begitu banyak dimensi lama dibiarkan dan tidak diselesaikan. Maka untuk menyelesaikan secara simultan.

Apa pemerintah hanya ingin mengambil isi sumber alamnya tapi tidak mau menerima orangnya?

Itu memang selalu menjadi kritik bagi pemerintah. Itu pilihan pemerintah setelah memilah banyak pilihan. Dari pendekatan militer, diplomatik, pembangunan, semuanya sudah. Dari semua itu, paling dominan memang pendekatan militer yang represif. Itu masalah sebenarnya. Kalau pendekatan militer untuk pengamanan negara karena ada wilayah perbatasan dengan Papua Nugini, masih boleh. Tapi sosok militer Indonesia di Papua penuh kekerasan. Itu salah satu catatan selalu tidak bisa dilupakan oleh orang-orang di Papua. Jadi kehadiran Indonesia di Papua selalu represif dan itu berlangsung sejak Papua menjadi bagian dari Indonesia.

Kisah kekerasan itu jadi cerita turun temurun, terus didengar oleh orang-orang Papua. Makanya ada sebagian orang Papua bilang, "Kalau kami terus diperlakukan seperti ini, dipaksa berintegrasi, kemudian kami disiksa, kenapa kami tidak boleh lepas?" Logis kan? Menurut saya itu logis. Pemerintah tidak menerima itu, tetap menganggap Papua bagian dari Indonesia.

Makanya usul tim LIPI dalam Papua Road Map, coba selesaikan itu dengan cara dialogis. Itu salah satu pilihan pendekatan, kenapa harus diselesaikan dengan represif. Banyak orang Papua bisa diajak dialog. Orang Papua juga sudah terbiasa bernegosiasi. Dalam demokrasi tradisional, mereka terbiasa bertutur, biasa menyelesaikan masalah dengan dialog. Contohnya kalau ada konflik atau perang antar suku, ada hal-hal harus diselesaikan secara adat, tidak harus dengan berperang.

Kita tidak pernah melihat Papua dengan komprehensif, kita hanya melihat bagian-bagian negatif dari mereka. Padahal banyak bisa kita gali dari budaya Papua. Termasuk komplain-komplain mereka tentang sejarahnya, karena mereka terbiasa berbicara, mengkritik, tidak setuju, itu biasa dalam alam tradisi demokrasi Papua. Tapi pemerintah atau yang belum tahu pasti sedikit-sedikit bawaannya curiga, mau merdeka, antipemerintah, atau lainnya.

Jakarta selalu melihat seperti itu. Jakarta tidak bisa memandang Papua, Papua juga sudah curiga dengan Jakarta. Jadi tidak pernah ketemu. Kalau perbedaan ini tidak ditutup dengan dialog, tidak akan pernah selesai. Diberi program pembangunan juga mereka juga curiga, "Buat apa kita dikasih seperti ini. Ini untuk apa?" Kecurigaan itu semakin tinggi.

Dialog itu sudah menjadi kebiasaan orang Papua. Dialog itu bukan berarti merdeka. Tapi Jakarta selalu berpikir mereka ingin merdeka. Jakarta tidak mau. Makanya saya bilang ke teman-teman di Papua, "Jangan minta merdeka, Jakarta tidak akan mau."

Biodata

Nama: Adriana Elisabeth

Tempat/Tanggal Lahir: Jakarta, 8 Juni 1963

Karir: Peneliti di Pusat Penelitian Politik, LIPI (Sejak 1989)

Fokus Kajian: Hubungan Internasional, Pembangunan Regional dan Subregional ASEAN, Konflik dan Perdamaian

Pendidikan:

(S1) Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Jayabaya, Jakarta (1987)

(S2) Department of Social Science, University of Tasmania, Australia (1995)

(S3) Department of History and Politics, University of Wollongong, Australia (2008)

[fas]
Kunjungi portal hao123 untuk akses internet aman dan nyaman

KUMPULAN BERITA
# Papua

JANGAN LEWATKAN BERITA
Follow tag merdeka.com akan membantu untuk mendapatkan berita yang sesuai preferensi Anda. Misal Anda suka berita Anas Urbaningrum, masukkan email dan Anda hanya akan menerima berita seputar Anas Urbaningrum.

Let's be smart, read the news in a new way.
Tutup
Kirim ke teman Kirim copy ke email saya
Kirim ke

Free Content

  • URL Blog

  • Contoh : merdeka.wordpress.com

  • Email

  • Password


saya setuju menggunakan konten merdeka.com dan mengetahui bahwa merdeka.com tidak menyimpan informasi login saya






Komentar Anda


Be Smart, Read More
Back to the top

Today #mTAG
LATEST UPDATE
  • Pengamat sindir politikus senang Rupiah melemah
  • Produk sambal jengkol sudah dibidik pasar luar negeri
  • XL dorong pengembang aplikasi ciptakan konten 4G
  • 18 Rumah di Cipongkor dilaporkan tertimbun tanah longsor
  • Langkah Djarot tuai simpati politisi Kebon Sirih
  • Longsor di Cipongkor, akses ke Waduk Saguling terputus
  • Pastikan acara unduh mantu, Raffi Ahmad ingin bikin surprise
  • Ibas optimis SBY terpilih jadi ketum Demokrat secara aklamasi
  • MUI sentil penghulu yang gampangkan syarat nikah siri
  • Jokowi senang pasokan daging dari NTT ke Jakarta terealisasi
  • SHOW MORE