Menengok Kampung Jaton (1)

Orang Jawa berbahasa Minahasa

Reporter : Islahudin | Rabu, 17 Juli 2013 07:00




Orang Jawa berbahasa Minahasa
Masjid di Kampung Jaton, Tondano, Sulawesi Utara. (merdeka.com/islahuddin)

Merdeka.com - Dua gapura tegak mengapit jalan aspal selebar sekitar lima meter. Cat putih gapura ini telah kusam. Di beberapa bagian ditumbuhi lumut. Di dekat gapura itu terdapat pelang putih penunjuk arah bertulisan Cagar Budaya Makam Kyai Modjo. Papan nama itu menunjuk ke arah timur, segaris dengan arah jalan masuk kampung.

Sekitar 15 meter dari gapura ada masjid. Arsitekturnya persis masjid Demak, Jawa Tengah. Bentuk kubah limas dan menara masjid terpisah dari bangunan utama. Di depan masjid dipagari teralis putih dan tertulis Masjid Al-Falah Kyai Modjo, Kabupaten Minahasa, Kelurahan Kampung Jawa, Tondano.

Ahad pagi di akhir bulan lalu, cuaca di Kampung Jawa cerah. Gapura kusam itu ternyata pintu masuk utama ke Kampung Jawa Tondano. Lokasi kampung kurang lebih tiga kilometer dari Tondano, ibu kota Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Wilayah seluas 45 hektar ini dihuni 2.531 orang.

Meski bernama Kampung Jawa, namun saat memasuki perkampungan itu nyaris tidak ada logat Jawa terdengar. Kumpulan tukang ojek di dekat gapura berbincang menggunakan logat Minahasa kental. Rumah-rumah penduduk lebih banyak berdinding kayu, beratap seng, dan bentuk rumah panggung.

Anda tidak akan menemukan logat Jawa di sini, tapi ada beberapa kata bahasa Jawa masuk bahasa Jawa Tondano, kata Lurah Kampung Jawa Sarianto Merkosono, 49 tahun, saat ditemui merdeka.com. Dengan bahasa Jawa berlogat Minahasa, dia berupaya meyakinkan dirinya memang keturunan Jawa. Sarianto Merkosono. Itu Jawa sekali kan. Iya toh."


Rumah panggung milik Sarianto tidak jauh dari Masjid Al-Falah. Kampung Jawa Tondano biasa disebut Jaton. Menurut Sarianto, muasal kampung Jawa berasal dari pembuangan 63 anggota pasukan Pangeran Diponegoro dari Pulau Jawa oleh kolonial Belanda ke daerah Minahasa sekitar 1828. Dari situlah, nenek moyang kami bermula. Mereka kemudian menikah dengan gadis Minahasa dan beranak pinak sampai seperti saat ini, ujarnya.

Warga kampung menggunakan Bahasa Minahasa atau disebut Bahasa Jaton. Bahasa dengan logat Minahasa ini menyelipkan beberapa kosa kata Bahasa Jawa, berbeda dengan bahasa Minahasa asli. Dia mencontohkan sego (nasi) dan wedang (minuman), kosa kata masih dipakai.

Sarianto memperkirakan Bahasa Jawa dibawa leluhur mereka hilang sejak generasi kedua. Boleh jadi lantaran anak-anak mereka lebih banyak berkomunikasi dengan sang ibu sehingga Bahasa Minahasa lebih banyak digunakan.

Namun warga Kampung Jaton masih menjalankan beberapa tradisi Jawa, seperti midodareni bagi calon pengantin perempuan, mauludan, lebaran ketupat, hingga maleman dalam bulan Ramadan. Termasuk yang masih mengakar adalah tradisi ziarah kubur menjelang bulan puasa. Kalau di Jawa namanya padusan, di sini namanya pungguan. Kegiatannya bersih-bersih kubur dan mendoakan yang sudah meninggal, tutur Sarianto.

Sebab itu, jelang Ramadan dan lebaran, komunitas Jaton di berbagai tempat akan pulang kampung, meski hanya untuk berziarah saja. Mereka ada yang tinggal di Gorontalo, Jailolo, Ternate, Minahasa Selatan, Tomohon, Manado, hingga Pulau Jawa.

Awal Mei lalu, mereka meresmikan Tugu Kerukunan Keluarga Jaton Indonesia (KKJI) di depan Masjid Al-Falah. Sekarang ketuanya Kiai Ali Hardi dari Demak. Dia tinggal di Cakung, Jakarta Timur.

Meski bermukim di Tondano, menurut Sarianto, dia dan keturunan Jaton lainnya masih memiliki ikatan darah dengan keluarga di Pulau Jawa. Dia menambahkan nama leluhur datang ke Tondano sekarang dijadikan nama marga. Nama belakang saya Merkosono. Itu berasal dari salah satu pasukan Diponegoro bernama Mertoleksono," katanya. "Tapi karena logat Minahasa berubah menjadi Merkosono."

[fas]

KUMPULAN BERITA
# Kampung Jaton

JANGAN LEWATKAN BERITA
Follow tag merdeka.com akan membantu untuk mendapatkan berita yang sesuai preferensi Anda. Misal Anda suka berita Anas Urbaningrum, masukkan email dan Anda hanya akan menerima berita seputar Anas Urbaningrum.

Let's be smart, read the news in a new way.
Tutup
Kirim ke teman Kirim copy ke email saya
Kirim ke

Free Content

  • URL Blog

  • Contoh : merdeka.wordpress.com

  • Email

  • Password


saya setuju menggunakan konten merdeka.com dan mengetahui bahwa merdeka.com tidak menyimpan informasi login saya







Komentar Anda


Be Smart, Read More
Back to the top

Today #mTAG iREPORTER
LATEST UPDATE
  • Tessy nekad pakai narkoba karena frustasi sepi pekerjaan?
  • Pasang foto cowok ganteng, 2 WN nigeria tipu janda anak satu
  • Syuting di gunung, Pevita Pearce tetap lakukan perawatan
  • Politisi Golkar sebut anggota KIH bisa dipecat dari DPR
  • Pemprov DKI ancam tutup pengembang tawarkan reklamasi pulau
  • 5 Khasiat ajaib santan untuk kulit
  • Ini bahaya mimpi buruk untuk kesehatan
  • Dijenguk Doyok - Kadir - Nunung, Tessy terus menangis
  • Ical nilai DPR tandingan rusak demokrasi
  • Hadiri Muktamar PPP kubu SDA, Jimly ngaku ingin dorong islah
  • SHOW MORE