Wawancara Thomas D. (3)

Ilmu astronomi bisa tentukan awal bulan sesuai dalil rukyat

Reporter : Islahudin | Jumat, 27 Juli 2012 08:00




Ilmu astronomi bisa tentukan awal bulan sesuai dalil rukyat
Thomas Djamaludin, peneliti Lapan. (merdeka.com/Islahuddin)

Merdeka.com - Zaman sudah modern, demikian juga perkembangan ilmu pengetahuan, termasuk bidang astronomi, kian mutakhir. Sudah saatnya ilmuwan diberikan peran menentukan tiga haris besar Islam, yakni awal Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Apalagi, perdebatan para ahli hukum Islam tak kunjung mereda soal metode digunakan.

Bila dalil-dali sudah tidak mampu memecah kebuntuan. keterlibatan ilmuwan harus dipertimbangkan. Sejuah mana mereka bisa menemukan solusi? Berikut penjelasan peneliti dari Lapan, Thomas Djamaluddin, saat ditemui Islahuddin dari merdeka.com di kantornya, Rabu (25/7).

Dalam penentuan hari besar Islam sampai mana otoritas ahli fiqih dan ahli astronomi?

Mana kuat antara hisab dan rukyat, sampai sekarang tidak bisa dipersatukan. Itu otoritas ahli fiqih atau fuqaha. Tapi ketika sudah mengerucut antara hisab dan rukyat tidak harus dipertentangkan, bisa menggunakan hisab, tapi dari kriteria imkan rukyat atau visibilitas hilal. Nah di dalamnya otoritas ilmuwan itu masuk. Untuk menentukan visibilitas hilal itu bukan lagi otoritas fuqaha karena terkait seberapa atau apa saja syarat-syarat hilal itu teramati. Apa syarat-syarat penentuan disebut sebagai awal bulan. Itu syarat-syarat astronomis, harus didasarkan pada penelitian-penelitian ilmiah, seperti ilmu hisab juga.

Jadi otoritas fuqaha, ahli hukum Islam, sudah berhenti diperdebatan hisab dan rukyat, itu tidak akan pernah selesai. Sekarang hisab dan rukyat punya potensi bisa dipersatukan dengan hisab didasarkan pada kemungkinan dirukyat. Yang berperan disitu lebih banyak pada otoritas ilmuwannya. Ilmu astronomi mampu menentukan awal bulan sesuai dalil-dalil rukyat. Itu sudah masuk otoritas sains di dalamnya.

Hal itu belum dipahami bersama, tapi sebagian ormas sudah. Katakanlah Persatuan Islam (Persis). Persis mendasarkan dalil-dalil bolehnya hisab itu dalil fiqih. Tapi kemudian hisab itu bisa dilakukan kemudian menggunakan kriteria visibilitas hilal, maka Persis menanyakan pada astronom.

Persis mengundang saya untuk menjelaskan seperti apa dalam astronomi. Kemudian saya jelaskan, bedasarkan data-data internasional diusulkan beda tinggi matahari dan bulan bulan minimal 4 derajat, jarak bulan dan matahari minimal 6,4 derajat, itu menjadi pra-syarat hilal bisa teramati. Data itu kemudian dibahas di dewan hisbah yang membicarakan hukum, apakah tawaran astronom ini bisa diterapkan. Ternyata itu diterima.

Dalam internal Persis, ada dewan hisab dan rukyat menyerap informasi dari astronomi. Kemudian ditafsir dalam informasi bisa dipahami secara hukum dan disampaikan kepada Dewan Hisbah. Persis menggunakan kriteria imkanur rukyat astronomis. Otoritas saintis masuk ketika memberikan pertimbangan. Sampai mana batasan hilal bisa dirukyat. Sedangkan metode mana diambil itulah kewenangan fuqoha.

Kalau penanggalan Hijriah sering menimbulkan perdebatan, kenapa tidak mengikuti kalender Masehi saja?

Kalender Masehi juga sama pernah mengalami perbedaan dan kalender Masehi sudah berevolusi lebih dari dua ribu tahun. Sebenarnya sama saja dengan kalender Hijriah, tetap memiliki perbedaan. Kalender Masehi pernah mengalami perbedaan sangat tajam karena kriterianya berbeda.

Pada 1972 Inggris masih menggunakan kriteria Julius, sedangkan di Roma menggunakan Gregorius berdasarkan astronomi. Pada waktu itu perbedaan Natal 12 hari. Di Ingrris sudah Natal pada 25 Desember, tapi di hari yang sama di Roma masih 13 Desember. Tapi kemudian mereka bisa menyepakati perbedaan itu.

Inggris kemudian berbesar hati meninggalkan kriteria lama, mengikuti kriteria Gregorius. Perubahan kreteria itu menimbulkan gejolak di Inggris. Untuk melompat 12 hari itu bukan hal mudah. Mereka harus menghilangkan 11 hari dalam sistem kalendernya. Tapi itu kemudian bisa diselesaikan.

Masalah garis tanggal juga mengalami proses lama, sampai 1825 garis tanggal internasional baru disepakati. Dalam implementasinya, Rusia masih menggunakan kriteria Julius sampai kira-kira 1920-an. Kalau kalender Masehi itu sudah dianggap mapan karena tiga syarat sudah terpenuhi. Otoritas sudah ada, batas wilayah, dan kriteria sudah disepakati. Kalender Hijriah pun bisa, tidak harus mengikut kalender Masehi. Kalender Masehi pun dulu mengalami banyak masalah, tapi bisa diselesaikan bertahap.

Sistem kalender itu didasarkan pada sistem nilai yang mendasari. Untuk kegiatan-kegiatan bersifat ritual, penetuan hari itu sangat diperlukan dan paling cocok adalah kalender bulan. Dengan lunar kalender, pergantian hari bisa diikuti secara jelas dan penentuan harinya bisa lebih pasti. Misal sekarang 25 Juli, tidak ada tanda-tanda di alam bisa membedakan antara 25 Juli dengan 26 Juli, atau dengan 24 Juli sebelumnya. Tapi kalender bulan bisa.

Hindu menggunakan Hari Raya Nyepi berdasarkan bulan mati karena sebelum hari itu tidak ada bulan mati. Masih terlihat bulan sabit pada waktu pagi. Sesudah itu terlihat bulan sabit saat magrib. Jadi bulan mati itu sebagai penentu. Budha,untuk Hari Raya Waisak menggunakan purnama untuk penentu. Sedangkan kalender Cina, itu sama menggunakan bulan mati, hanya cina itu digabung dengan matahari sehingga tahun baru Cina atau Imlek sekitar Januari atau Februari karena gabungan dengan sonar atau matahari.

Umat Kristiani juga menggunakan kalender bulan untuk penentuan hari sifatnya ritual. Hari Raya Paskah berdasarkan hari minggu pertama sesudah 21 Maret selepas bulan purnama. Jadi Hari Paskah itu akan berganti tanggalnya tiap tahun dalam Kalender Masehi karena menyesuaikan bulan purnama. Berbeda dengan Natal. Itu bukan terkait ritual, lebih banyak ke arah seremonial dan Natal itu bukan diambil dari tradisi Kritiani, itu diambil dari tradisi pagan Eropa, kelahiran Dewa Matahari. Untuk hal-hal tertentu, Kristiani menggunakan bulan juga.

Artinya, standar penanggalan Islam, Hindu, Budha, memggunakan kalender bulan karena ritual-ritual bersifat hari lebih mudah ditentukan dengan bulan. Ada perbedaan di alam antara tanggal satu, tengah bulan, atau akhir bulan. Jadi tidak mungkin akan pindah ke kalender matahari karena semua agama menggunakan kalender bulan terkait hari ritual keagamaan.

Bagaimana dengan penyatuan kalender Islam sedunia?

Terkait kalender global, ini menjadi cita-cita bersama. Tetapi kalender itu bukan sekadar konsep, lebih penting adalah implementasinya. Implementasi mau tidak mau menyangkut kesepakatan dari otoritas-otoritas negara. Di tiap negara ada yang menentukan sistem kalender mereka. Saat membuat kalender akan berlaku secara global, maka dua hal utama harus dilakukan. Pertama, rumusan konsep. Dalam hal ini, banyak konsep ditawarkan. Kedua, ini paling sulit, menyepakati konsep mana akan diambil.

Konsep itu ada yang murni mendasarkan pada astronomi. Kalau murni pada astronomi itu bisa saja. Suatu wilayah yang sama garis bujurnya berbeda tanggal hijriahnya karena memang penampakan hilal, termasuk visibiltas hilal secara hisab memang berbeda. garis tanggalnya berbeda dengan garis matahari. Indonesia bisa saja berbeda dengan Malaysia kalau garis tanggalnya memisahkan Indonesia dengan Malaysia. Itu kalau murni Astronomi. Tapi dalam implementasinya, tentu garis tanggal astronomi bisa saja dibelok-belokkan, mengikuti kesepakatan.

Di regional Asia Tenggara, Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura sudah memiliki kesepakatan untuk menggunakan kriteria sama. Walau dalam implementasinya sering berbeda. Meski memiliki kriteria sama, yakni 2-3-8 itu. Tinggi bulan minimal dua derajat, jarak matahari dan bulan tiga derajat, dan umur bulan delapan jam. Seperti perbedaan dalam penentuan Idul Fitri 1432 lalu.

Indonesia mendasarkan jika kriteria dua derajat itu tidak terpenuhi, maka yang lain tidak terpenuhi, dan yang lain harus terpenuhi. Brunei Darussalam 2-3-8 dalam kalendernya, tetapi meraka tetap harus melakukan rukyat dalam keputusan awal dan akhir Ramadan. Malaysia menggunakan kriteria 2-3-8, tapi mendasarkan bisa pada salah satu itu. Pada waktu itu, Malaysia menganggap bulan sudah di atas delapan jam. Maka dianggap sudah masuk mendahului Indonesia, jadi kriteria sama, dalam implementasinya bisa saja berbeda.

Ini kalau kita menerapkan untuk kalender berlaku global. Itu kesepakatan harus diangkat ke tingkat global. Forum-forum semacam Organisasi Konferensi islam (OKI), bisa dijadikan perantara. Tapi pada prinsipnya kalau itu disepakati bisa saja.

[fas]
Kunjungi portal hao123 untuk akses internet aman dan nyaman

KUMPULAN BERITA
# Ramadan 2012

JANGAN LEWATKAN BERITA
Follow tag merdeka.com akan membantu untuk mendapatkan berita yang sesuai preferensi Anda. Misal Anda suka berita Anas Urbaningrum, masukkan email dan Anda hanya akan menerima berita seputar Anas Urbaningrum.

Let's be smart, read the news in a new way.
Tutup
Kirim ke teman Kirim copy ke email saya
Kirim ke

Free Content

  • URL Blog

  • Contoh : merdeka.wordpress.com

  • Email

  • Password


saya setuju menggunakan konten merdeka.com dan mengetahui bahwa merdeka.com tidak menyimpan informasi login saya






Komentar Anda


Be Smart, Read More
Back to the top

Today #mTAG
LATEST UPDATE
  • Aww, Syahrini digigit Kevin Julio
  • Salip truk, guru SMP di Medan tewas terlindas
  • Demi sidang, Jessica Iskandar tinggalkan anak yang sedang sakit
  • Trafo PLN di Solo meledak, 2 motor dan juru parkir terbakar
  • Di paripurna, loyalis SDA ngeluh Menkum HAM sahkan PPP kubu Romi
  • Agung Laksono tak mau disamakan kisruh Golkar dengan PPP
  • [Foto] Makin ganteng, Shia LaBeouf akhirnya cukur jenggot
  • Pegiat dan aktor Peru nikahi pohon untuk kedua kali
  • Diterjang banjir, truk pasir hanyut 500 meter di sungai Progo
  • Olahraga & dangdut bersama tak selesaikan konflik TNI dan Polri
  • SHOW MORE