Wawancara Jalaluddin R. (2)

Dakwah di televisi lebih banyak hiburan ketimbang isi

Reporter : Islahudin | Jumat, 3 Agustus 2012 08:00




Dakwah di televisi lebih banyak hiburan ketimbang isi
Jalaluddin Rakhmat. (merdeka.com/Imam Buhori)

Merdeka.com - Jalaluddin Rakhmat menilai acara televisi dalam Ramadan kali ini tidak banyak memberikan informasi pada penonton. Justru banyak mengandung unsur hiburan.

Dia membandingkan dengan program Ramadan di televisi Iran yang selain menghibur juga mementingkan isi. Bahkan dia mengutip ungkapan Qiroati, salah satu pengisi acara televisi di Iran, Kalau kalian bicara lima menit dan orang tidak tertawa, hentikan pembicaraan itu. Tapi jika kamu bicara setiap lima menit dan bisa membuat orang tertawa teruskan saja sampai kapan pun.

Berikut penuturan Jalaluddin kepada Islahuddin, Muhammad Taufik, dan juru foto Imam Buhori dari merdeka.com saat ditemui di sekretariat IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia) di Kemang, Jakarta Selatan, Jumat (27/7) malam.

Apakah hal ini hanya terjadi di Indonesia?

Gejala ini hanya saya lihat di Indonesia. Televisi Mesir menampilkan ustad beneran. Artinya orang-orang paham agama seperti lulusan dari Al Azhar (Universitas Al Azhar, Kairo). Tidak pernah muncul mubalig-mubalig lawak. Di malaysia, juga saya lihat tidak muncul mubalig-mubalig seperti itu. Di Malaysia yang muncul di televisi itu benar-benar dididik menjadi ustad.

Di Iran lucu. Di sana ada mubalig terkenal, Qiroati namanya. Dia juga seorang ayatullah. Tapi dia menyenangkan dalam pembicaraannya. Artinya menghibur juga. Jadi mirip-mirip Zainuddin MZ. Zainuddin berbeda dengan ustad-ustad sekarang ini, latar belakangnya pesantren dan materi ceramahnya ada isinya. Walau dia cukup menghibur tapi materi tidak terlalu dangkal.

Qiroati itu lulusan pesantren. Tapi dia punya prinsip bicara di televisi. Dia pernah memberikan nasihat, Kalau kalian bicara lima menit dan orang tidak tertawa, hentikan pembicaraan itu. Tapi jika kamu bicara setiap lima menit dan bisa membuat orang tertawa teruskan saja sampai kapan pun. Maksudnya, dia memasukkan unsur humor itu sebagai hiburan. Tapi hiburan itu tidak menjadi inti, hanya strategi supaya orang betah mendengarkan. Kalau orang mendengar Qiroati, pendengar itu membawa catatan. Kalau mengikuti pengajiannya sekian kali, pengetahuannya itu bertambah karena selalu ada hal-hal baru. Ada pelajarannya, dia punya kurikulum.

Jadi kalau ada penonton sudah mengikuti selama satu tahun berturut-turut, pengetahuannya berbeda dengan yang ikut belakangan. Di Indonesia tidak, kita ikut ustad di televisi yang sama, 2-3 tahun, pengetahuan kita itu-itu saja. Dari sini saya menemukan ada efek atap. Misal pengetahuan ustad itu sampai atap, para pendengar akan menyusul sampai pendengar itu sama pengetahuannya dengan ustad itu. Setelah itu akan berhenti sehingga pendengar sudah tahu kapan ustad itu akan bicara ini, humornya akan bisa ditebak, dan kadang bisa menebak pada bagian mana mereka harus tertawa. Sudah jadi satu paket, tidak ada yang baru.

Tapi kita senang itu, seperti halnya kita suka sebuah lagu, kita suka mengulang untuk mendengarkan. Walau kita sudah tahu ujungnya, tapi senang. Begitu juga pemirsa mendengar ceramah para ustad itu, sudah tahu yang akan dibicarakan, bakal ke sana arahnya, tapi tetap saja di dengar, tetap saja senang. Itu kita sebut budaya pop.

Apakah ini hanya tren atau kalau tidak ada yang protes akan berjalan seperti itu terus?

Pertama , di Indonesia itu tidak ada organisasi bisa kita sebut sebagai pemantau media. Media itu hampir tidak ada kontrol kecuali kontrol komersial. Hanya kontrol keuntungan, lainnya tidak ada. Dulu masih mendingan ada Departemen Penerangan. Sekarang sebagai institusi pemerintah, Kementerian Informatika lebih sibuk dengan masalah perizinan ketimbang memperhatikan konten. Mestinya sekarang ada suatu gerakan sosial. Tapi gerakan sosial itu juga mendukung munculnya budaya pop itu karena mubalig sudah muncul di televisi akan populer di tengah masyarakat.

Dalam kebudayaan modern, terutama pengaruh televisi, seseorang memilih produk karena orang mengenal produk itu bukan karena kualitasnya. Sama halnya dengan iklan menggunakan faktor-faktor pengulangan. Repetisi dalam iklan itu hanya untuk memperkenalkan saja.

Mubalig itu seringnya muncul di televisi akhirnya dia dikenal oleh orang. Di masyarakat pun mubalig-mubalig itu populer bukan karena isinya, tapi lantaran sering muncul. Misal kalau ada pengajian di suatu tempat dan menyebut Mamah Dedeh sebagai pembicaranya, ibu-ibu akan berdatangan menghadiri itu. Bukan karena kualitasnya, tapi karena dikenal. Salah satu ciri dari televisi itu, dia datang ke rumah kita, dia bersama dalam ruang-ruang pribadi kita. Jadi seakan-akan yang sering muncul di televisi dia adalah bagian dari keluarga kita. Jadi ketika mubalig itu sering muncul di televisi orang kebanyakan akan menganggap, Saya merasa kenal betul dengan orang itu.

Dari yang saya dengar, honor mubalig televisi naik lebih tinggi dari ustad-ustad biasa. Harganya tinggi. Itu benar-benar diatur oleh prinsip pemasaran, prinsip media elektronik bersifat komersial.

Tapi masyarakat mau mengundang dan membayar mahal?

Iya karena pengaruh pemasaran itu tadi.

Mungkin kritik saya ini iri karena tak mampu. Mungkin juga ustad-ustad lulusan Mesir itu akan melancarkan kritik seperti saya karena tidak mampu bersaing dalam pasaran media. Namun, orang-orang yang pengetahuan agamanya ada biasanya tidak akan tertarik dengan acara-acara semacam itu.

Bagaimana dengan media sering mengatasnamakan awam dan rating untuk setiap acaranya?

Media mendefinisikan sendiri makna awam itu sekehendak dia. Jadi akhirnya, efek dari media adalah pembentuk tren. Jadi dia ikut menentukan tren. Agama seperti ini akan diminati oleh orang awam. Padahal selera orang awam juga dia yang mengatur. Sekiranya dia meningkatkan seleranya, selera awam juga akan meningkat.

Dalam dunia komunikasi memang menjadi problem antara siaran publik untuk mencerahkan dan mendidik massa dengan siaran komersial dan dalam persaingannya siaran publik selalu kalah dengan siaran komersial. Sehingga kalau di Inggris, kelompok-kelompok masyarakat dengan bantuan negara membikin siaran publik. Misal BBC, tidak tunduk pada pengendalian perusahaan iklan. Di Amerika juga demikian untuk penyiaran publiknya, ada kerja sama antara masyarakat dan negara.

Kita punya TVRI tapi kayaknya tidak dapat dukungan dari masyarakat. Menurut saya, ulama yang perhatian dengan media televisi itu bersama-sama membuat gerakan sosial. Sehingga yang muncul di televisi itu secara selektif menampilkan orang-orang berkualitas. Sampai sekarang saya juga bingung, mengapa hal ini hanya terjadi di Indonesia.

[fas]

KUMPULAN BERITA
# Ramadan 2012

JANGAN LEWATKAN BERITA
Follow tag merdeka.com akan membantu untuk mendapatkan berita yang sesuai preferensi Anda. Misal Anda suka berita Anas Urbaningrum, masukkan email dan Anda hanya akan menerima berita seputar Anas Urbaningrum.

Let's be smart, read the news in a new way.
Tutup
Kirim ke teman Kirim copy ke email saya
Kirim ke

Free Content

  • URL Blog

  • Contoh : merdeka.wordpress.com

  • Email

  • Password


saya setuju menggunakan konten merdeka.com dan mengetahui bahwa merdeka.com tidak menyimpan informasi login saya






Komentar Anda


Smart people share this
Back to the top


Today #mTAG SPOTLIGHT iREPORTER
TOP 10 NEWS
LATEST UPDATE
  • Harga patokan mobil murah bakal direvisi
  • Istana: Komunikasi SBY dan Jokowi berjalan baik
  • Relawan Seknas Jokowi janji kritisi pemerintahan Jokowi-JK
  • Pesawat Aljazair Air hilang dari radar
  • Ini 5 smartphone Android murah untuk berfoto saat lebaran
  • Tinjau stasiun, SBY minta pemudik jaga keselamatan
  • Musuh Avengers di Age of Ultron bukan satu, tapi banyak!
  • Belum dapat hasil rekap, kubu Prabowo-Hatta sebut KPU lalai
  • SBY soal mudik: Kalau semua baik, Pak Jokowi pasti senang
  • Perintah penghapusan solar subsidi di Jakarta keluar lusa
  • SHOW MORE