Ribuan Masa Dari Aceh Tengah Dan Bener Meriah Melakukan Konvoi Menolak Qanun/Peraturan Mengeanail La

Kirim ke teman
  • Kirim copy ke email saya

Kirim ke


BACK 3/3 NEXT
{news_synopsis}

TAKENGEN: Takengon kabuapaten Aceh Tengah Sempat Lumpuh sampai dengan Pukul 14:00 Ribuan massa dari dua
kabupaten, Aceh Tengah dan Bener Meriah berkonvoi di jalan utama Takengen,
spontan ibu kota Aceh Tengah ini menjadi lautan merah putih,
Massa pembela NKRI ini yang tergabung dalam PETA, Laskar Merah
Putih, Patron, Mahasiswa dan masyarakat ikut meneriakkan yel-yel menolak qanun wali nanggroe, bendera dan lambang Aceh.
Selain membawa bendera merah putih, spanduk yang berisikan kecaman
terhadap qanun Aceh tentang bendera dan lambang, serta wali nanggroe, juga
membakar bendera bulan bintang yang dianggap mengganggu keamanan Aceh pasca MoU.

Sejak pagi massa Aceh Tengah terkonsentrasi di GOS Takengen,
sedangkan di Bener Meriah massa merah putih konsentrasi di Terminal Simpang
Balek. Setelah itu massa Bener Meriah merapat ke ibukota Aceh Tengah.
“ Gayo bukan Aceh, tetapi Gayo bagian NKRI. Kami cinta NKRI,
siapapun yang menantang NKRI akan menjadi lawan kami, kami siap angkat senjata dan berperang melawan separatis GAM ,” sebut Said, Panglima Perang PETA Aceh.

“ Bila pemerintah Aceh jeli dan tanggap dengan keadaan di daerah,
hal seperti ini tidak terjadi. Mengapa pemerintah dan DPRA tidak memanggil
seluruh elemen adat di Aceh, sehingga terakomodir seluruh elemen yang ada di Aceh, mengapa pemerintah Aceh berkehendak sendiri,” sebut Beni Alfakir, mantan dan simpatisan GAM.

Massa mulai berkonvoi sejak dari Bener Meriah, menuju kota
Takengen. Ruas jalan utama Takengen- Biruen ini dipadati atribut merah putih.
Massa yang menuju GOS Musara Alun ini, tidak bertindak anarkis.
Sesampainya di GOS massa juga mengambil bendera bintang bulan
sabit dan membakarnya, hal itu dijadikan simbol bahwa di wilayah ALA bendera
separatis tersebut ditolak.

“ Pemerintah Aceh dan DPRA telah membuat kesalahan  dan
melukai hati rakyat. Pasalnya, selain QWN yang tidak fair terhadap seluruh
etnis di Aceh, serta menghamburkan uang rakyat, kini disusul lambang dan
bendera Aceh, merupakan penjelmaan separatis GAM ,” sebutnya Iskandar roby dari elemen sipil Gayo.

Rakyat nantinya akan bertindak langsung jika ada pengibaran
bendera bulan bintang di bumi ALA.” Apabila ada upaya mengibarkan bulan bintang di tanah Gayo, maka akan dibakar ,” jelas Suryadi anggota PETA.
Pilar bangsa itu jelas, sebut Ketua Laskar Merah Putih Aceh
Tengah, Rizaly Hady, menambahkan keterangan di sela aksi massa ini. Lambang dan bendera Aceh sangat bertentangan dengan idiologi NKRI.

“Di Negara Indonesia hanya ada 4 pilar kebangsaan; UUD 1945,
Pancasila, NKRI dan merah putih. Penetapan Qanun no 3 tahun 2013 oleh DPRA dan pemerintah Aceh, berbau separatis, sangat bertolak belakang dengan 4 pilar dimaksud,” jelasnya.

Pengesahanan qanun tersebut merupakan suatu tanda, rendahnya
wawasan nusantara yang dimiliki pihak legeslatif dan ekskutif 
 Provinsi Aceh. Imbasnya memicu persoalan baru, menimbulkan pro dan kontra
di tengah kehidupan bermasyarakat di Aceh, sebut Rizaly.
Bendera bulan bintang yang telah sisahkan oleh pemerintahan Aceh yang saat ini menuai kontroversi dibakar oleh massa yang membela merah putih (NKRI), di depan Gedung Olah Seni, Takengen, Aceh Tengah.
Dibakarnya bendera yang mirip bendera separatis (GAM) tersebut adalah salah satu simbol penolakan terhadap paksaan kubu KPA/PA yang menguasai eksekutif dan legislativ di Aceh.

Para pejuang NKRI ini menolak bendera dan lambang Aceh, apalagi penggunaan lambang tersebut terkesan dipaksakan oleh Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf Cs untuk diterima seluruh rakyat yang tinggal di bumi Aceh.
” Kita bakar bendera simbol pemberontak ini, sebagai penolakan
terhadap bendera bulan bintang yang telah disahkan oleh para separatis-separatis yang menguasai Aceh. Kami rakyat ALA siap angkat senjata untuk ini ,” ungkap Cemerlang Jubir PETA Aceh dihadapan lautan massa merah putih yang melakukan aksi di dua Kabupaten, Aceh Tengah dan Bener Meriah,Masa juga Sepontan Meneriakan selogan Hidup ALA, Tidak menapikan bahwa sesunguhnya masyarakat enam kabupaten kota yang terdiri dari etnis gayo,Padang,Aceh,jawa batang dan etnis etnis lainya masih menginginkan lahirnya Provinsi baru provinsi Leuser Antara yang sudah 16 tahun di perjuangkan namun masih belum di sahkan oleh Presiden (Ilham Gayo)